Oleh: Deni Yusup*
Pemilihan umum untuk memilih presiden dan legislatif masih dua tahun lagi, pembahsan undang-undang pemilu dalam masa akhir pebahasan antara DPR dan Pemerintah, ada beberapa isu yang masih mandeng pembahasanya, masih perdebatan antar fraksi di DPR dan pemerintah, salah satunya yang menjadi isu terhangat adalah ambang batas pemilihan presiden.
Sebagaimana kita ketahui pemerintah mengusulkan adanya ambang batas pencalonan presiden dan DPR terbelah terhadap isu ini PDIP, GOLKAR,Nasdem meningikan ambang batas yang tinggi untuk pencalonan presiden, disisi lain fraksi lain seperti PAN, Demokrat dan fraksi lainya mengiginkan nol presen untuk ambang batas Pencalonan presiden dengan landasan hasil putusan MK yang menyatakan pemilihan presiden dan legislatif serentak. Menjadi tidak subtansi lagi kalau di adakanya ambang batas pencalonan presiden.
Keluar dari pembahasan isu yang dibahas di pasnus DPR dan pemerintah yang saat ini diisukan masih mandeng dan ada kekwatiran akan molor pembahasanya, karena tidak ada kata sepakat diantara semua pihak yang ada di DPR dan pemertintah.
Melihat isu soal kepemimpinan nasional ini saat sekarang mulai memanas karena menginjak akhir periode presiden jokowi yang sisa kurang lebih 2 tahun lagi, sementara sosok yang masih menjadi ungulan pertama presiden Jokowi dan sosok prabowo yang masih menjadi barometer akan bersaing dalam pemilihan presiden, ada juga wacana yang berkembang dalam beberpa rilis lembaga survei yang berkembang dimasyarakat, seperti sosok panglima TNI gatot Nurmantyo yang santer juga sosok yang pas untuk diusung menjadi presiden atau wakil presiden di pilpres 2019.
Adanya banyak calon presiden sebenarnya lebih baik bagi proses demokrasi yang ada di indonesia, masyarakan di berikan banyak pilihan putra dan putri terbaik bangsa untuk menjadi pemimpin di bangsa ini. Hal ini memungkinkan terjadi banyak calon dan banyak alternatif takala ambang batas yang selagi dibahas di DPR dan Pemerintah bisa meniadakan ambang batas tersebut, sehinga partai politik yang mengusulkan presiden bisa memunculkan beberapa figur yang layak menjadi calon presiden.
Keluar dari aturan yang nanti membatasi adanya calon banyak, kalau memakai ambang batas tidak menyulutkan kita untuk memunculkan calon-calon alternatif yang meramaikan proses demokrasi kita, banyak pemimpin-pemimpin yang ada sekarang yang memiliki kapasitas menjadi pemimpin nasional, yang memilki intregritas yang kuat, komitmen kebangsaan yang mendalam, dan memiliki rasa kecintaan bagi bangsa indonesia bahwa kita memiliki SDM yang banyak yang bisa melahirkan calon-calon yang bagus dan berkualitas. Dari jumlah penduduk 250 juta Jiwa dan dari pemimpin-pemimpin lokal yang menjadi gubernur dan bupati yang jumlahnya ratusan, kita bisa berbangga pasti akan lahir pemimpin-pemimpin yang bisa membawa kepada kemajuan bangsa ini.
Bupati dan gubernur yang potensial menjadi pemipin nasional seperti di jawa ada Risma, ada Ridwan kamil sedangkan diwilayah timur di NTB Ada Tuan guru bajang (TGB) M. Zainuddin Abdul Madjid, dimana kalau kita melihat potensi kepemipinannya untuk menjadi pemimpin nasional sangat memungkinkan, ini juga bisa melihat proses yang terjadi oleh presiden saat sekarang bapa Jokowi, dimana beliau adalah sosok presiden yang berasal dari jenjang pemimpin daerah, dari walikota solo, menjadi gubernur DKI Jakarta, dan menjadi presiden saat ini. Jadi kedepan tidak aneh lagi kalau banyak muncul pemimpin yang akan lahir yang bisa saja langsung dari daerah memipin nasional, selama memimpin menjadi inspirasi bagi bangsa ini.
