VISIONER, Harga emas kembali mencatatkan pelemahan usai setelah Presiden AS Donald Trump meningkatkan ancaman untuk menghancurkan pembangkit listrik Iran.
Di sisi berseberangan, Teheran tak gentar dan belum menunjukkan tanda-tanda akan menerima tuntutan AS untuk mengakhiri perang di Timur Tengah, bahkan terus melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan tersebut.
Harga emas turun hingga 1,4% ke level di bawah US$4.610 per ons pada awal perdagangan, setelah sebelumnya turun 1,7% pada sesi sebelumnya. Dalam sebuah postingan di media sosial pada akhir pekan lalu, Trump mengatakan bahwa ia akan membawa “neraka” ke Iran jika negara itu tidak membuka Selat Hormuz.
Trump juga mengatakan ia berencana menggelar konferensi pers pada pukul 13.00 pada Senin dan mengunggah tentang batas waktu pukul 20.00 Waktu Timur pada Selasa, tanpa memberikan rincian apa pun mengenai maksudnya. Pada 26 Maret, presiden AS memberikan batas waktu 10 hari kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang akan berakhir pada Senin malam.
Harga emas telah turun lebih dari 12% sejak konflik dimulai pada akhir Februari, karena melonjaknya harga energi telah memicu kekhawatiran akan inflasi dan mengurangi prospek pemangkasan suku bunga yang biasanya menguntungkan logam mulia yang tidak menghasilkan imbal hasil.
Daya tarik emas sebagai aset safe haven juga memudar akibat kebutuhan investor untuk melikuidasi posisi mereka dan menutup kerugian di tempat lain. Harga minyak naik dan indeks saham berjangka AS turun pada hari Senin.
Harga emas spot turun 0,8% menjadi US$4.637,60/troy ons pada pukul 06.55 waktu Singapura. Perak turun 1,5% menjadi US$71,95. Platinum dan paladium juga mengalami penurunan. Indeks Bloomberg Dollar Spot, yang mengukur nilai mata uang AS, naik 0,1% setelah sesi sebelumnya ditutup naik 0,3%.






