
JAKARTA,— PT Pertamina Patra Niaga kembali menorehkan prestasi di sektor energi bersih dengan meraih sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) untuk skema Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) serta Renewable Energy Directive-European Union (RED-EU). Langkah ini menegaskan posisi Pertamina Patra Niaga sebagai pionir distribusi Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Asia Tenggara.
Sertifikasi tersebut diserahkan langsung oleh CEO PT Qualitas Sertifikasi Indonesia (QSI), Ryanza Prasetya, kepada Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri. Acara yang berlangsung dalam “Peta Jalan Pertamina: Menuju Kedaulatan Energi dengan Bisnis Berkelanjutan” itu turut dihadiri oleh pejabat penting, termasuk Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Rachmat Pambudy dan Komisaris Utama Pertamina Mochamad Iriawan.
PT QSI adalah mitra ISCC, sistem sertifikasi internasional yang membuktikan keberlanjutan dan penghematan gas rumah kaca untuk biomassa dan bioenergi. Pencapaian ini menjadi landasan penting bagi Pertamina Patra Niaga dalam mengokohkan perannya mendorong transisi energi di sektor penerbangan.
“Keberhasilan ini membuktikan bahwa Pertamina Patra Niaga tidak hanya memenuhi standar global, tetapi juga membawa nama Indonesia di kancah internasional sebagai pemain utama energi bersih,” kata Romadhon Jasn, Direktur Gagas Nusantara, Selasa di Jakarta (12/8).
Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis Pertamina Patra Niaga, Harsono Budi Santoso, menjelaskan bahwa tahun ini cakupan sertifikasi diperluas dari dua menjadi tiga bandara: Soekarno-Hatta, I Gusti Ngurah Rai, dan Halim Perdanakusuma. Penambahan ini memperbesar potensi distribusi SAF ke maskapai penerbangan nasional maupun internasional.
“Dengan jangkauan yang semakin luas, ini bukan sekadar prestasi teknis, melainkan simbol kemajuan bangsa dalam industri energi berkelanjutan,” ujar Romadhon Jasn.
Fasilitas yang memperoleh sertifikasi ISCC ini adalah Aviation Fuel Terminal (AFT) di ketiga bandara tersebut. Sertifikasi tersebut menjadi bukti bahwa infrastruktur pendukung SAF di Indonesia telah siap bersaing di level dunia, baik dari segi keamanan, kualitas, maupun keberlanjutan.
Romadhon menilai Pertamina Patra Niaga telah membuktikan diri sebagai pionir yang mampu menggabungkan inovasi teknologi, kepatuhan regulasi, dan komitmen lingkungan secara seimbang.
Harsono Budi menambahkan, sertifikasi ini adalah syarat utama untuk distribusi SAF, sekaligus cerminan komitmen dalam mendorong energi hijau. Ke depan, Pertamina Patra Niaga akan terus memperkuat kapasitas dan infrastruktur demi menjaga pasokan SAF yang andal.
“Pencapaian ini patut menjadi kebanggaan seluruh masyarakat, karena menunjukkan bahwa BUMN kita mampu berada di garis depan dalam upaya global mengurangi emisi karbon,” tutup Romadhon.





