Jakarta – Indonesia sedang dalam situasi genting. Pekan ini saja, Bareskrim Polri berhasil mencegah peredaran narkoba dalam jumlah mengerikan. Puluhan ribu butir ekstasi dan puluhan kilogram ganja disita dari berbagai sindikat. Mulai dari awak pesawat asing hingga jaringan berbasis narapidana. Ini bukan catatan biasa, ini pertaruhan nyawa generasi muda yang hampir melayang.
Kasus paling mencengangkan terjadi Sabtu (2/8) saat aparat menggerebek apartemen di Jakarta Selatan. Seorang kopilot Malaysia Airlines, Muhamad Rosli (34), diringkus dengan 70.114 butir ekstasi seberat 26 kg dalam koper. Hasil tes urine mengonfirmasi ia positif narkoba saat bertugas menerbangkan rute Kuala Lumpur-Jakarta. Ironis, sosok yang seharusnya menjaga keselamatan penumpang justru membawa petaka.
Pengungkapan ini mengguncang dunia penerbangan internasional. Malaysia berjanji mengusut tuntas peredaran narkoba di kalangan kru maskapai. Polri menduga pria yang baru tiga bulan mengabdi ini terhubung dengan jaringan global yang memanfaatkan akses bebas bagasi kabin. Sebuah lubang keamanan yang selama ini luput dari perhatian kini terbongkar.
Tak hanya ekstasi, Bareskrim juga menghadang 20 kg ganja menuju Kampung Bahari, Jakarta Utara. Wilayah yang dikenal sebagai sarang narkoba itu nyaris kebanjiran barang haram. Penggagalan ini menyelamatkan 26.787 jiwa dari paparan ganja jumlah yang setara dengan populasi sebuah kecamatan.
Polisi juga membongkar 10 kg ganja yang dikendalikan dari balik jeruji Lapas Rajabasa, Lampung. Seorang narapidana berinisial A menjadi otak pengiriman. Fakta ini menunjukkan bahwa sindikat bahkan menjadikan penjara sebagai markas operasi mereka.
Jaringan Aktivis Nusantara (JAN) menyoroti seriusnya ancaman ini. Ketua JAN, Romadhon Jasn, menegaskan bahwa pengungkapan besar ini hanyalah puncak gunung es.
“Kita sedang menghadapi krisis narkoba yang nyata. Pengedar dari kalangan pilot, napi pengendali, modus makin rumit. Kami dan masyarakat memberi penghargaan dan mendukung kepada polri untuk berantas samapai ke akarnya, tapi ini baru permulaan. Ancaman sesungguhnya mungkin masih tersembunyi,” ujar Romadhon, kepada awak media, Selasa (4/8/2026).
Modus yang melibatkan awak pesawat sangat meresahkan. Urine sintetis dan akses bebas bagasi kabin membuka peluang yang selama ini tak terbayangkan. Jika 70.114 butir ekstasi lolos ke tangan anak muda, dampaknya akan menghancurkan puluhan ribu masa depan.
“Kasus ini menjadi alarm bagi semua pihak. Jaringan narkoba terus berinovasi dan tak kenal takut. Polri wajib meningkatkan pengawasan di setiap sektor, termasuk transportasi udara. Kita tak bisa lagi lengah,” kata Romadhon.
Total narkoba yang berhasil dicegat dalam sepekan sungguh luar biasa. Ribuan generasi penerus bangsa terselamatkan dari kehancuran. Setiap gram yang disita adalah nyawa yang tertolong. Namun pertempuran ini masih panjang. JAN mendorong Bareskrim untuk mengejar akar jaringan hingga ke luar negeri.
“Kami berharap buronan segera dikejar dan rantai pasok diputus total. Perang melawan narkoba adalah perang melawan masa depan bangsa. Dukungan masyarakat sangat diperlukan. Mari kita lindungi anak-anak kita dari bahaya yang mengintai,” pungkas Romadhon.






