VISIONER, Harapan untuk membawa Iran kembali ke meja perundingan damai tatap muka dengan Amerika Serikat (AS) kini terancam kandas. Sejumlah pejabat yang memahami upaya diplomatik tersebut mengungkapkan bahwa ancaman dan unggahan agresif Donald Trump di media sosial menjadi faktor utama yang menghambat proses tersebut.
Menurut dua pejabat AS, rangkaian unggahan Trump di platform Truth Social, ditambah keputusannya untuk mempertahankan blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Iran, telah berdampak buruk bagi negosiasi yang sedang dimediasi oleh pihak ketiga seperti Pakistan.
Situasi kian memanas setelah para perunding Iran menyebut narasi Trump—termasuk ancaman untuk “meledakkan seluruh negeri” dan mengirim Iran “kembali ke Zaman Batu”—sebagai upaya untuk mempermalukan para pemimpin Teheran. Seorang pejabat Iran dan seorang diplomat Arab menyatakan bahwa retorika tersebut membuat pihak Teheran semakin enggan untuk mencapai kesepakatan.
Kedua pihak telah memulai gencatan senjata sejak dua minggu lalu. Namun, mereka masih dalam kebuntutan terkait langkah menuju perundingan untuk mengakhiri konflik yang telah menelan ribuan korban jiwa, memicu kekacauan di Timur Tengah dan melambungkan harga energi global.
Harga minyak mentah Brent melonjak ke kisaran US$105 per barel pada Kamis seiring meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz. Di saat yang sama, militer AS melaporkan pasukannya telah menaiki sebuah supertanker di Samudra Hindia yang membawa minyak dari Iran, sementara Teheran membalas dengan melepaskan tembakan ke arah kapal komersial dan menyita dua kapal lainnya pada Rabu lalu.
Pesan publik dari Presiden AS, menurut para pejabat tersebut, menjadi faktor kunci kebuntuan. Dalam satu hari terakhir, hanya sedikit kemajuan yang tercapai, ujar seorang diplomat Eropa yang berkomunikasi dengan negosiator Iran.
Seorang juru bicara Gedung Putih mengatakan Trump tidak berupaya menjaga perasaan para pemimpin Iran. Ia menegaskan presiden serius dalam merundingkan kesepakatan yang dapat menjamin keamanan nasional jangka panjang AS.
Pada 7 April, sesaat sebelum gencatan senjata dimulai, Trump mengatakan “sebuah peradaban akan mati malam ini, dan tak akan pernah kembali.” Gedung Putih menyebut bahasa keras tersebut justru membantu mendorong Iran menyetujui gencatan senjata.
Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata pada Senin, setelah Iran menolak mengirim delegasi ke Islamabad untuk putaran kedua perundingan. Putaran pertama, yang juga digelar di Pakistan pada pertengahan April, berakhir tanpa kesepakatan.
Wakil Presiden JD Vance dijadwalkan kembali memimpin tim AS dalam perundingan pekan ini dan siap terbang ke Islamabad sebelum akhirnya dibatalkan. Jared Kushner, menantu Trump, serta utusan khusus Steve Witkoff juga direncanakan bergabung.
Sejumlah unggahan Trump memicu respons keras dari pihak Iran. Ketua Parlemen sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebutnya sebagai “perang media dan rekayasa opini publik.”
Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu menyatakan negaranya terbuka untuk dialog dengan AS, namun menegaskan bahwa “blokade dan ancaman menjadi hambatan utama bagi negosiasi yang sesungguhnya.”
Sebagian penasihat Trump ingin memperpanjang blokade, dengan alasan Iran hanya tinggal beberapa pekan dari kondisi terhenti operasional karena tidak mampu mengekspor minyak dalam volume normal, kata pejabat AS. Hal ini dinilai dapat memberikan tekanan ekonomi signifikan dan memaksa konsesi lebih besar. Dalam pandangan mereka, unggahan Trump di media sosial berfungsi untuk “mengulur waktu.”
Trump sendiri mengindikasikan kesepakatan dengan pendekatan tersebut dan menegaskan ia tidak berada di bawah tekanan untuk mencapai kesepakatan.
“Anda tahu siapa yang berada di bawah tekanan waktu? Mereka, karena jika mereka tidak bisa menyalurkan minyaknya, seluruh infrastruktur minyak mereka akan runtuh,” kata Trump kepada wartawan di Oval Office. “Anda tahu artinya—karena mereka tidak punya tempat untuk menyimpannya, dan jika harus dihentikan.”
Namun, kelompok lain di lingkaran Trump menilai momentum untuk mencari jalan keluar justru ada saat ini. Mereka memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berisiko memperdalam tekanan ekonomi domestik, yang dapat berdampak pada pemilu paruh waktu November mendatang. Menurut kelompok ini, retorika presiden berpotensi menggagalkan kemajuan yang telah dicapai dalam negosiasi antara AS dan Iran untuk membatasi program nuklir Iran dan membuka kembali jalur pelayaran penting tersebut dengan imbalan pelonggaran sanksi.
Tim keamanan nasional presiden disebut sepenuhnya sepakat untuk memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir, menurut juru bicara Gedung Putih, yang menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan Trump.
Meski presiden menyatakan tidak terburu-buru dan blokade telah menekan ekonomi Iran dengan menghambat ekspor minyak, tekanan terhadapnya meningkat untuk menurunkan harga bahan bakar di dalam negeri. Lonjakan harga dipicu oleh penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, yang memicu kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global.
Menurut pejabat Arab, Iran menginginkan kesepakatan yang mencakup berbagai isu lama seperti sanksi, serta program nuklir dan misilnya.
Teheran juga menginginkan jaminan tidak akan diserang kembali dan semacam kendali formal atas lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Namun, AS dan Israel memberi sinyal tidak akan menerima tuntutan tersebut.
Meski demikian, terdapat kemungkinan Washington dan Teheran mencapai kesepakatan sementara untuk membuka kembali selat dan mengakhiri blokade AS, sementara isu-isu lain diselesaikan dalam negosiasi lanjutan. Sejumlah pemimpin Arab Teluk dan Eropa menilai pembahasan isu yang lebih luas dapat memakan waktu setidaknya enam bulan, menurut laporan Bloomberg pekan lalu.
“Gaya komunikasi Trump justru melemahkan posisinya sendiri dalam mendorong diplomasi,” kata Alex Vatanka, peneliti senior spesialis Iran di Middle East Institute. “Dalam kasus rezim Iran, pendekatan yang efektif adalah yang tenang, tidak terbuka di media, dan tidak menyerang pemimpin Iran melalui media sosial.”





