𝐁𝐢𝐝𝐚𝐧𝐠 𝐊𝐞𝐰𝐢𝐫𝐚𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 & 𝐄𝐤𝐨𝐧𝐨𝐦𝐢 𝐊𝐫𝐞𝐚𝐭𝐢𝐟 𝐊𝐎𝐇𝐀𝐓𝐈 𝐏𝐁 𝐇𝐌𝐈 S𝐨𝐫𝐨𝐭𝐢 𝐏𝐞𝐧𝐭𝐢𝐧𝐠𝐧𝐲𝐚 𝐔𝐌𝐊𝐌 B𝐚𝐠𝐢 𝐈𝐧𝐝𝐨𝐧𝐞𝐬𝐢𝐚

𝐁𝐢𝐝𝐚𝐧𝐠 𝐊𝐞𝐰𝐢𝐫𝐚𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 & 𝐄𝐤𝐨𝐧𝐨𝐦𝐢 𝐊𝐫𝐞𝐚𝐭𝐢𝐟 𝐊𝐎𝐇𝐀𝐓𝐈 𝐏𝐁 𝐇𝐌𝐈 S𝐨𝐫𝐨𝐭𝐢 𝐏𝐞𝐧𝐭𝐢𝐧𝐠𝐧𝐲𝐚 𝐔𝐌𝐊𝐌 B𝐚𝐠𝐢 𝐈𝐧𝐝𝐨𝐧𝐞𝐬𝐢𝐚

- in Ekonomi
255
0
tangkapan layar

Jakarta, Visioner.id – Pada usia ke-76 tahun Indonesia, sudah seharusnya produk- produk lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Tetapi pada kenyataannya, hingga saat ini para konsumen dalam negeri kita lebih banyak yang memilih untuk membeli produk impor. Oleh karena itu, dengan latar belakang tersebut Bidang Kewirausahaan dan Ekonomi Kreatif KOHATI PB HMI mengadakan “𝐊𝐄𝐊𝐫𝐚𝐟 𝐓𝐚𝐥𝐤” dengan tema “𝐌𝐞𝐫𝐝𝐞𝐤𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐔𝐌𝐊𝐌”. Kamis (19/08/2021).

“Jumlah produk-produk lokal Indonesia yang dihasilkan oleh para penggiat UMKM di Indonesia ada banyak sekali. Tetapi sayangnya seringkali eksistensi produk-produk yang mereka produksi masih kalah dengan produk-produk impor,” ujar Ketua Umum Kohati PB HMI, Umiroh Fauziah.

Umiroh menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi kurangnya eksistensi produk-produk UMKM, salah satunya adalah kurang masifnya pemanfaatan perkembangan teknologi yang ada.

“Oleh karena itu perlu adanya dukungan berupa pemberian pemahaman dan pengembangan skill terkait digitalisasi pasar bagi para penggiat UMKM yang ada Indonesia. Sehingga di Era Tranformasi Digital ini, produk UMKM akan bangkit dan unggul,” imbuh Umiroh.

Ketua Bidang Kewirausahaan dan Ekonomi Kreatif KOHATI PB HMI, Dini Yuliana Solin melihat bahwa selain pemberian pemahaman dan pelatihan pengembangan skill, pemberian bantuan dalam bentuk permodalan juga diperlukan oleh para penggiat UMKM.

“Untuk mensejahterakan UMKM yang jumlahnya jutaan, kita butuh banyak sekali cara untuk mengembangkannya. Memberikan bantuan dalam bentuk permodalan dan beberapa usaha lainnya sangat dapat membantu peningkatan UMKM di Indonesia,” ujar Kabid Kekraf Kohati PB HMI yang dikenal dengan sapaan Olin.

Olin juga menambahkan bahwa perlu adanya percepatan upaya pengembangan UMKM di Indonesia. Karena saat ini UMKM memiliki daya serap tenaga kerja yang besar, yaitu 97% dari daya serap tenaga kerja dunia usaha, termasuk di antaranya perempuan.

“Ketidak pastian yang muncul pada masa pandemi, menimbulkan semakin banyaknya pelaku UMKM perempuan yang menunjukkan eksistensinya,” imbuhnya.

Hal ini dibenarkan oleh Ir. H. Kamrussamad S.T., M.Si, Anggota Komisi XI DPR RI yang juga selaku Founder KAHMI Preneur. Ia juga optimis bahwa UMKM Indonesia akan terus berkembang.

“Hingga tahun 2020, sebanyak 65,46 juta UMKM Indonesia sudah berkontribusi sebesar 61% bagi PDB Indonesia. Sebanyak 116 juta tenaga kerja dapat terserap dalam UMKM. Sebanyak 14,3 juta diantaranya adalah perempuan,” ujar Kamrussamad.

Akan tetapi terdapat 3 (tiga) tantangan yang seringkali masih dihadapi oleh entrepreneur perempuan jelasnya.

“Ada tiga tantangan yang masih menjadi entrepreneur perempuan saat ini. Pertama, adanya ketidaksetaraan gender yang mengakibatkan sulitnya akses permodalan bagi perempuan. Kedua, tuntuan kemampuan dalam menyeimbangkan tanggung jawab dan terakhir yaitu pengambilan keputusan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kamrussamad menambahkan untuk menjadi womanpreneur yang sukses, harus memiliki visi jelas, dapat mengidentifikasi peluang pasar, memiliki passion kuat, percaya diri, berani untuk mengambil resiko yang sudah diperhitungkan secara matang, dan fokus kepada hasil.

Facebook Comments