
Pleno merupakan salah satu ajang atau ibadah rutin yang dilaksanakan untuk mengambil keputusan tertinggi setelah Konferensi, Musda dan Kongres di tingkat Cabang, Badko dan juga PB Himpunan Mahasiswa Islam, dan saat ini Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Surabaya, seadng melaksanakan Pleno I, dan ini pula merupakan salah satu jalan untuk melakukan proses regenerasi.
Pleno harusnya juga dijadikan ajang melakukan evaluasi dan proyeksi untuk HMI Cabang Surabaya, tidak bisa dibenarkan ketika peserta sidang pleno harus dibungkam untuk memberikan kritik dan saran terhadap HMI Cabang. Karena itu bisa membuat ke-kritisan dan semangat bersama untuk memperbaiki cabang bisa terbunuh. Sehingga tidak menutup kemungkinan kalau Pleno HMI Cabang Surabaya sepi pengunjung.
Yang terjadi saat ini, Pleno HMI Cabang Surabaya mengalami kejumudan dan belum memberikan aba-aba kalau HMI Cabang ada tanda-tanda kehidupan atau bangkit dari kejumudan tersebut. Saat ini HMI Cabang Surabaya benar-benar berada dalam sebuah kondisi yang memprihatinkan.
Karena Pleno yang ditunda dalam waktu yang tidak ditentukan yang membuat agenda HMI Cabang tidak terealisasi dengan serius, ini terlalu membawa konsep teori konflik klasik yang pernah diutarakan oleh Ibnu Khaldun yaitu karena Ashobiyah.
Oleh karena itu konflik yang terbangun karena Komsentris atau lebih membawa Kampusentris, ini sudah harus disudahi dan sudah waktunya membangun kesadaran bersama dengan cara membuka jaket kefanatikan terhadap komsentris atau kampusentris.
Perlu ditegaskan kembali kalau HMI merupakan Organisasi kader bukan organisasi massa dan juga bukan organisasi politik, sehingga proses regenerasi itu merupakan salah satu jalan agar organisasi bergerak dinamis, tidak jumud. Menyadari akan pentingnya regenerasi dan distribusi kader itu merupakan salah satu puncak dari kaderisasi.
Pleno juga salah satu bagian dari forum untuk melakukan regenerasi setelah itu. Dalam ilmu Ekonomi dengan pendapat seorang tokoh pakar ekonomi syari’ah Syafi’ie Antonio, segala sesuatu itu harus terdistribusi dengan baik agar tidak terjadi ke statisan dalam proses, seperti halnya Sungai, artinya sungai yang bersih dan menyegarkan adalah sungai yang mengalir bukan sungai yang tidak pernah mengalirkan airnya dan itu hanya menciptakan penyakit saja.
Maka dari itu kenapa Islam mengharamkan penimbunan yang bisa membuat kemandekan dalam distribusi dan akan membuat harga semakin melambung. Begitupun dalam proses perkaderan kalau terjadi kemandekan dalam proses regenerasi maka yang akan terjadi organisasi tersebut bisa dikatakan tidak dinamis lagi dan yang akan terjadi kaderpun tertimbun yang akhirnya akan krisis regenerasi.
Karena akan banyak pembusukan generasi yang nantinya hanya akan terjadi penurunan semangat dalam setiap diri kader karena terlalu lama tertimbun, dan ini yang terjadi saat ini melihat kondisi cabang yang terlalu lama dengan ditundanya pleno, ini benar-benar harus disikapi oleh setiap generasi dan struktur di bawahnya kalau masih berfikir tentang organisasi HMI ke depan.
Ketika menghadapi kondisi seperti ini seorang pemimpin atau ketua umum harus mempunyai inisiatif. dalam teori kepemimpinan yang diungkapkan oleh Sthepent Grophint, bahwa seorang pemimpin salah satunya harus menjadi inisiator dalam setiap gerakan dan juga selalu mempersiapkan sebuah alternative lain untuk mengantisipasi setiap alternative yang sudah dipersiapkan, karena itulah menggunakan segala bentuk analisis itu sangat diperlukan oleh pemimpin.
Disitulah seorang pemimpin harus banyak menggunakan The Risk Management dalam hal mengantisipasi segala keadaan.
Setiap pemimpin memang mempunyai gaya tersendiri dalam kepemimpinannya, misalkan saat ini Ketua Umum HMI Cabang Surabaya yang gayanya lebih pada model Pathernalistik, ini sudah tidak efektif kalau model ini yang terlalu mendominasi dalam gaya memimpinnya, merubah gaya kepemimpinannya itu merupakan salah satu jalan sebelum aksi yang lebih ekstrim dilakukan, memang tidak mungkin ada jaminan apakah pemimpin kita bisa merubah gaya kepemimpinannya atau tidak.
Dan itu membutuhkan alat control yang memang credible sehingga mampu mengontrol terhadap perubahan gaya kepemimpinannya. Dan buat organisasi HMI, perkaderan menjadi kepentingan diatas kepentingan yang lain. Sehingga pendidikan terhadap para penerus bangsa ini benar-benar dilakukan sesuai dengan cita-cita dan para leluhur HMI. Dan distribusi kader ini bisa berjalan dengan baik dan lancer sehingga dinamisasi di organisasi ini bisa tercapai.
Rintangan yang sebenarnya terjadi saat ini adalah rintangan kognitif, sebuah rintangan yang krisis akan kesadaran, dan kenyamanan terhadap status quo, Inilah realitas saat ini. Seorang pemimpin harus mempunyai kesadaran setiap saat, kalau perubahan itu dengan tanpa disengaja bisa terjadi dengan cepat, yang pada akhirnya mampu menggilas habis setiap sesuatu yang ada di sekitarnya.
Oleh:
Muhammad A’la
Penjaga WARKOP Pondok Kopi
Wonocolo Gang III Surabaya
