*Oleh Ach. Firdaus Asyik
Tiada pengembara yang tak merindukan sebuah rumah, bahkan jika rumahnya hanya ada di balik iklan yang ia baca di perjalanan. Tiada rumah yang tak merindukan seorang ibu yang murah berkah bahkan jika ibu tinggal ada di bingkai foto yang mulai kusam. (Joko Pinurbo, Dalam “Tiada” 2003.)
“Lebih baik di sini, rumah kita sendiri, segala nikmat dan anugerah yang Kuasa semuanya: ada di sini”. Begitulah Akhmad Albar menyanyikan lirik lagunya, kendati hanya dari bilik bambu tanpa hiasan tanpa lukisan, ia tetaplah memilih rumah di desa sebagai tempat tinggal paling nyaman, hijau nan permai, guyub solider penuh kebersamaan.
Berbincang soal rumah dan kepulangan rupanya sudah menjadi ritual tahunan yang khidmat saat menjelang akhir bulan ramadhan yang mungkin tak akan pernah hilang dan sepi dari keriuhannya itu adalah mudik. “Sebab kepulangan adalah perihal yang azali dalam hidup, seprestisius dan sedigdaya apapun dirimu bila tidak mudik kamu tetaplah ketiadaan”.
Berasal dari kata “dha’a” yang berarti kehilangan, maka “mudhi'” berarti “orang yang kehilangan”, baik kehilangan harta benda seperti dompet, hand phoone, motor, mungkin juga kehilangan optimisme karena terpaan musibah dan ujian yang bertubi tubi, sampai pula kehilangan kekasih yang dicintai karena ditinggal pergi seperti kata Ellya Kadam dalam liriknya “Kau Pergi Tanpa Pesan, Ku Nanti Tiada Datang”, hingga hilangnya kepercayaan pemimpin di hati rakyatnya sebab hanya rajin bikin spanduk tanpa keterlibatan di akar rumput.
Namun apa yang sungguh-sungguh hilang dan lebih purba dari soal kehilangan yang icik icik itu, ialah kehilangan pada kampung halaman. Tempat bertumpunya segala derita dan nostalgia, tempat dimana dulu pernah merajut tabah bersama sang ayah saat masih ingusan, rumah suci paling primordial dimana setiap kita (ruh) bersepakat dengan sang Khaliq di rahim ibu dulu, entitas dari yang muasal dan menjadi, satu tempat yang kepadanya kita selalu setia berjanji untuk kembali.
Ada pepatah bilang: “sejauh-jauh burung terbang akhirnya juga kembali ke sarang, setinggi-tinggi kaki mendaki akhirnya juga menginjak di bumi”. Sekuat-kuat apapun kau melarikan diri menuju perantauan akhirnya juga tak berdaya di hadapan kerinduan. Barangkali benar apa yang tulis Dewi “Dee” Lestari dalam novelnya Supernova yang beken itu bahwa: “tak ada rumah yang paling aman daripada rahim ibu, dan lewat mudik, merayakannya dengan kembali ke haribaan asal-usul, tempat di mana semua bermula; ke rumah ibu, menemuinya, menjenguk rindu”.
Apapun simbol dan status sosial anda secara ekonomis, politis maupun spiritualis, yang sukses atau sedang dalam proses, pejabat atau rakyat jelata (bukan jelita), pancasilais atau sosialis demokratis, sedikit liberal juga boleh, yang miskin atau yang kaya, abangan atau putihan tak terkecuali priyayi sekalipun, dari yang “kiri pol” sampai yang “kanan mentok”, mau yang berjenggot atau yang berkumis tipis, salafi atau wahabi hingga yang jarang tarawih, bahkan yang puasa ramadhan mirip puasa Daud (sehari puasa-sehari tidak) pun juga akan merindukan pada apa yang disebut mudik, sebab begitulah fitrahnya sebagaimana mudik adalah kembalinya kita pada dunia rahim yang suci nan sejati.
Maka tunaikanlah mudikmu dengan tampan sejauh apapun terjal harus dilalui, semahal apapun ongkos harus terbayar, dengan sepenuhnya memberi jeda pada relung ingatan, setelah sebulan penuh berkelahi, berjihad melawan hawa nafsu dengan puasa, meredam egoisme pribadi seraya menundukkan kepala, istirahat sejenak dari jagat keseriusan dan gonjang ganjing keruwetan, sembari memberi tempat untuk mengeja hati dan jiwa yang sudah ringkih di hantam obsesi dan rutinitas, mungkin juga ambisi yang bringas.
Sedikit saya menyitir ucapan almukarram Clifford Geertz, dalam bukunya The Intepretation of Cultures (1973), bahwa “kehidupan sosial manusia tidaklah bisa keluar dari jejaring nilai dan makna yang mereka rajut sendiri”. Dengan arti lain mudik juga dipahami sebagai momentum untuk membangun kembali jejaring soliditas kemanusiaan kita pada sosiokultur tempat dulu dilahirkan. Maka senafas dengan identitas primordialnya itu, mudik sejatinya juga adalah kepulangan kita pada kampung keruhanian masing-masing.
