Makassar-IndonesiaVisioner. Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) tahun 2017 digelar di Universitas Muslim Indonesia Makassar pada 23-27 Agustus 2017. Pada tahun ini Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berhasil mengantarkan 6 (enam) tim di ajang yg paling bergengsi ini. Menurut keterangan Tim Pendamping Pimnas dari Unesa, sebenarnya ada 51 Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Unesa yang didanai oleh Kemenristek Dikti. Namun, setelah dilakukan monev eksternal hanya 6 (enam) tim yang dinyatakan layak mewakili Unesa diajang yang diselenggarakan tiap tahun ini. Pimnas kali ini diikuti oleh 420 tim, terdiri dari kurang lebih 2.200-an mahasiwa dari 89 PTN dan PTS seluruh Indonesia yang merebutkan juara untuk kategori presentasi PKM dan poster.
Keenam tim tersebut diantaranya PKM-Teknologi 1 tim, PKM-Penelitian Eksakta 3 tim, PKM-Penelitian Sosial Humaniora 1 tim dan PKM-Kewirausahaan 1 Tim. Sebelum berangkat ke Pimnas, kontingen Unesa mengikuti karantina selama 2 (dua) hari. Materi yang diberikan dalam kegiatan tersebut adalah teknik presentasi, dasar dasar public-speaking, teknik menyusun poster, dan bagaimana meningkatkan kepercayaan diri dalam kompetisi.
Alhasil, jerih payah tersebut berbuah manis dengan diraihnya 3 (tiga) medali diantaranya 1 medali emas untuk kategori presentasi PKM-Penelitian Eksakta sekaligus 1 medali perak kategori poster untuk skim ini. Selanjutnya, PKM-Teknologi juga berhasil memeroleh 1 medali perak untuk kategori presentasi. Perolehan 3 medali ini mampu mengantarkan Unesa masuk 10 besar dengan menempati peringkat 9. Sementara itu, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menempati peringkat 10 dan Universitas Negeri Malang peringkat 12.
Adapun tim yang berhasil memperoleh 2 medali sekaligus adalah PKM-Penelitian Eksakta yang meneliti tentang pembuatan Biopestisida dengan memanfaatkan tumbuhan buta-buta (Excoecaria agalltumbuha). Tim ini merupakan mahasiswa Jurusan Biologi yang mencoba meneliti pengaruh filtrat daun tumbuhan buta-buta terhadap kematian (mortalitas) ulat grayak. Ulat grayak merupakan larva ngengat Spodoptera litura yang banyak menyerang di lahan pertanian dan perkebunan.
Tim yang diketuai oleh Rahmawati, dan beranggotakan Fajar Septyana, Mahesa Ahmad, dan Lilis Suryandari dibawah bimbingan Reni Ambarwati, S.Si, M.Sc. ini menemukan bahwa filtrat daun tumbuhan buta-buta mengandung beberapa metabolit sekunder yang dapat menyebabkan mortalitas ulat grayak sehingga berpotensi sebagai biopestisida.
Biopestisida yang dibuat dengan cara membuat filtrat ini cukup sederhana sehingga mudah diaplikasikan oleh petani. “Harapan kami, masyarakat bisa memanfaatkan tumbuhan ini sekaligus menjaga kelestariannya. Kami menghimbau agar masyarakat nanam kembali satu bibit setelah mengambil daun dari satu pohon, dengan demikian kelestarian mangrove akan tetap terjaga”, papar Rakmawati, ketua tim.
Sementara itu, tim PKM-Teknologi yang berhasil menyabet medali perak kategori presentasi adalah mahasiswa jurusan Teknik Mesin dengan menciptakan mesin pembuat susu kedelai 3 in 1. Mereka adalah Siti Roudhotul Haririn, Rizki Akbar, Havid Mirvansyah dan Karnata dibawah bimbingan dosen Wahyu Dwi Kurniawan S.Pd.,M.Pd.
MAS SULE adalah nama sekaligus singkatan dari Mesin Pengolah dan Pengemas Susu Kedelai. Mesin ini menggunakan sistem Electrical Ohmic Heating yang diyakini dapat mewujudkan produk unggulan Asean Economic Community di Desa Gandul Kab. Madiun Jawa Timur.
Mereka mengklaim mesin tersebut mampu menjadi solusi dari permasalahan yang terjadi pada UKM Susu Kedelai. Masalah yang sering terjadi, beberapa UKM umumnya kurang memperhatikan proses pengolahan susu kedelai, padahal proses pengolahan mulai dari Pencucian, Juicer, Penyaringan, Pemasakan, dan pengemasan harus memenuhi standar pengolahan makanan.
Setelah melakukan survey pada salah satu UKM susu kedelai yang ada di kabupaten Madiun, ditemukan bahwa proses pengolahan susu kedelai masih kurang higienis.Dengan menggunakan MAS SULE, pelaku UKM susu kedelai dapat melakukan 3 proses sekaligus yaitu pemasakan, pendinginan dan pengemasan. Dengan teknologi Thermocontrol membuat suhu pemasakan lebih stabil dibandingkan kompor biasa.
“Kan pada MAS SULE juga menggunakan teknologi Spiral Pipe sehingga pendinginan lebih cepat dan higienis. Proses pengemasan dengan sistem Precision Filler membuat pengisian menjadi lebih cepat, takaran pas, higienis, dan aman bagi susu,” terang Havid.
Mereka berharap PKM ini akan dilanjutkan hingga sosialisasi ke seluruh UKM Susu kedelai di Indonesia. Harapannya kedepan UKM susu kedelai yang ada di madiun dan sekitarnya hingga ke seluruh Indonesia menggunakan MAS SULE pada proses produksinya.
Prestasi tersebut tentu menjadi kebanggaan dan nilai plus tersendiri bagi Unesa yang saat ini sedang berjuang menuju kampus grade A. Semoga prestasi tersebut dapat terus ditingkatkan ditahun-tahun mendatang. (akw-iv)






