Surabaya-Gagasanindonsia.com, Minggu 31 Mei 2015 kembali dilaksanakan #TadarrusBiblio yang ke-21 oleh Bibliopolis Book Review (BBR), seperti biasa tempat pelaksanaannya di Angkringan 57 Jalan Jemurwonosari Lebar Wonocolo Surabaya.
#TadarrusBiblio kali ini mendiskusikan buku karyanya Muhammad Natsir yang berjudul ‘Islam sebagai Dasar Negara’ dengan pereview Hisbah Al-Kostar. Diskusi yang dimulai sejak pukul 20.15 – 22.30 WIB tersebut dibagi menjadi dua sesi, pertama review buku oleh reviewer dan kedua adalah diskusi buku.
“Buku ini berisi tentang sekilas perjalanan Natsir kecil yang lahir di Alahan Panjang Sumatera Barat, pada 17 Juli 1880 yang pernah bersekolah di sekolah rakyat di Meninjau Sumatera yang kemudian pindah ke beberapa sekolah lain. Kemudian buku ini berbicara tentang pemikiran beliau mengenai Islam sebagai Dasar Negara dan Sekularisme”. Papar Pereview saat mempresentasikan hasil bacaannya di depan peserta #TadarrusBiblio kemaren.
Hisbah menambahkan bahwa “Pemikiran Natsir tentang Islam sebagai Dasar Negara bukanlah seperti pandangan kita selama ini, bahwa islam bukanlah akan menggantikan pancasila, namun Natsir berpandangan bahwa Islam hanya akan menjadi paham yang akan menfasirkan pancasila yang telah menjadi dasar negara kita sampai saat ini”.
“Bahwa Sekularisme menurut Natsir adalah suatu paham hidup yang mengandung paham, tujuan dan sikap hanya dalam batas hidup keduniawian, sekularisme tanpa agama, itu tidak dapat memberikan pandangan hidup, baik bagi antar perorangan ataupun bagi suatu bangsa, dan masyarakat indonesia sudah hidup dalam sekularisme yang kuat. ” tambah aktifis asal pamekasan tersebut dalam pemaparannya.
Setelah pemaparan oleh reviewer selesai, #TadarrusBiblio dilanjutkan dengan diskusi yang dipimpin oleh moderator yakni Koordinator Bibliopolis Book Review Surabaya.
Mendapat kesempatan pertama untuk menyampikan pendapatnya dalam #TadarrusBiblio kali ini adalah Rosy, aktifis asal Sumenep itu menyampaikan “Mendengar penjelasan dari pereview barusan, saya melihat Natsir setengah-setengah dalam mengusung Islam sebagai Dasar Negara yang beliau maksudkan dalam bukunya ini, terbukti dengan apa yang beliau lakukan selama dia di Masyumi, dan hal ini merupakan tipuan yang kasat mata terhadap agama-agama lain karena mengabaikan selain agama islam.”
Kemudian penyampaian kedua oleh Karim salah satu aktifis asal pamekasan juga, dia menyampikan bahwa “ ada tiga alasan atas pemikiran Natsir tersebut, alasan pertama bahwa islam sebagai agama holistik, kedua Islam sebagai ideologi yang mendunia, dan ketiga bahwa islam sebagai agama yang mayoritas. Karena tiga alasan itulah Natsir ingin agar Islam menjadi dasar Negara” tandasnya.
Begitulah kondisi Diskusi #TadarrusBiblio kali ini, tidak hanya diskusi namun juga terjadi pro dan kontra terhadap pemikiran Natsir ini, tidak hanya pemikirannya namun juga sikap Natsir yang juga diperdebatkan.
Dan sebelum diskusi ditutup, Koordinator Bibliopolis Book Review sekaligus moderator pada #TadarrusBiblio ke 21 ini menyampaikan bahwa pertemuan-pertemuan selanjutnya akan kembali mengkaji buku-buku pemikiran Soekarno yang bertepatan dengan momentum bulan bung karno di bulan juni ini. (Azmi)

