Jakarta, 8 Agustus 2026 – Siang tadi, gedung Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) DKI Jakarta di Jalan Prapatan, Sawah Besar, luluh lantak dilahap si jago merah. Petugas pemadam kebakaran masih sibuk mendinginkan sisa-sisa kerangka bangunan, asap masih mengepul di beberapa sudut, dan peralatan kantor masih berserakan. Namun di tengah kepulan asap itu, Pemprov DKI sudah lebih dulu mengeluarkan pernyataan “Data Perpajakan Aman.”
Kontan saja pernyataan ini menimbulkan gelak tanya. Mereka yang paham teknis berpikir, “Mana mungkin data aman kalau server dan ruang penyimpanan ikut terbakar?” Sementara warga yang waras bertanya, “Apakah tidak lebih baik melakukan investigasi dulu sebelum berbicara?”
Alih-alih menyatakan force majeure atau mengakui kekeliruan, pernyataan “aman” itu terkesan seperti pelarian dari pertanggungjawaban. Bukannya turun ke lokasi dan menenangkan publik dengan data yang jujur, pejabat malah terburu-buru meyakinkan bahwa semua baik-baik saja. Publik cerdas, dan mereka hafal bahwa pernyataan “aman” seringkali menjadi pertanda pertama bahwa ada yang tidak aman.
Kontradiksi di Balik Asap
Yang menjadi perhatian adalah sikap “jangan khawatir” yang diucapkan sebelum tim forensik dan ahli IT selesai bekerja. Seorang pegawai Bapenda yang enggan disebut namanya berbisik, “Boro-boro data aman, dalam kepanikan, banyak yang lupa menyelamatkan data cadangan. Kami sendiri masih was-was.”
Pemprov DKI memang punya kewajiban untuk menenangkan publik. Tapi pernyataan “aman” tanpa dasar klaim yang kuat hanya akan menimbulkan lebih banyak tawa sinis. Rakyat tidak bodoh; mereka tahu gedung terbakar, dan mereka berhak bertanya, “Lalu bagaimana dengan data kami?”
Wajib Evaluasi Pejabat Asal Omong
Seharusnya, langkah yang diambil Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung adalah membentuk tim investigasi, memeriksa seluruh bukti, baru kemudian bicara kepada publik. Bukan malah memberi pengumuman dadakan yang lebih mirip pengalihan isu.
Gubernur wajib mengevaluasi bawahannya yang terlalu cepat bicara, memastikan bahwa komunikasi publik tidak dibuat dari asap belaka. Publik tidak butuh ucapan selamat yang prematur; mereka butuh fakta, transparansi, dan tindakan nyata.
“Jangan sampai pernyataan ‘aman’ ini malah membuat kami curiga sebaliknya. Kalau memang data aman, buktikan dengan audit independen, bukan dengan klaim sepihak,” kata seorang warga di sekitar lokasi.