Penulis menyakini bahwa akan banyak lahir calon pemimpin yang berkualitas yang akan menjadi pemimpin nasional.
Melihat sejenak sosok gubernur NTB (TGB) M. Zainuddin Abdul Madjid yang belakangan ini menjadi pemberitaan yang menarik karena beliau memaafkan orang yang telah menghina dimedia sosial.
Sebenarnya sosok TGB ini tidak asing lagi di mata publik NTB, karena beliau selain sebagai gubernur NTB, yang menjadi panutan kaum muslimin karena ketaatnya melaksanakn ibadah dan beliau salah satu gubernur yang tahfid quran, dan dimata publik beliau sukses menyandang amanah sebagai gubernur di NTB. TGB ini memiliki kelebihan sebagai pemimpin yang identik sangat religous, di indonesia yang penduduknya mayoritas muslim tentu mengidamkan mendapat pemimpin yang sesuai dengan keinginan masyarakat. Dan TGB memiliki tempat dihati masyarakat NTB dan masyarakat Indonesia.
Mungkinkah TGB menjadi salah satu alternatif pemimpin yang bisa bersaing di pilpres 2019 dengan melawan tokoh sekaliber presiden Jokowi dan sosok prabowo yang telah malang melitang di Nasional, Berbicara kemungkinan dalam politik tentunya sah-sah saja, tetapi baguna politik tentunya harus rasional secara matematika politik. Kemungkinan itu tentu ada dan harapan itu pasti ada, saat ini kita bisa melihat peta nasional yang memungkinkan calon alternatif dari tokoh-tokoh yang saat ini beredar di nasional. TGB memungkinkan menjadi salah satu calon alternatif yang bisa isuang oleh partai politik, takala ada perubahan drastis dari proses politik nasional yang saat ini sedang mebahas ambang batas pencalonan presiden.
Peluang partai untuk mengusung calon sangat tinggi kalau ambang batas ditiadakan dan ini membuka keran seperti sosok TGB untuk memungkinkan diusung menjadi calon pemimpin nasional.
Melihat peta nasional saat sekarang bisa saja TGB berpeluang juga di pinang oleh tokoh-tokoh partai politik untuk mendampingi menjadi calon wakil presiden, dengan perhitungan secara politik bahwa basis keterwakilan muslim yang menjadi daya tarik sosok TGB yang telah mendapat citra pemimpin muslim atau gubernur yang taat dan berprestasi.
Ini menjadi daya tarik beliau untuk dipinang oleh tokoh politik. Bisa oleh Jokowi atau oleh Prabowo dipinangnya, sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Jokowi identik dengan kelompok Nasionalis, kalau dipadukan dengan pemimpin yang identik dengan kelompok muslim ini juga menjadi daya tarik tersendiri dalam pemilihan presiden nanti. Dan bisa saja TGB di pinang oleh prabowo bagaimanpun parbowo sosok militer yang negarawan kalau dipadukan dengan pemimpin muslim yang berkualitas ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyrakat indonesia untuk mendapatkan sosok pemimpin. Semua kemungkina itu bisa terjadi, tergantung dari dinamika yang terjadi, karena politik dinamis.
Subtansinya kita berharap banyak calon yang muncul yang menjadi alternatif untuk kemajuan demokrasi dan bangsa ini, selain proses demokrasi yang kita inginkan lebih baik, yang terpenting bahwa pemimpin yang akan lahir nanti bisa membawa harapan yang tinggi untuk peningkatan taraf kehidupan masyarakatnya.
Kita menyadari disemua aspek kita masih tertinggal jauh oleh semua, masih banyak ketidak adilan yang terjadi, hegemoni pemilik modal yang begitu tinggi terhadap perekonomian kita membikin masyarakat makin tertekan. Semoga bayak alternatif pemimpin kedepan yang bisa membawa manfaat dan bisa mengali semua sumber daya yang ada di indonesia untuk kesejahteran semua.
*Peneliti Nusantara Riset, Pengurus Masika ICMI

