Jakarta, 1 September 2026 – Namanya mungkin belum setenar pahlawan nasional lainnya. Namun, Ario Soejono mencatatkan sejarah sebagai satu-satunya warga negara Indonesia yang pernah menjadi menteri di pemerintahan Belanda .
Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 6 Juni 1942. Saat itu, Perdana Menteri Belanda Pieter Sjoerd Gerbrandy mengangkat Soejono sebagai menteri tanpa departemen dalam kabinetnya yang berada dalam pengasingan di London .
Pengangkatan tersebut menjadi momen penting karena untuk pertama kalinya seorang Indonesia masuk dalam jajaran pemerintahan Belanda. “Saat bersejarah, karena sekarang untuk pertama kalinya seorang putra bangsa Indonesia menjadi anggota pemerintahan Belanda,” kata Gerbrandy dalam pidato kenegaraan yang disambut tepuk tangan meriah .
Profil Ario Soejono
Soejono lahir di Tulungagung, Jawa Timur, pada 31 Maret 1886 dari keluarga priyayi terpandang. Ayahnya menjabat sebagai Bupati Tulungagung, sehingga Soejono mendapat kesempatan mengenyam pendidikan yang baik dan berkarier di pemerintahan kolonial .
Kariernya cemerlang. Ia memulai sebagai asisten wedana pada 1911 dan pada usia sekitar 30 tahun dipercaya menjadi Bupati Pasuruan (1915-1927). Soejono juga menjadi anggota Volksraad, lembaga perwakilan pada zaman kolonial, periode 1920-1930 .
Perjuangan di Balik Jabatan Menteri
Pemerintah Belanda mengangkat Soejono untuk menekankan ikatan nasib antara Belanda dan Indonesia di tengah Perang Dunia II . Namun, Soejono justru memanfaatkan posisinya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Selama menjadi menteri, Soejono menyuarakan bahwa masyarakat Indonesia ingin memutuskan hubungan dengan Belanda. Bahkan, ia menolak usulan Menteri Tanah Jajahan van Mook yang hanya menawarkan hubungan yang lebih setara. “Untuk Soejono, itu saja tidak cukup. Menurutnya, Indonesia harus merdeka sepenuhnya,” ungkap Martin Bossenbroek dalam buku Pembalasan Dendam Diponegoro (2023) .
Tuntutan Soejono tidak didengar Gerbrandy dan anggota kabinet lainnya. Namun, ia tetap mempertahankan posisinya sambil terus menyuarakan kepentingan Indonesia. Perjuangannya tidak berlangsung lama karena ia meninggal dunia di London pada 5 Januari 1943 .






