VISIONER, Harga minyak dunia menguat selama lima hari berturut-turut setelah ancaman dan unggahan tajam Donald Trump di media sosial dinilai menghambat prospek kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak melampaui US$96 per barel, sementara Brent ditutup mendekati US$105pada perdagangan Kamis (23/4). Secara akumulatif, harga minyak telah melesat sekitar 16% sepanjang pekan ini. Menurut dua pejabat AS yang mengetahui masalah ini, unggahan Trump di platform Truth Social—serta keputusannya untuk melanjutkan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran—telah berdampak buruk pada negosiasi yang tengah berlangsung melalui mediator seperti Pakistan.
Perang yang meletus sejak akhir Februari ini terus mengguncang pasar energi global. Penutupan hampir total Selat Hormuz memicu penurunan drastis aliran pasokan dari produsen minyak dan gas utama di Teluk Persia. Kekhawatiran baru bahwa pembicaraan damai mengalami kebuntuan, ditambah dengan retorika yang memanas serta meningkatnya ancaman militer, kembali mendorong premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.
“Ketegangan kini semakin meningkat—pasar saat ini mulai memperhitungkan kebuntuan yang lebih intens dengan durasi yang lebih lama,” ujar Dennis Kissler, Wakil Presiden Senior perdagangan di BOK Financial Securities Inc.





