
Bogor, — Peresmian Pos Polisi (Pospol) Gadog Hoegeng di kawasan pintu keluar Tol Jagorawi, Puncak, Bogor, menjadi penanda penting kebangkitan kembali semangat pelayanan kepolisian yang humanis dan merakyat. Nama besar Jenderal Hoegeng, yang dikenal sebagai simbol integritas dan keteladanan, kini diabadikan dalam bentuk nyata pelayanan publik yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Keluarga besar Hoegeng Imam Santoso menyambut baik langkah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ini. Putra Hoegeng, Bambang, menyebut langkah tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada nilai-nilai dasar Polri yang berpihak pada masyarakat. “Ayah selalu ingin polisi dekat dan tulus kepada rakyat. Kami harap semangat itu tumbuh kembali,” ujarnya.
Langkah ini tidak hanya simbolis, tapi juga strategis. Pos Hoegeng di Gadog berdiri di titik rawan kemacetan dan konflik lalu lintas, utamanya saat akhir pekan dan libur nasional. Kehadiran polisi di ruang interaksi padat ini diharapkan memberi rasa aman, nyaman, dan menjadi jembatan solusi, bukan sekadar aparat penindak. Dalam konteks pelayanan modern, hadirnya pos pelayanan bernuansa historis menjadi pengingat bahwa inovasi kepolisian selalu bersumber dari kepercayaan publik.
Jaringan Aktivis Nusantara (JAN) mengapresiasi upaya Polri dalam menghidupkan kembali nilai-nilai moralitas institusional yang diwariskan tokoh-tokoh teladan seperti Hoegeng. Ketua JAN, Romadhon Jasn, menyatakan bahwa simbol ini harus menjadi energi perbaikan menyeluruh. “Bukan hanya di Gadog, spirit Hoegeng harus menjelma dalam perilaku petugas di seluruh Nusantara,” tegas Romadhon di Jakarta, Rabu (18/6).
Menurut JAN, inisiatif ini memperkuat transformasi Polri Presisi—yang menekankan prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan. Pendekatan pelayanan yang dekat dengan masyarakat harus menjadi DNA baru bagi polisi di lapangan, khususnya yang berada di pos-pos publik seperti terminal, bandara, dan pusat keramaian.
Namun, JAN juga mendorong agar simbol-simbol seperti nama Hoegeng tidak berhenti pada arsitektur atau seremoni. Ada tanggung jawab moral untuk memastikan polisi yang bertugas di Pos Gadog Hoegeng benar-benar mencerminkan pelayanan profesional dan berempati. Rekrutmen personel, pelatihan etik, dan evaluasi berkala harus menjadi bagian dari pendekatan sistemik berbasis nilai.
Di tengah kepercayaan publik yang terus tumbuh—seperti ditunjukkan oleh survei terbaru Indikator yang mencatat kepuasan publik atas kinerja Polri di angka 67,4 persen—langkah simbolik seperti ini memberi bobot emosional. Masyarakat membutuhkan figur dan sistem yang konsisten melayani, bukan hanya saat viral atau mendapat sorotan publik.
JAN mendorong agar model Pos Polisi Gadog Hoegeng menjadi proyek percontohan nasional. Lokasi strategis lainnya seperti Pelabuhan Merak, Bandara Soekarno-Hatta, dan jalur wisata lain diharapkan bisa mengadopsi pendekatan serupa: pelayanan publik berbasis integritas, responsif, dan terbuka. “Polri sedang dalam momentum pembenahan besar. Ini saatnya membangun warisan yang bermutu dan membumi,” pungkas Romadhon Jasn.





