Jakarta – Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menyoroti masih adanya lebih dari satu juta anak di Indonesia yang belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Ia menegaskan pentingnya penyebaran informasi yang benar agar masyarakat tidak ragu terhadap vaksinasi.
“Jadi informasi tentang imunisasi menjadi hal yang penting, karena vaksinnya sudah ada, tenaga yang menyuntik sudah ada, fasilitas tempatnya juga sudah tersedia dan semakin dekat dengan masyarakat,” ujar Dante di Gedung Kemenkes, Jakarta, Kamis (23/4).
Ia menjelaskan, layanan imunisasi kini tidak hanya tersedia di rumah sakit, tetapi juga telah menjangkau puskesmas hingga posyandu di tingkat RW. Dengan demikian, akses masyarakat terhadap imunisasi dinilai sudah sangat mudah.
“Dulu imunisasi di rumah sakit, kemudian diturunkan ke puskesmas, sekarang bisa dilakukan di posyandu. Jadi sebenarnya tidak ada lagi hambatan akses bagi masyarakat untuk imunisasi,” lanjutnya.
Meski demikian, Dante mengakui masih adanya lebih dari satu juta anak yang belum mendapatkan imunisasi. Ia menilai hal ini dipengaruhi oleh persepsi keliru di masyarakat.
“Tapi memang masih ada satu juta lebih anak yang tidak diimunisasi. Di beberapa kantong masyarakat masih menganggap imunisasi itu tabu, berbahaya, bahkan bisa menyebabkan kelumpuhan atau kecacatan pada anak,” kata Dante.
Ia pun meminta peran media untuk meluruskan informasi tersebut. Menurutnya, seluruh vaksin yang digunakan telah melalui uji klinis yang ketat.
“Semua imunisasi yang diberikan sudah melalui serangkaian uji klinik yang melihat efektivitas, efikasi, dan efek samping. Kalau itu sudah lulus dalam kajiannya, artinya aman digunakan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Satgas Imunisasi IDAI, Hartono Gunardi, menyebut cakupan imunisasi menurun sejak pandemi COVID-19, yang turut memicu keraguan masyarakat terhadap vaksin.
“Kita tahu bahwa cakupan imunisasi menurun sejak pandemi COVID-19, dan di samping itu ada keraguan vaksin di masyarakat, apakah vaksin ini aman dan apakah penyakitnya cukup berbahaya atau tidak,” ujar Hartono.
Ia menegaskan bahwa campak bukan penyakit ringan. “Campak itu bukan sekadar demam dengan bercak merah biasa, tapi bisa menyebabkan komplikasi. Satu dari 20 anak yang menderita campak bisa mengalami radang paru-paru,” jelasnya.
Selain itu, Hartono juga menyoroti pentingnya dukungan gizi dan daya tahan tubuh anak. “Kementerian Kesehatan memberikan vitamin A pada bulan Februari dan Agustus untuk mencegah menurunnya daya tahan tubuh. Sebagian anak juga mengalami gangguan kekebalan karena infeksi penyakit seperti HIV dan penyakit lainnya,” paparnya.
Ia menekankan bahwa imunisasi merupakan langkah paling aman untuk mencegah penyakit menular. “Imunisasi merupakan salah satu upaya yang paling aman untuk mencegah penyakit infeksi yang dapat dicegah imunisasi. Bukan hanya melindungi dirinya, tapi juga melindungi anggota keluarga lain seperti orang tua, lansia, hingga teman-teman di komunitas,” lanjutnya.
“Kalau banyak yang diimunisasi, maka akan timbul kekebalan komunitas, dan ini akan menurunkan risiko penularan penyakit,” tutup Hartono.



