Indonesia Visioner
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
  • COMPANY PROFILE
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

“Kyai Dadakan” Catatan dari Alumni HMI-NU Madura untuk “Juru Selamat” yang Tiba-Tiba Muncul

by Visioner Indonesia
Agustus 31, 2026
in Opini
Reading Time: 4min read
“Kyai Dadakan” Catatan dari Alumni HMI-NU Madura untuk “Juru Selamat” yang Tiba-Tiba Muncul

Opini Oleh: Romadhon Jasn
| Alumni HMI | Warga NU Madura


Belakangan ini publik dihebohkan dengan pernyataan Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar (Cak Imin) yang menyebut Nahdlatul Ulama (NU) “terpuruk” karena dipimpin oleh alumni HMI. Pernyataan itu dilontarkan dengan santai, seolah-olah masalah besar organisasi sebesar NU bisa disederhanakan hanya dengan menunjuk latar belakang organisasi seseorang.

Ada kalanya sebuah pernyataan publik yang terdengar heroik justru menyimpan aroma lain. Apalagi mengaitkannya dengan kepemimpinan alumni HMI, saya sebagai orang Madura yang juga alumni HMI hanya bisa geleng-geleng. Tiba-tiba jadi imam besar, padahal jarang terlihat di masjid.

Muktamar ke-35 NU di Jombang sedang berlangsung. Di tengah dinamika internal organisasi terbesar di negeri ini, muncullah ‘keprihatinan‘ itu: NU terpuruk karena dipimpin orang-orang HMI. Sebuah narasi yang diracik dengan apik, seolah-olah membela NU, tapi nyatanya tengah mengatur panggung politik.

Sebagai orang Madura, yang tumbuh dalam keteladanan para ulama-ulama dan salah satunya dari catatan sejarah bahawa Syaikhona Kholil Bangkalan atas ijin petunjuk langit (baca: Allah Swt) yang memberi isyarat restu bagi kelahiran NU, Mbah Hasyim Asy’ari pendiri organisasi, Mbah Wahab Hasbullah pencipta Ya Lal Wathon sebagai simbol cinta tanah air, Kiai Bisri Syansuri panglima Resolusi Jihad 1945, Kiai Achmad Siddiq perumus fiqih kebangsaan, hingga Mbah Wahid Hasyim yang duduk bersama para pendiri bangsa. Mereka adalah warisan yang mengajarkan bahwa NU lahir untuk umat dan bangsa, bukan untuk kekuasaan. Kini, ketika ada yang bicara “menyelamatkan” NU, saya dan mungkin dari warga NU lainnya hanya bertanya: apa yang sudah kau perbuat untuk NU selama ini, Mas Cak Imin?

Seorang politisi yang sibuk dengan kalkulasi elektoral, tiba-tiba merasa paling berhak “menyelamatkan” NU. Saya ingat pepatah Madura: “Oreng se nyalana tape, nyalana teppak, nyalana benter” — orang yang memakai celana sendiri, pakailah dengan benar, jangan sembarangan. Cak Imin, yang selama ini sibuk dengan PKB-nya, tiba-tiba ingin “memakai celana” NU. Lucu, sekaligus menggelitik.

Pernyataan ini menuai respons. Kalangan alumni HMI menilai pernyataan itu mendiskreditkan organisasi mereka. Ada yang menyebut NU bukan milik siapa pun, bukan milik HMI, dan bukan milik PMII. Bahkan ada yang meminta Presiden mengevaluasi posisi Cak Imin di kabinet. Ini bukan lagi soal NU, ini soal bagaimana seorang politisi memainkan api di tengah rumah ibadah.

Cak Imin sendiri sebelumnya pernah mengatakan bahwa PKB bukan milik NU. Ia dengan tegas memisahkan partai politiknya dari organisasi keagamaan yang melahirkannya. Lalu, atas dasar apa ia sekarang merasa paling berhak “menyelamatkan” NU? Seperti orang yang tidak mau mengakui ibu kandungnya, tapi tiba-tiba ingin menjadi kepala keluarga.

Di sisi lain, Gus Yahya, yang saat ini memimpin NU, kebetulan adalah alumni HMI. Selama lima tahun kepemimpinannya, ia menghadapi berbagai kritik, ada yang menyebut NU terlalu “kalem,” ada yang mengeluhkan kurangnya terobosan. Kritik itu wajar dalam organisasi sebesar NU. Tapi Cak Imin menyimpulkan bahwa seluruh “keterpurukan” adalah karena kepemimpinan alumni HMI. Ibarat kata, menyalahkan semua orang bersepeda karena satu orang jatuh dari sepeda.

Cak Imin saat ini duduk di kabinet sebagai menteri koordinator. Ia adalah bagian dari pemerintahan yang ia klaim sedang “terpuruk“? Atau ia sedang menyelamatkan NU sambil menyelamatkan kursinya? Belum lagi, ada banyak alumni HMI yang justru berada di pemerintahan, di birokrasi, dan di berbagai posisi strategis. Bahkan di tubuh NU sendiri, banyak alumni HMI yang menjadi pengurus dan tokoh yang dihormati. Jika Cak Imin mengkritik kepemimpinan alumni HMI di NU, lalu bagaimana dengan rekan-rekannya sendiri di pemerintahan?

