Perolehan medali kontingen Indonesia di Sea Games 2015 alami degradasi dibandingkan perolehan ketika masa kepemimpinan Roy Suryo. Informasi terakhir, Indonesia akhirnya terhenti di peringkat 5 klasemen sementara Sea Games 2015, (Senin, pukul 17.00 WIB). Perolehan ini jauh dari target yang dicanangkan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi dengan perolehan 72-79 keping emas untuk memperbaiki posisi menjadi peringkat 2.
Prestasi olahraga nasional yang menurun dengan torehan 45 emas, 56 perak, dan 72 perunggu dibawah pimpinan Imam Nahrawi terus menuai kritik pedas dari masyarakat Indonesia. Pasalnya, prestasi ini jauh berbanding terbalik dengan pencapaian atlet sewaktu dipimpin Roy Suryo dengan raihan 65 medali emas, 84 perak dan 111 perunggu.
Prestasi Indonesia di Sea Games
Sebelumnya, Roy Suryo juga berhasil menaikkan pamor olahraga Indonesia dikancah internasional dengan torehan prestasi bergengsi seperti Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis (2013), All England (2013-2014), juara umum ASEAN Pada Games Myanmar (2013), dan juara umum Islamic Solidarity Games (2013).
Roy Suryo mengaku tidak ingin terlalu mengomentari tentang kegagalan kontingen Merah Putih merebut posisi runner up di Sea Games Singapura 2015. Ia merasa tidak pantas untuk mengkritik orang nomor satu di Kementerian Pemuda dan Olahraga itu. “Masyarakat Indonesia bisa menilai kinerja seseorang tak terkecuali Menpora,” kata Roy. Pria berkumis ini menyerahkan penilaian kepada masyarakat tentang kinerja Imam Nahrawi dalam membenahi olahraga nasional.
“Kalau menjawab kabar itu terus terang saya upset lihat kondisi olahraga nasional terakhir ini. PSSI dipecah dan Indonesia pertama kalinya dalam sejarah kena sanksi FIFA, KNPI dipecah juga, SEA Games melorot bahkan sepak bola Indonesia tidak masuk final. Padahal targetnya runner up,” ungkap Roy kepada wartawan, Senin (15/6/2015).
“So, saya tidak perlu berkomentar lagi (tidak etis selaku mantan Menpora, – red), biarkan masyarakat yang menilai mas. Yang jelas semuanya sudah terbukti dan Gusti Allah tidak sare mas. Padahal kita mau tuan rumah Asian Games 2018 lho mas, kalau tidak mendapatkan ranking bagus hancur nama Indonesia,” tutup pria yang juga dikenal sebagai pakar telematika itu. (Dion Pramana / AP)


