(GagasanIndonesia.com, Surabaya) Komunitas Bibliopolis Book Review (BBR) kembali menggelar pertemuan ke 16 yang pelaksanaannya berbeda dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Bila sebelumnya waktu diskusi buku dihelat tiap Minggu malam, pertemuan kali ini dilaksanakan pada Kamis 30 April 2015 Jam 13.00 dan bertempat di Cafe Maqha Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
Pertemuan ke 16 ini seperti biasa dihadiri oleh kalangann aktivis Mahasiswa, yang mana pelaksanaannya bertujuan membangun kerangka berfikir, menumbuhkan kembali identitas dan karakter kebangsaannya melalui beberapa buku karya tokoh-tokoh bangsa yang telah berjuang di masa lalu.
Pada Pertemuan ke 16 buku “BERJUANG DAN DIBUANG” karya Mohammad Hatta menjadi objek kajian yang dibedah. Buku ini adalah buku kedua dari tiga buku yang mengisahkan perjalanan Hatta dari Bukit Tinggi hingga perjuangannya mengantarkan Indonesia menuju gerbang kemerdekaan.
Buku kedua ini berkisah perjalanan beliau setelah menempuh pendidikan dari belanda dan kembali ke Indonesia serta ikut menyiapkan perjuangan menuju Indonesia Merdeka. Lewat berbagai tulisannya, didikan serta diskusi yang dihelat oleh Pendidikan Nasional Indonesia, organisasi yang digagasnya, Hatta kemudian menjadi sosok yang paling diincar oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Karena gerakannya yang begitu masif inilah membuat Hatta akhirnya ditahan dan diasingkan oleh pemerintah Hindia-Belanda. Tanah Merah, Boven Digul hingga Banda Neira adalah beberapa tempat yang menjadi lokasi pembuangan tokoh yang dikenal karena kesedrhanaannya ini.
Ada hal menarik dari buku ini yaitu ketika beliau memaparkan bagaimana kewajiban anggota dalam sebuah organisasi pergerakan. Hatta mengatakan dalam buku ini “Anggota harus tahu apa sebab dia bergabung dengan pergerakannya. Jikalau anggota itu sudah bergabung dalam pergerakan, maka dia harus tahu bagaimana isi dari statuten (Anggaran Dasar) perkumpulannya dan dia harus tahu bagaimana pokok poliitik organisasinya. Kalau pergerakan hanya pergerakan pemimpinnya saja, dan anggota-anggota tidak turut bekerja memikul beban, pergerakan itu tidak akan mencapai tujuannya”,tutur Azmi Pane,pereview buku Hatta kali ini.
Aktivis asal Pamekasan itu juga menambahkan suasana dan kondisi Hatta kala belajar di negeri Seberang, Belanda. Kecintaannya pada buku, membuat Hatta kebingungan kala hendak pulang ke tanah air.
“Bagaimana tidak bingung, ada sekitar 2 Meter Kubik buku yang dimuat dalam 16 peti besi setengah meter kubik. Hitung sudah berapa banyak jadinya buku yang harus Hatta bawa pulang”,ujarnya sebelum mengakhiri pemaparan terhadap hasil bacaannya.(Hisbah)

