Istanbul, IndonesiaVisioner- Jumlah wisatawan Barat yang datang ke Turki mengalami penurunan drastis karena negeri itu terus menerus diserang oleh anggota jihad Negara Islam (NI) dan pemberontak Kurdi sejak Juli lalu.
Menurut perkiraan analis Finansbank Turki Inan Demir, pendapatan pariwisata merosot US$17 miliar di 2016, turun dari US$ 21 miliar di 2015, sekitar 3% dari produk domestik bruto (PDB), sehingga memperburuk defisit neraca berjalan Turki yang sudah terbuka lebar dan menaikkan angka pengangguran lebih dari 10%.
Sedangkan jumlah kedatangan pengunjung asing pada Januari sudah turun 20% year-on-year (yoy).
Kepenatan yang dialami industri pariwisata semakin memburuk ketika Turki menembak jatuh pesawat jet Rusia di perbatasannya dengan Suriah pada November, sehingga nyaris menghentikan arus masuk wisatawan Rusia yang penting setiap tahunnya.
Menurut Hikmet Eraslan, chairman jaringan hotel kelas atas Dosso Dossi di Istanbul, dirinya terpaksa menurunkan harga kamar sampai separuhnya untuk menarik para pengunjung.
“Kami harus membiarkan orang-orang mengurangi biaya. Apa lagi yang bisa Anda lakukan? Kami harus bertahan hidup,” kata Eraslan kepada AFP, Minggu (27/3).
Di sisi lain, hotel Golden Age yang belum lama ini direnovasi – terletak hanya beberapa menit berjalan kaki dari lokasi ledakan yang terjadi Sabtu (26/3) – harus berjuang untuk memenuhi 180 kamarnya. Bahkan, pekan ini kamar-kamar hotelnya hanya diisi setengah, terutama oleh warga Iran yang merayakan Tahun Baru Persia.
“General manager kami baru saja kembali dari Berlin – Pameran Dagang Pariwisata Internasional (ITTF). Dia mengatakan tidak ada yang ingin datang ke Turki,” ujar salah seorang karyawan hotel.
Sedangkan di sisi investor asing, Demir menyebutkan, mereka harus lebih berjuang untuk datang ke Turki baik secara fisik mapun dari segi alokasi portfolio mereka. Dia memperkirakan akan ada kejutan yang sangat merugikan bagi perekonomian Turki.
(Jasn)






