Oleh : Maharani (Fungsionaris PB HMI priode 2013-2015)
Singapura, siapa yang tidak kenal negara maju yang terkenal dengan Patung singa ini, dengan sistem pemerintahan yang di dominasi oleh People’s Action Party (PAP) sejak pemilihan umum pada tahun 1959 ketika Lee Kuan Yew sebagai Perdana mentri Pertama dan negara secara de facto merupakan negara dengan satu partai ini.
Negara yang berjumlah 5, 6 Juta penduduk ini masih terbilang negara kecil dan sangat Agresif baik dalam bidang ekonomi maupun politik . Terbukti pertumbuhan ekonomi di Singapura pada tahun kuartal IV-2016 naik 1,8 % dimana konsensus memperdiksi di angka 0, 3%, begitupun dengan sistem politik di negara ini yang mengkalisifikasikan sebagai negara “Hybrid, dengan elemen otoriter dan demokratis. Dengan menggunakan sistem satu partai maka sangat mudalah dalam memfilter siapakah yang mampu menjadi pemimpin di singapura ini.
Jadi, sistem pemerintahan di singapura sangat mirip dengan inggris. Presiden diibaratkan sebagai jabatan seremonial (formalitas). Presiden menjadi pemegang kunci keputusan di Singapura. Namun dalam sistem politik di Singapura, Perdana menteri adalah pemegang kekuasaan pemerintahan. Sama persis dengan apa yang terjadi dalam pemerintahan Inggris.
Baru-baru ini terpilihnya presiden Perempuan pertama di singapura yang menggantikan Tony Tan Keng Yam (2011-2017) . Ya..siapa tidak kenal dengan Halimah Yacob seorang politisi perempuan yang awal karir politiknya sebagai anggota Partai Aksi Rakyat ( PAP), dia adalah orang ketiga menjadi ketua Parlemen dari ras minoritas secara berturut- turut yang cukup sukses juga dalam bidang usaha, Halimah berasal dari ras India dan melayu, Ayahnya berasal keturunan India yang bekerja sebagai penjaga dan meninggal pada saat Halimah berumur 8 tahun sedangkan Ibunya keturunan Melayu.
Sewaktu kecil Halimah juga tak malu ketika harus membantu ibunya yang dulu berjualan nasi padang hanya dengan gerobak kecil. Semasa sekolah, Halimah adalah anak yang cerdas, terbukti dengan di terimanya dia di 2 sekolah bergengsi di Singapura tingkat SMP dan SMA. Dia adalah segelintir wanita melayu yang pada waktu itu di terima di SMP Chinese Girl’s School yang didominasi oleh wanita beretnis Tionghoa, lalu pada masa SMA dia bersekolah di Tanjong Katong Girl’s School. Kemudian dia melanjutkan di Fakultas Hukum Universitas Singapura (National University of Singapore) yang sangat bergengsi di Singapura.
Entah ini adalah Nasib atau keberuntungan, namun yang pasti dalam proses seleksi pemilihan Presiden yang dimenangkan bagi sosok Perempuan yang mewakili kaum minoritas ini, proses Pesta Demokrasi di Singapura pada saat sekarang ini sangat mudah di lalu oleh Halimah, dikarenakan modal Back up Partai PAP yang cukup diperhitungkan, Pun kandidat yang menjadi lawan Halimah yaitu Mohammed Salleh Marican dan Farid Khan tidak lolos dalam uji kelayakan yang syarat mutlak bagi para calon Independen di Singapura diwajibkan memiliki saham perusahaan senilai 500 juta dollars Singapura. Kedua calon tersebut, Saleh dan Farid gagal lolos sebagai kandidat Independen karena Saham mereka yang tidak mencapai batas minimum anjuran. Oleh karena itu, Halimah Yacob menjadi calon Tunggal presiden dinegara maju tersebut.
Indonesia yang jumlah penduduk 257 juta jiwa yang didominasi oleh para pemuda atau remaja produktif, jika kita telusuri Menurut data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), jumlah remaja perempuan di Indonesia, menurut Sensus Penduduk 2010 adalah 21.489.600 atau 18,11% dari jumlah perempuan. Itu berarti pada tahun 2035 bisa diprediksikan mencapai 22 juta jiwa remaja perempuan, ini cukup membanggakan jika dilihat dari sisi kuantitas, namun sangat menggerikan di lihat dari sisi kualitas.