Menapaktilasi jejak jejak masa lalu sembari menyusuri tanda dan penanda bahasa ibu, merangkai muzaik diri yang sempat berantakan digilas waktu, melihat wajah ibu yang sudah kian renta dimakan usia, apa lagi kakek yang sudah rebah menyatu dengan tanah, teman sebaya waktu kecil yang sudah tidak utuh, lereng-lereng bukit yang pernah kita jelajahi, sungai sungai yang pernah kita renangi, semak belukar dan jalan setapak yang akrab dengan telapak kaki kita, pohon pohon teduh yang pernah kita gelayuti, menari bersama hujan, bermain kelereng di kebun belakang, mengejar tali layangan putus seolah lebih berharga dari sebongkah mas, juga musholla/surau tempat kita mengaji dan tepat di shaf paling belakang dengan bengal meneriakkan amin sekencang kencangnya.
Terlepas apapun secara konseptual yang menyembul perihal “permudikan” dan segala pernak-perniknya, baik sebagai arti mengekalkan tradisi, umpama tradisi yang diibaratkan Seyyed Hossein Nasr sebagai, “pohon yang akarnya terbenam dalam hakekat ilahi dan dari pohon itulah tumbuh batang dan rantingnya yang tumbuh sepanjang masa”, atau bentuk lain dari sinergi antara ajaran agama dan budaya masyarakat Indonesia yang colorful/warna-warni, pula sebagai medan semantik penyambung silaturrahmi dan interaksi manis antar sesama mirip “rekonsiliasi efektif” penyembuh segala khilaf dan ketegangan plus juga sarana penambah rezeki sebagaimana sabda Nabi Muhammad, “Man sarrohu ayyubsato lahu fii rizqihi wa ayyunsa’a lahu fii atsarihii fal yasil rohimahu”. (Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah iya menyambung tali silaturrahmi. HR. Bukhori), atau hanya sekedar seremonial-halalbihalal sederhana menikmati makan ketupat dan opor ayam beserta jajanan khas kampung halaman sebagaimana makna ketupat dalam tradisi jawa “ngaku lepat” (mengakui kesalahan) lalu di lanjutkan dengan bermaaf maafan, biarlah itu menjadi irama kosmisnya tersendiri, sesuatu yang subtil tersimpan dalam hati, isyarat makna dari dimensi terdalam manusia yang mendamba pada sumber yang azali. Bukankah kita pergi juga untuk kembali?.
Sekeras apapun narasi perjuanganmu kau pahatkan pada dinding-dinding realitas perantauan, hingga pengembaraan eksistensial di sudut jauh pembuangan paling tersembunyi, pada titik tertentu kau akan selalu menemukan alasan untuk kembali pulang. Bahkan se-gandrung apapun anda pada Marxisme dengan Materialisme Logikanya, atau se-ngefans apapun anda pada Madzhab Frankfurt dengan Rasionalitas Epistemologisnya, anda harus tetap nyekar (bukan nyeker) pada kuburan kakekmu, menziyarahi buyut-buyutmu, mengambil “ibrah” dari “Sangkan Paraning Dumadi” sebagai seasli-aslinya mudik menuju hadapanNya, Sang Maha Baqa’ yang Mutlak lagi abadi. “Inna ilaina iyaa bahum, tsumma inna ‘alaina hisabahum” Kepada Kamilah mereka kembali, kewajiban Kamilah untuk menghisab mereka, (QS. Al-Goshiyah, 25-26)
Terakhir saya ingin mengutip apa kata Dom dalam kegilaannya pada Film Fast and Furious yang ugal-ugalan itu bahwa, “Semua orang ingin mendapatkan petualangan, tetapi yang abadi adalah keluarga”. Maka nikmatilah mudikmu dengan hati riang-senandung, sembari jaga-jaga menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang kadang bikin “empet-mengkerret” dan sedikit anarkis, “Kapan Lulus?, Kapan Nikah?, Kapan Punya Momongan?, kapan sugih?, Kapan Ini?, Kapan Itu?, kapan nikah lagi? Upss.” ya apapun pertanyaannya tetaplah selow, santun bin kalem dan membumi, terperting jangan cemari keasrian kampungmu dengan budaya urbanmu yang ke(kota-kota)an, terlebih apa lagi menjadikan mudik sebagai sarana gagah-gagahan semacam euforia unjuk eksistensi yang “gitu-gitulohc”, karena kita adalah pemudik yang “Fitri nan Rahmatan Lil Alamin” bukan “Pemudik Karam” yang lupa tujuan lalu dikutuk menjadi batu sebagaimana legenda si Malin Kundang.
Dari saya, selamat kembali mudik, selamat berhari raya, hati-hati di jalan, jangan lupa (sowan) sungkem/sungkeman “nyuwun ngapunten” plus ngucapin minal-minul pada orang tua, keluarga, tonggo-tonggo (tetangga), para guru, sanak-famili, segenap handai-taulan, dan karib-kerabat semua, sambil incip incip jajanan yang tersedia tapi jangan dihabisin apalagi dibawa pulang.
Sekian, Taqobalallahu Minnaa wa Minkum, Taqobbal ya Karim.
Minal Aidin wal Faizin,
Mohon Maaf Lahir Dan Batin.
Penulis adalah aktivis AMPI



