Kinerja Satgas Hilirisasi Berbuah Manis, Indonesia Kuasai 41 Persen Nikel Olahan Dunia

Jakarta, 29 September 2026 – Kinerja Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi di bawah kepemimpinan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menuai hasil signifikan. Indonesia kini menguasai sekitar 41 persen pangsa pasar produksi nikel olahan dunia, menggeser posisi China sebagai produsen terbesar global.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai capaian ini sebagai buah dari konsistensi kebijakan hilirisasi yang dijalankan pemerintah. “Peningkatan pangsa pasar nikel olahan Indonesia menunjukkan kebijakan larangan ekspor bijih berhasil menarik investasi smelter sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri. Indonesia juga telah berubah dari pengekspor bijih menjadi pusat produksi olahan,” ujar Yusuf dalam keterangannya, Senin (28/9/2026).

Lompatan 60 Kali Lipat dalam Satu Dekade

Transformasi industri nikel nasional terbilang dramatis. Berdasarkan data Our World in Data yang mengacu pada British Geological Survey, produksi nikel olahan Indonesia melonjak lebih dari 60 kali lipat—dari sekitar 22.000 ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada 2023.

Pangsa produksi nasional yang sebelumnya hanya sekitar 1 persen kini melesat menjadi 41 persen dari total produksi dunia. Indonesia bahkan telah melampaui China sejak 2021 dan kini jauh di depan, mengungguli Rusia, Jepang, hingga Kanada.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution, Ronny P. Sasmita, menyebut hilirisasi telah menghasilkan transformasi struktural nyata. “Jika parameternya adalah kemampuan mengubah bijih menjadi produk olahan di dalam negeri, hilirisasi jelas menghasilkan transformasi struktural,” tegasnya.

Dampak Ekonomi yang Terukur

Keberhasilan hilirisasi nikel tercermin dari realisasi investasi yang besar. Sepanjang 2025, investasi di sektor hilirisasi mencapai Rp 584,1 triliun. Pada semester I 2026 saja, investasi hilirisasi telah menembus Rp 300,1 triliun atau sekitar 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional.

Masuknya modal tersebut menciptakan efek berganda berupa pembangunan kapasitas industri, penciptaan lapangan pekerjaan, peningkatan nilai ekspor, serta penguatan basis manufaktur nasional. Nilai ekspor nikel Indonesia pun melonjak dari hanya USD 3,3 miliar pada 2018-2019 menjadi USD 34 miliar pada 2024.

Tantangan di Balik Dominasi

Meski menguasai pangsa produksi global, Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Laporan Badan Energi Internasional (IEA) mencatat bahwa sebagian besar kepemilikan aset smelter dan pemurnian nikel di Indonesia masih dikuasai perusahaan asal China.

Yusuf mengingatkan bahwa pangsa 41 persen baru menjadi kekuatan ekonomi jika Indonesia mampu menguasai teknologi, memperluas pasar, menjaga harga, dan mempertahankan lebih banyak nilai tambah di dalam negeri. “Pangsa 41 persen merupakan modal tawar yang besar, tetapi baru menjadi kekuatan ekonomi jika Indonesia menguasai teknologi, memperluas pembeli, menjaga harga, dan mempertahankan lebih banyak nilai tambah di dalam negeri,” ujarnya.

Pemerintah saat ini tengah mengarahkan hilirisasi nikel tidak berhenti pada pembangunan smelter, tetapi berlanjut ke produk bernilai tambah yang mendukung pengembangan ekosistem baterai dalam negeri. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan fokus ke depan adalah pengembangan precursor, katoda, hingga ekosistem baterai untuk memenuhi kebutuhan sektor otomotif dan energi baru terbarukan.

Pengendalian Produksi untuk Stabilitas Harga

Langkah Menteri Bahlil dalam menata produksi nikel melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dinilai krusial untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan. Pengendalian volume produksi dapat mengerek harga nikel dunia sekaligus mengoptimalkan penerimaan negara.

“Pengurangan volume dapat meningkatkan penerimaan negara jika mampu mengangkat harga, tetapi kuota tidak boleh terlalu ketat hingga smelter kekurangan bahan baku,” ujar Yusuf.

Bahlil sebelumnya menegaskan bahwa penataan RKAB mulai menunjukkan dampak positif. “Harga nikel sekarang mulai tidak lagi dipermainkan secara leluasa oleh oknum-oknum tertentu. Inilah sebenarnya tujuan kita,” katanya.

Babak Kedua: Deep Industrialization

Para ekonom mendorong pemerintah melangkah ke tahap deep industrialization—pengembangan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL), produksi nikel sulfat, precursor, cathode active material, hingga daur ulang dan industri baterai. Dengan langkah ini, Indonesia tidak hanya dominan dari sisi produksi, tetapi juga semakin kuat dalam penguasaan teknologi dan nilai tambah.

“Gelar ‘raja nikel’ baru merupakan babak pertama. Babak keduanya jauh lebih penting: apakah Indonesia hanya menjadi negara dengan produksi nikel terbesar, atau benar-benar menjadi negara yang paling besar menikmati nilai ekonomi, teknologi, dan kekuatan industri dari nikelnya,” pungkas Ronny.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terkait

Terbaru