
Surabaya, Gagasanindonsia.com- Meksi bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, Bibliopolis Book Review (BBR) tetap melaksanakan #TadarrusBiblionya. Berbeda dengan hari-hari biasa, #TadarrusBiblio pertemuan yang ke 24 ini dilaksanakan hari ini (Selasa,23/06/2015) di Taman Ilmu Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya pada jam 15.30 WIB. mengambil waktu sore hari karena akan dilanjutkan dengan buka bersama setelah diskusi.
“Selama bulan ramadhan ini, #TadarrusBiblio tetap berjalan seperti biasa hanya tempat dan waktunya yang diganti menjadi sore hari karena sekalian buka bersama setelah diskusi”. Ungkap Koordinator BBR Muhammad Shofa As-Syadzili kepada tim liputan gagasanindonesia.com.
#TadarrusBiblio yang ke 24 ini merupakan rangkaian diskusi dari pertemuan sebelumnya yang membahas tentang buku karya sukarno, pada pertemuan kali ini mereview tentang RE-SO-PIM (Revolusi-Sosialisme Indonesia-Pimpinan Nasional) dengan pereview Azmi Pane Aktifis asal Pamekasan.
Seperti biasa #TadasrrusBiblio ke 24 ini dimulai dengan presentasi oleh pereview buku serta dilanjutkan dengan diskusi yang dimoderatori oleh Hisbah Al-Kostar yang juga Aktifis asal Pamekasan.
Pemimpin menurut Sukarno harus mampu menjadi pelayan Rakyat, menjawab kebutuhan Rakyat serta pemimpin harus tahu kemana arah kepemimpinannya akan berjalan, kepemimpinannya harus berdasar pada UUD 1945.
Dalam Pemaparan Azmi disebutkan bahwa “RE-SO-PIM adalah judul pidato Sukarno saat pidato memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan di Istana Merdeka Jakarta pada 17 Agustus 1961 yang merupakan peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan yang 16. Dalam pidato yang diberi judul RE-SO-PIM ini, ada beberapa hal yang bisa kita renungi kembali pada saat ini. Tandas azmi saat menyampaikan hasil bacaannya di depan peserta #TadarrusBiblio
“Dalam pidatonya tersebut Sukarno memaparkan makna pentingnya Proklamasi Kemerdekaan dan UUD 1945, selain itu, Sukarno juga menyampaikan bahwa Proklamasi kemerdekaan merupakan Proclamation of Independence, sedangkan UUD 1945 merupakan Declaration of Independence”.
“Selain itu Sukarno juga menyebutkan dalam pidatonya bahwa kita semua terutama para pemimpin, baik itu pemimpin-pemimpin kecil maupun pemimpin-pemimpin yang berkaliber gembong, pemimpin-pemimpin di daerah maupun pemimpin-pemimpin di ibu-kota, pemimpin-pemimpin partai, organisasi karya, Angkatan Bersenjata, pemimpin-pemimpin pemuda dan pemudi, pemimpin-pemimpin wanita, dan pemimpin setingkat menteri pun, supaya menyadari semangat dan arti pentingnya proklamasi. Sebab kesadaran inilah yang merupakan sumber utama untuk bisa melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat, serta dapat menghindari dan menghantam penyelewengan-penyelewengan baik dalam bentuk besar ataupun dalam bentuk kecil yang selama ini sering terjadi”. Tambah Azmi dalam pemaparannya pada #TadasrrusBiblio.
“Kemudian Sukarno menyebutkan bahwa alat revolusi Perjuangan Indonesia hari ini semakin lengkap, pertama Revolusi, kedua Konsepsi Nasional Progresif ( UUD 1945 + Manipol/USDEK), dan yang ketiga Pimpinan Revolusi” tambah azmi dalam pemaparannya.
Setelah azmi memaparkan hasil bacaannya, seperti biasa dilanjutkan dengan diskusi terkait dengan pemikiran sukarno yang ada di dalam bukunya itu dan mengkontekstualkan kondisi saat ini, setelah diskusi selesai barulah dilanjutkan dengan buka bersama. (Andre)
