
Johannesburg, — Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka tampil untuk pertama kalinya di panggung diplomatik global saat mewakili Presiden Prabowo Subianto dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Johannesburg, Afrika Selatan, 22–23 November 2025. Penugasan ini datang langsung dari Presiden Prabowo, yang berhalangan hadir karena agenda kenegaraan lain.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa pengiriman Wapres ke forum ekonomi terbesar dunia bukan sekadar keperluan protokoler, melainkan keputusan strategis demi memastikan Indonesia tetap memiliki suara penuh di tengah dinamika global. “Ini menunjukkan sinergi yang baik antara Presiden dan Wakil Presiden,” ujar Teddy kepada wartawan, Jumat (21/11).
Setibanya di Bandara OR Tambo, Johannesburg, Gibran menerima upacara kehormatan, termasuk tarian tradisional Pantsula yang menjadi ciri khas Afrika Selatan. Pada Sabtu pagi, ia tampil sebagai pembicara ke-13 dalam sesi pleno G20, menyampaikan pidato kenegaraan sepanjang tujuh menit sebuah momen yang menjadi ujian perdana bagi figur Wapres berusia 38 tahun itu.
Dalam pidatonya, Gibran menekankan pentingnya solidaritas global untuk menghadapi ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, dan transisi energi. Ia menekankan agar negara berkembang tidak menjadi korban dalam revolusi energi hijau. “Indonesia berkomitmen mendorong kerja sama Selatan-Selatan serta memastikan negara berkembang tidak tertinggal dalam revolusi energi hijau,” ujarnya, disambut tepuk tangan delegasi.
Gibran juga merilis capaian bilateral yang cukup signifikan: kesepakatan bebas visa bagi pemegang paspor diplomatik dan dinas antara Indonesia–Afrika Selatan, serta rencana memperluas bebas visa untuk wisatawan umum. Langkah ini disebut sebagai penguatan hubungan yang mengakar sejak era Soekarno–Mandela.
Selain sesi pleno, Gibran menghadiri Indonesia–Africa CEO Forum dan bertemu sejumlah pemimpin delegasi. Dalam setiap pertemuan, ia membawa pesan dari Presiden Prabowo, sekaligus mengundang komunitas bisnis Afrika untuk berinvestasi di Ibu Kota Nusantara (IKN). Kehadirannya dinilai sebagai strategi memperluas jejaring ekonomi Indonesia di benua potensial tersebut.
Di tingkat domestik, publik memberikan respons beragam. Pendukung pemerintah melihat ini sebagai langkah berani yang meneguhkan posisi Indonesia di dunia, sementara kalangan oposisi menyebutnya sebagai pencitraan yang belum tentu menjawab persoalan dalam negeri. Namun sebagian analis melihat penugasan ini sebagai langkah tepat dalam diplomasi generasi baru.
Romadhon Jasn dari Gagas Nusantara menyampaikan analisis yang lebih strategis: “Penugasan ini menjadi ruang pembuktian yang telah disiapkan Wapres Mas Gibran melalui proses belajar dan pengalaman yang ia jalani dengan konsisten. Setiap kritik justru menguatkan ketahanannya, dan penampilan seperti ini perlahan menggeser sentimen publik dari keraguan menuju apresiasi yang lebih dewasa,” dalam pernyataannya kepada awak media, Minggu (23/11/2025).
Menurut Romadhon, Gibran sedang memasuki fase baru: dari politisi lokal menjadi figur internasional yang diperhitungkan. Setiap sorotan baik kritik maupun dukungan menjadi bahan bakar penguatan posisi politiknya. Apalagi, performanya di G20 dinilai stabil, rapi, dan tanpa insiden, sehingga menambah legitimasi sebagai wakil kepala negara.
Secara protokoler dan substansi, kehadiran Indonesia dalam KTT G20 Afrika Selatan berjalan tanpa hambatan. Gibran dijadwalkan kembali ke Tanah Air pada Senin (24/11) setelah menyelesaikan seluruh agenda bilateral dan plenary.
Bagi banyak pengamat, penugasan ini bukan sekadar perjalanan diplomatik, tetapi juga ajang pembuktian di panggung global bagi Gibran. Dari cara ia menjalankan seluruh agenda hingga respon yang muncul, terlihat bahwa ia mampu melewati ujian tersebut dengan tenang dan meyakinkan, menunjukkan bahwa dirinya semakin layak diperhitungkan dalam lanskap kepemimpinan modern Indonesia.





