JAKARTA – Poros Mahasiswa Oposisi Pemerintah (MAOP) akan menggelar aksi damai Menolak Rekonsiliasi dalam penyampaian aspirasi yang akan digelar pada Jum’at, 19 Juli 2019 di Kartanegara.
Mereka akan melakukan aksi terkait perihal wacana Rekonsiliasi antara kubu Prabowo Subianto dan Kubu Jokowi. alasan penolakan tersebut didasarkan atas dasar perihal kondisi dinamika geopolitik nasional saat ini.
Husnul Jamil, selaku inisiator aksi kepada media mengatakan, Kita perlu Hadir untuk mengembalikan Gerakan Mahasiswa saat ini telah mati suri, suara suara kita sudah jarang terdengar di istana negara, bendera bendera perjuangan sudah tidak berkibar lagi melawan api penindasan.
“Gerakan mahasiswa seolah olah hidup segan mati tak mau. Sistem demokrasi kita yang mandeg, karena demokrasi tidak lagi di artikan sebagai kebebasan dan kemerdekaan dalam menyampaikan pendapat di muka umum, sebab perlawanan atas pemerintahan berpotensi di anggap sebagai makar dan lain-lain”, Ungkapnya.
Kemudian ia juga mengatakan, Pemerintahan Jokowi sangat lemah, para koruptor dan komprador terus menggerogoti negeri ini, anak anak negeri menjerit karena busung dan lapar, perlawanan kita dibatasi oleh undang undang ITE, ruang demokrasi menjadi hampa dan semu tanpa kritik terhadap proses kebijakan pemerintah. Gedung senayan yang seharusnya di hujani dengan intrupsi malah kini bungkam dan mati suri,tidak ada lagi perjuangan atas kepentingan rakyat. Para politisi saat ini sibuk mencari koalisi dan mendapatkan kursi kekuasaan.
“Kelompok oposisi juga terkontaminasi dengan pertahana, Demokrasi tanpa oposisi bagaikan negara tanpa kedaulatan, biarkan rekonsiliasi ini milik mereka yang haus akan kedudukan dan kekuasaan. Rakyat sangat kecewa melihat sikap elit politik yang tidak konsisten dan komitmen terhadap perjuangan kedualatan rakyat”, Lanjutnya.
Tak hanya itu, Husnul mengatakan dampak terkait pertemuan Bapak Prabowo Subianto dengan Jokowi membuat rakyat indonesia menangis, kecewa, bahkan ada sebagian relawan ikut membakar baliho dan photo Prabowo dan Sandiaga Uno.
“Rakyat dan mahasiswa menginginkan ada nya poros oposisi yang akan mengawal, mengontrol dan menentang kebijakan Jokowi yang tidak memihak kepada rakyat indonesia. Karena DPR bukan lagi tempat untuk menyampaikan aspirasi, maka jalanan dan perlawanan tempat untuk kita berdiskusi”, Ungkap Husnul.
Adapun tuntutan dari Poros Mahasiswa Oposisi Pemerintah diataranya, Menuntut Prabowo Subianto untuk tidak melakukan Rekonsiliasi dengan Pemerintahan, Mengutuk Keras Partai Yang Telah Mengkhianati Kepercayaan Rakyat Pada Kontestasi Politik 2019, Mendesak Prabowo Subianto Untuk Segera Membentuk Poros Oposisi Guna Mengawal Demokrasi di Indonesia, Mendesak Partai Koalisi Untuk Komitmen dan Konsisten Atas Perjuangan Rakyat Selama Ini, Karena Perjuang Atas Perlawanan Kecurangan Pemilu dengan Darah dan Air Mata, Mendesak Poros Oposisi Agar Secepatnya Meminta Kepada Aparat Kepolisian Mengungkap Dalang Kerusuhan Di Balik 21 22 Mei dan Bertanggung Jawab Atas Kematian Para Demonstran.