NU dan HMI adalah dua entitas yang lahir dari sejarah panjang bangsa ini. Keduanya saling terkait, saling mengisi, dan sama-sama berkontribusi untuk negeri. Jika ada yang ingin mengadu domba, mereka sedang mempertaruhkan stabilitas organisasi yang telah menjadi pilar persatuan.

“Di tengah Muktamar, pernyataan Cak Imin ini terasa jauh dari keprihatinan tulus. Ia menuding alumni HMI sebagai penyebab keterpurukan—pola lama mencari kambing hitam agar posisinya terlihat paling peduli. Warga NU yang jernih bisa membaca ini bukan sebagai evaluasi, melainkan manuver politik. Dengan gaya santai sambil tertawa, ia ingin tampil sebagai penyelamat dadakan, padahal yang terlihat justru usaha menaikkan tawar-menawar politiknya sendiri di atas nama besar NU.”

“Kami mewarisi ajaran para ulama bahwa ilmu dan pengabdian, bukan kursi, yang menentukan kemuliaan. Kami diwarisi untuk menjaga NU dengan ikhlas, bukan ambisi. Sebagaimana Mbah Hasyim mendirikan NU atas restu guru-gurunya, kami pun berkomitmen menjaga warisan itu dengan hati yang bersih. Semoga kita semua sadar bahwa ‘menyelamatkan’ bukan tentang siapa yang paling keras bicara, tapi tentang siapa yang bekerja tanpa suara, seperti para ulama yang tidak pernah menuntut kursi, tapi namanya abadi. Karena di akhir hayat, yang diingat bukanlah seberapa keras kita berteriak, tapi seberapa banyak kita memberi tanpa pamrih.”


Tags: Cak iminHMIMadura
Previous Post

Buka-bukaan BGN: Modus Penipuan “Dapur Bayangan” MBG, Beredar Catut Nama Pejabat

Related Posts

Mengapa Mahasiswa Harus Tetap Berdemo?
Artikel

Mengapa Mahasiswa Harus Tetap Berdemo?

Agustus 22, 2026
Memutus Rantai “Manusia Kelas Dua”: Menjemput Kemerdekaan Sejati di Bulan Kemenangan
Artikel

Memutus Rantai “Manusia Kelas Dua”: Menjemput Kemerdekaan Sejati di Bulan Kemenangan

Agustus 15, 2026
Pondasi Sistem Logistik Nasional: Refleksi Pengabdian dan Estetika Konstitusi
Opini

Pondasi Sistem Logistik Nasional: Refleksi Pengabdian dan Estetika Konstitusi

April 26, 2026
BGN Kaji Efesiensi Anggaran
Artikel

Audit Triliunan dan Rapuhnya Negara: Mengapa Kebocoran Fiskal Terus Berulang?

April 23, 2026
Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?
Artikel

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?

April 6, 2026
Default

Menjaga Marwah Bhayangkara: Mengapa Independensi Polri Adalah Harga Mati

Januari 30, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

“Kyai Dadakan” Catatan dari Alumni HMI-NU Madura untuk “Juru Selamat” yang Tiba-Tiba Muncul

Buka-bukaan BGN: Modus Penipuan “Dapur Bayangan” MBG, Beredar Catut Nama Pejabat

Prabowo dan Putin Akan Bertemu 3 September di Vladivostok, Bahas Energi dan Kerja Sama Strategis

IKAPEKSI Audiensi dengan Wapres Gibran, Bahas Potensi Alumni Kenshusei untuk Ekonomi Indonesia

Sah! Kritik Presiden dan Wakil Presiden Bukan Lagi Pidana, MK Hapus Pasal Karet

DPR Kawal Hak Karyawan PT Pos, Pembayaran Rp158 Miliar Terealisasi

TERPOPULER

“Kyai Dadakan” Catatan dari Alumni HMI-NU Madura untuk “Juru Selamat” yang Tiba-Tiba Muncul

Buka-bukaan BGN: Modus Penipuan “Dapur Bayangan” MBG, Beredar Catut Nama Pejabat

Prabowo dan Putin Akan Bertemu 3 September di Vladivostok, Bahas Energi dan Kerja Sama Strategis

IKAPEKSI Audiensi dengan Wapres Gibran, Bahas Potensi Alumni Kenshusei untuk Ekonomi Indonesia

Sah! Kritik Presiden dan Wakil Presiden Bukan Lagi Pidana, MK Hapus Pasal Karet

DPR Kawal Hak Karyawan PT Pos, Pembayaran Rp158 Miliar Terealisasi

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
  • COMPANY PROFILE

Indonesia Visioner - All Rights Reserved