
Jakarta — Komitmen Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam melestarikan budaya nasional kembali mendapat perhatian publik. Kali ini datang dari Ketua Umum Kaukus Muda Indonesia (KMI), Edi Homaidi, yang menilai langkah Polri menjaga eksistensi wayang kulit merupakan bentuk nyata institusi negara dalam mengamankan jati diri kebangsaan di tengah derasnya arus globalisasi.
Dalam beberapa tahun terakhir, Polri secara konsisten menyelenggarakan pagelaran budaya, termasuk pertunjukan wayang kulit yang melibatkan dalang-dalang nasional dan tokoh masyarakat. Pagelaran tersebut tidak hanya berlangsung di pusat, tetapi juga menjangkau wilayah-wilayah daerah dengan dukungan dari berbagai satuan kewilayahan Polri.
“Di saat banyak aktor politik dan institusi publik sibuk membangun pencitraan digital, Polri justru kembali ke akar: menjaga denyut budaya. Ini bukan sekadar pertunjukan, tapi pernyataan sikap bahwa keamanan bangsa juga bersandar pada kekuatan nilai,” ujar Edi Homaidi dalam keterangannya, Sabtu (5/7).
Menurut KMI, upaya pelestarian seperti ini tidak bisa dibaca hanya sebagai agenda kesenian rutin. Ia merupakan penanda bahwa institusi keamanan memegang peran kultural sebagai penjaga memori kolektif bangsa. Dalam konteks ketahanan nasional, pengabaian terhadap warisan budaya justru memperlemah kohesi sosial dan mengikis identitas generasi muda.
“Kami di KMI melihat, pagelaran wayang kulit ini menjadi simbol bahwa negara bisa hadir dengan wajah yang menyejukkan—lewat lakon, falsafah, dan satire yang disampaikan melalui bahasa rakyat. Ini ruang yang seharusnya diperluas,” lanjut Edi.
KMI menilai langkah Polri patut dijadikan contoh oleh institusi negara lainnya, termasuk kementerian dan lembaga pendidikan. Ia juga mendorong adanya kolaborasi lintas sektor antara Polri, komunitas seni tradisional, organisasi kepemudaan, dan kampus-kampus untuk menjadikan kebudayaan sebagai alat pemersatu sekaligus ruang edukasi publik.
“Wayang adalah narasi kolektif kita sebagai bangsa. Ketika Polri memuliakannya, artinya Polri tidak sekadar menjaga ketertiban, tapi juga merawat keindonesiaan. Inilah bentuk keamanan yang lebih dalam: menjaga ingatan dan arah,” ujar Edi dalam pernyataan tertulis.
KMI juga menyambut baik apresiasi dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi terhadap langkah Polri ini. Menurut Edi, pengakuan kementerian menjadi pintu masuk untuk memperkuat regulasi dan dukungan anggaran terhadap pelestarian budaya yang dilakukan oleh berbagai unsur pemerintahan, termasuk aparat penegak hukum.
Di tengah kekhawatiran terhadap lunturnya nilai-nilai kebangsaan di kalangan muda, Polri disebut telah mengambil posisi penting sebagai penjaga identitas. Keterlibatan lembaga negara dalam panggung budaya dianggap sebagai langkah progresif yang perlu direplikasi di sektor-sektor lain.
“Kami percaya, bangsa ini tidak hanya butuh pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan jiwa. Melalui pentas wayang, Polri sedang menyampaikan pesan penting: bahwa kekuatan sejati bangsa bukan pada kekuasaan, tapi pada kearifan,” tutup Edi.





