Maumere, Indonesia visionser-. Glamor Tour de Flores meninggalkan bekas luka pada sejumlah aktivis Cipayung di Kabupaten Sikka. Kamis, 19 April 20116, para korban berjatuhan akibat ulah aparat keamanan polres Sikka saat mereka bersuara dan membongkar ketidakbecusan pemerintah Kabupaten Sikka yang hingga detik ini tidak menghadirkan dokter ahli kandungan di Kabupaten Sikka.
Para korban yang berjatuhan tersebut tergabung dalam tiga elemen organisasi yakni, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sikka, Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sikka, dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Maumere. Menurut laporan koordinator lapanagan (Korlap) aksi, Marselinus Minggu dan Anom Mahesa, sebanyak ratusan orang anggota dalmas kepolisian Sikka datang menyerbu dan menyerang sejumlah aktivis yang terjebak di dalam lapangan umum Kota Baru.
Mereka tidak diijinkan keluar ke jalan untuk menyuarakan aspirasi mereka demi warga Kabupaten Sikka. Tetapi justru sebaliknya mereka dihajar, ditendang dan dipukul menggunakan bambu dan rotan hingga korban berjatuhan, layaknya seperti bukan manusia. Bahkan salah satu aktivis perempuan yang tidak mau disebut namanya, mengakui bahwa ia diperlakukan secara tidak wajar oleh para aparat keamanan saat aksi pengeroyokan berlangsung.
“Ada satu anggota polwan yang lansung memegang buah dada dan satu polisi juga, tapi itu saya tidak tahu entah sengaja atau tidak karena banyak aparat yang main hakim sendiri. Kedua teman cewe saya juga kena injak dari polisi dan ditampar sampai pingsan”, demikian pengakuannya melalui sms yang diterima media ini.
Mereka mengakui bahwa, aksi demonstrasi yang mereka lakukan tidak ada hubungannya dengan Tour de Flores yang memakan biaya miliaran rupiah itu. Namun, mereka sangat menyesalkan dan mengecam keras tindakan membabi buta yang dilakukan aparat keamanan polres Sikka yang seolah melegitimasi tindakan kekerasan tersebut atas nama pengamanan Tour de Flores.
“Kami adalah aktivis yang murni memperjuangkan nasip rakyat di Kabupaten sikka. Kami tidak ingin melihat ketimpangan yang terjadi di Kabupaten sikka, apalagi mengancam nyawa seseorang. Tetapi kenapa kami diperlakukan tidak adil saat kami memperjuangkan keadilan itu. Kenapa kami dikejar dan dikeroyok bagaikan penjahat dengan alasan mengganggu Tour de Flores”, ungkap Orin lado Wea saat dikonfirmasi media ini.
Ia juga menambahkan bahwa, pengeroyokan yang dilakukan oleh aparat keamanan yang menyebabkan luka-luka dan patah tulang tersebut, disaksikan oleh Kapolres Sikka. Namun, Bapak kapolres tidak berbuat apa-apa untuk mengendalikan anak buahnya. “Saat terjadi pengeroyokan dan pemukulan, Kapolres ada di situ, tetapi dia hanya diam dan menonton’, kata Oryn.
Menurut kelompok Cipayung, kehadiran dokter ahli kandungan di Kabupaten Sikka merupakan kebutuhan yang sangat mendesak saat ini. Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini, selama proses operasi persalinan bagi para ibu yang hendak melahirkan, selalu dirujuk ke Rumah Sakit Larantuka yang jaraknya cukup jauh dari Kabupaten Sikka. Hal ini menurut mereka akan berdampak buruk pada keselamatan para ibu. Namun, pemerintah memilih diam dan tidak merespon persoalan tersebut. Karena itu mereka mendesak Bupati sikka untuk merespon persoalan tersebut dengan mengadakan dokter ahli kandungan di Sikka. Aktifis kelompok Cipayung menilai bahwa ada kebutuhan mendesak di Nian Sikka yang segera dipenuhi oleh Pemda karena sudah banyak korban.
Sementara itu, ditingkatan internal pusat, sedang melakukan koordinasi untuk membahas persoalan ini.
“Kami akan berkkordinasi dengan teman-teman kelompok cipayung lainnya, khusus GMNI, PMII dan PMKRI”, ungkap presidium Gerakan Kemasyarakatan PP PMKRI. (AT-Vis)