Bagaimana tidak dari sisi pendidikan dan kesehatan remaja perempuan masih sedikit yang mengenyam dalam pendidikan dan kesehatan itu. terbukti Indonesia Urutan 60 dari 61 Negara dari sisi minat baca, artinya minat baca Indonesia mencapai 0,001 %. faktor menurunnya minat baca tersebut adalah penggunaan Internet dan ditambah dengan kualitas perempuan disisi Skill baik dalam skill jasa maupun skill interpreneur.
Alhasil para perempuan tidak mampu bersaing secara kompetitif dalam partisipasi pasar tenaga kerja secara formal, kalaupun mereka di pekerjakan secara informal itupun hanya sedikit karena quality masih jadi tergolong rendah. Yang lebih darurat lagi para perempuan produktif nekat menjadi Tenaga Kerja Wanita baik jaur pemerintah maupun jalur non pemerintah (swasta), tercatat dalam tahun 2017 Tenaga Kerja Wanita mencapai 93461 jiwa atau sebesar 63% dari total Tenaga kerja Indonesia, itu artinya hanya 37% Tenaga kerja Laki-laki. Jadi jangan heran Ketika banyak kasus Pelecehan atau penyiksaaan Para TKW Indonesia di luar negeri.
Terbinanya muslimah yang berkualitas insan cita, Merupakan sebuah tujuan murni ketika seorang mahasiswi muslim yang dinyatakan lulus dalam pengkaderan Latihan kader di sebut Korps HMI Wati (KOHATI) dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi yang berdiri sejak 1947 yang masih eksis dan menjadi organisasi hangat yang selalu diperbincangkan disetiap Lini, dikarenakan banyaknya Alumni-alumni yang sukses di segala hal, baik politisi, Birokrasi maupun pengusaha.
Namun, setiap masa pasti ada tantangan tersendiri dari masa itu, baik dari tantangan dari dalam maupun dari luar organisasi itu sendiri. KOHATI merupakan bagian dari HMI yang menjadi bagian dalam menjalankan tujuan HMI Juga tidak bisa dianggap remeh, terbukti 2 Alumni KOHATI yaitu Siti Zuhro sebagai peneliti senior Lipi di Bidang Politik dan Leli Pelita Sari sebagai Wakil Ketua Ombudsman, tentu mereka melalui proses panjang dan tidak mudah dalam menduduki sebuah jabatan Publik, ada Skill dan mental yang kuat untuk mendapat jabatan itu. Bagaimana dengan KOHATI sekarang?
Sekarang ini, tantangan yang dihadapi para KOHATI sangat kompleks, baik dari sisi domestik maupun sisi luar, salah satu contohnya adalah persaingan Skill di pasar tenaga kerja yang competitif sehingga a quality merupakan indikator yang paling Urgen di dunia kerja, ditambah lagi menurut data Kementrian Ketenagakerjaan jumlah pengangguran pada tahun 2016 mendapai 7,02 juta orang , mampukah kohati menjawab ini ?
Tantangan yang tak kalah penting adalah pengaruh media sosial yang menjadi komsumsi para perempuan intelektual ini sehingga ada semacam obat bius untuk merubah lifestyle komsumtif yang jelas tidak menambah wawasan kualitas perempuan, konsekuensinya adalah identitas perempuan yang intelektual sudah mulai memudar dan kita tidak bisa membedakan mana perempuan awam dan mana perempuan intelektual.
Dan yang paling parah ketika lifestyle yang serba instan menjadi pola hidup para perempuan intelektual, sehingga tidak ada proses di dalamnya untuk mendapatkan posisi strategis baik di domestik, maupun di jabatan publik. Konsekuensi dari itu adalah tidak adanya kemandirian dalam sosok perempuan intelektual dalam mempersiapkan diri di pasar tenaga kerja, baik mandiri secara ekonomi maupuan mandiri secara mental, sementara persaingan pasar dan global yang sudah tidak ada sekat antara perempuan aktivis maupun bukan.
Apakah perempuan intelektual khususnya KOHATI mampu menjawab tantangan pasar tenaga kerja yang semakin keras, baik secara nasional maupun internasional itu atau hanya sebagai penonton dalam panggung persaingan itu yang terbungkus dalam identitas KOHATI?
Selamat Milad KOHATI ke 51,semoga mampu melahirkan Halimah-halimah Indonesia..Jayalah KOHATI, Bahagia HMI
Tulisan ini tertuang atas rasa kekawatiran atas kondisi KOHATI saat sekarang ini.

