Visioner, 24 Agustus 2026 – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang setiap tahun dirayakan dengan meriah di berbagai negara Muslim, nyaris tidak terlihat di Arab Saudi. Hal ini bukan karena mereka tidak mencintai Rasulullah, tetapi didasari oleh perbedaan pandangan keagamaan yang telah mengakar di Kerajaan Saudi.
Perbedaan utama terletak pada interpretasi tentang apa yang termasuk dalam ajaran agama (ibadah) dan apa yang merupakan tradisi atau budaya (adat). Berikut adalah alasan utama di balik sikap Arab Saudi mengenai peringatan Maulid Nabi:
- Keyakinan bahwa Maulid Adalah Bid’ah
Pandangan resmi di Arab Saudi, yang didasarkan pada interpretasi ketat dari Al-Qur’an dan Hadits, menganggap perayaan Maulid sebagai bid’ah (inovasi dalam agama). Mereka berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW sendiri tidak pernah memerintahkan atau merayakan hari kelahirannya, dan para sahabat serta generasi awal umat Islam (salaf) juga tidak melakukannya. Oleh karena itu, dianggap sebagai tambahan dalam agama yang tidak memiliki landasan.
- Menghindari Penyerupaan dengan Perayaan Non-Muslim
Ada kekhawatiran bahwa merayakan hari kelahiran Nabi secara khusus bisa menyerupai tradisi perayaan ulang tahun atau hari kelahiran tokoh penting dalam agama lain. Prinsip ini sejalan dengan keinginan untuk menjaga kemurnian ajaran Islam dari pengaruh budaya luar.
- Islam Sudah Memiliki Perayaan Dua Hari Raya
Dalam pandangan mereka, Islam telah menetapkan dua hari raya besar (Idul Fitri dan Idul Adha) sebagai hari perayaan dan kegembiraan. Merayakan hari-hari lain sebagai hari raya keagamaan dianggap sebagai tambahan yang tidak perlu.
- Peringatan Itu Setiap Hari, Bukan Hanya Satu Hari
Meskipun tidak merayakan Maulid, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW diwujudkan dengan cara yang berbeda, yaitu melalui mengikuti sunnah, membaca shalawat, dan mempelajari sirah (kehidupan) Nabi sepanjang tahun, bukan hanya pada satu hari tertentu.
Respons Dunia Islam dan Tradisi Lokal
Perbedaan pandangan ini bukanlah hal baru dan telah berlangsung lama dalam sejarah Islam. Mayoritas umat Islam di Indonesia, misalnya, merayakan Maulid sebagai bentuk ekspresi kecintaan dan syiar Islam yang telah menjadi tradisi turun-temurun, yang kaya dengan nilai-nilai budaya lokal. Pada akhirnya, perbedaan ini menjadi bagian dari kekayaan khazanah pemikiran dalam Islam mengenai bagaimana menghormati dan mencintai Nabi Muhammad SAW.






