Oleh : Rahmad Nasir. M.Pd (Mantan Ketua Cabang Kupang)
KAHMI merupakan organisasi tempat berkumpulnya para alumni HMI untuk membicarakan atau mendiskusikan langkah-langkah konkrit dan strategis untuk kepentingan atau kebutuhan umat dan bangsa. Sejak dahulu saya merasakan manfaat dari pergerakan KAHMI baik pada level nasional, propinsi maupun kabupaten/kota.
Sebagai anggota HMI yang telah ber-HMI dalam kurun waktu sekitar 9 tahun di HMI dan kini harus kembali ke kampung halaman untuk mengabdi, meskipun tinggal beberapa bulan status keanggotaan saya hilang dan boleh menyandang status alumni HMI. Akan tetapi sejak saya di Alor hampir setahun, saya memperhatikan aktivitas KAHMI Alor belum begitu produktif jika tidak mau dikatakan mati suri atau mungkin cocok dengan “Hidup enggan mati tak mau”. Salah satu indikatornya adalah lambatnya melakukan MUSDA KAHMI yang katanya sudah ada kepanitiaan Musdanya tetapi tertunda hampir setahun sebagaimana pernyataan ketua KAHMI Alor dalam beberapa kesempatan.
Setahu saya di NTT, KAHMI Alor dikategorikan sebagai KAHMI yang paling hidup diantara 21 Kab/Kota yang ada di NTT. Hal ini karena di Alor terjadi penumpukan kader HMI (alumni) yang pulang dari berbagai tempat perantauan yang ditambah lagi dengan alumni HMI yang bekerja/penempatan kerjanya di Alor. Jika potensi ini tidak dimanfaatkan/dikelola dengan baik maka tidak memberikan manfaat yang maksimal bagi umat dan bangsa di daerah Nusa Kenari ini.
Salah satu upaya melakukan konsolidasi alumni HMI di Alor adalah segera melakukan Musda KAHMI sehingga organisasi ini bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan. Musda KAHMI adalah kepentingan regenerasi organisasi, menunjukkan organisasi ini tidak dalam keadaan sakit serta membangun persatuan sehingga memiliki kekuatan lebih untuk berbuat atau berkontribusi bagi daerah sesuai semangat dan tujuan berdirinya organisasi ini.
Jika dibiarkan seperti ini maka sebaiknya dibubarkan saja karena stagnasi ini hanya menjadi beban sejarah bagi semua alumni yang ada di Alor. Jika pembubaran KAHMI Alor dipandang terlalu mengerikan maka segeralah untuk mengkonsolidasi kekuatan alumni HMI untuk menggelar Musda tersebut. Kepada abang/yunda yang merasa sedang diamanahi tanggung jawab ini harus bergerak secara serius untuk menuntaskan amanah penting ini.
Roda organisasi KAHMI harus berputar sebagaimana semestinya, jika tidak maka dicurigai ada patologi yang sedang menyerang organisasi bernama KAHMI Alor. Untuk menepis anggapan itu maka sesegera mungkin mengidentifikasi dimana letak kemacetan ini selanjutnya mengambil langkah-langkah taktis untuk solusinya. Sayang jika potensi alumni yang begitu banyak tidak dimanfaatkan dengan baik. Berbagai profesi alumni mulai dari bidang ekonomi/bisnis, birokrat, pendidik, politisi, petani dan sebagainya dapat berbuat lebih dalam bidangnya masing-masing lewat kekuatan KAHMI.
Saya kira KAHMI Propinsi NTT akan mensupport KAHMI Alor jika mau mulai bergerak. Apa kendalanya? Apakah kemalasan? Kesibukan alumni? Modal untuk Musda? Hilangnya semangat hijau hitam? Atau apa sebenarnya. KAHMI Alor harus segera menyadari kondisi bahwa stagnasi ini tidak baik bagi nama besar KAHMI. Kita bermimpi punya FORHATI Alor dan HIPKA Alor agar semakin melengkapi gerakan alumni HMI dalam mengabdi untuk umat dan bangsa. Berbagai kritikan untuk HMI/KAHMI bahwa kader HMI sudah terlalu banyak yang bergelut dalam dunia politik praktis, sementara yang menjadi pengusaha masih sangat sedikit. Demikian juga yang menjadi akademisi dan karya-karya tulis dalam bidang akademik (buku, jurnal dll) tidak bertumbuh begitu baik. Kritik ini sangat beralasan karena jika fondasi ekonomi kader tidak begitu baik maka sangat berpotensi melakukan tindakan-tindakan ilegal untuk memperkaya diri saat memegang tampuk kekuasaan dari rakyat.
Meskipun secara organisasi/struktural, tidak ada hubungan apa-apa antara KAHMI dan HMI namun secara emosional KAHMI dan HMI begitu dekat. Kedekatan ini tidak lantaran membuat independensi HMI harus tergadaikan oleh kepentingan senior sebagaimana nilai independensi etis dan organisatoris HMI. Bahkan jika ada usul atau saran bahkan instruksi senior yang kontradiktif dengan nilai-nilai kebenaran/kehanifan harus dilawan secara santun, demikian juga jika dipandang kritik sarannya konstruktif maka tidak ada alasan untuk mematuhinya.
Untuk itulah bantuan KAHMI baik secara moril maupun materil dalam mendukung perjuangan adik-adiknya di HMI sangat dibutuhkan demi proses pencapaian tujuan suci Himpunan. Dalam pandangan beberapa senior, KAHMI wajib dan harus mendukung perjuangan adik-adik HMI dalam berkontribusi untuk umat dan bangsa.
Jika terjadi kepincangan dalam tubuh organisasi KAHMI Alor, maka tentu ini juga secara tidak langsung akan berdampak bagi HMI Alor secara kelembagaan maupun perorangan. Untuk sementara komunikasi/koordinasi antara HMI dan KAHMI terus ditingkatkan untuk membicarakan hal ini. KAHMI Alor bisa berkoordinasi di dalam internal sedangkan untuk HMI juga harus siap mendukung pelaksanaan Musda KAHMI Alor.
Akhirnya, tulisan ini hanya untuk menggugah kita sekalian kader HMI baik sebagai anggota HMI maupun alumni HMI untuk segera menuntaskan beban sejarah ini. Mohon maaf jika junior yang fakir ini menulis gagasan yang mungkin tak begitu menyenangkan. Akan tetapi biasanya mengkritik itu punya satu alasan yakni “Cinta”. Cinta pada HMI, cinta pada KAHMI dan cinta pada Abang/Yunda sekalian. Salam Hijau Hitam. Yakin Usaha Sampai.

