
Jakarta — Siapa bilang menjadi kota global harus selalu berwajah tegang?
Jakarta justru menapaki panggung dunia dengan cara yang berbeda: sedikit santai, penuh senyum, tapi tetap berprestasi.Hal itu tergambar dari pernyataan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang menanggapi kabar Jakarta masuk dalam daftar Top 71 Global Cities 2025.
Dengan nada bercanda khasnya, Pramono mengatakan,“Mungkin karena gubernurnya lucu.”
Komentar singkat itu langsung menjadi bahan perbincangan di dunia maya. Banyak warga mengaku terhibur, bahkan menilai gaya ringan Pramono justru mencerminkan kepercayaan diri seorang pemimpin yang tenang menghadapi tantangan.
“Lucu boleh, tapi hasilnya serius. Jakarta memang pantas diakui dunia,” tulis salah satu warga Jakarta dalam kolom komentar media sosial.
Ketua Umum Jaringan Masyarakat Madura (JAMMA), Edi Homaidi, ikut menanggapi pernyataan tersebut dengan senyum. “Lucu itu bukan kelemahan, justru kekuatan. Gubernur yang bisa bikin rakyatnya tersenyum biasanya lebih dekat dan lebih jujur,” ujarnya di Jakarta, Rabu (15/10/2025). Menurut Edi, gaya Pramono menunjukkan bahwa kepemimpinan modern tidak selalu harus kaku dan penuh retorika.
“Terlalu banyak pemimpin yang tampil tegang tapi hasilnya malah bikin rakyat stres. Pramono datang dengan gaya yang manusiawi — lucu tapi kerja nyata,” tambahnya.
Capaian Jakarta sebagai kota global bukan kebetulan.
Laporan Global City Index 2025 menilai Jakarta unggul dalam konektivitas digital, transportasi publik, tata ruang hijau, dan ketahanan kota terhadap perubahan iklim.
Peningkatan di bidang kebersihan kota dan efisiensi birokrasi juga disebut sebagai faktor yang mengangkat peringkat Jakarta.
Namun, bagi Edi Homaidi, hal paling menarik bukan hanya capaian teknokratis, tapi juga suasana sosial yang lebih cair dan hangat di bawah kepemimpinan Pramono.
“Warga Jakarta itu sudah cukup sibuk dan penat. Kalau pemimpinnya bisa bikin mereka tertawa tanpa kehilangan arah, itu seni memimpin yang patut diapresiasi,” katanya.
Edi juga menambahkan, gaya ringan Pramono dapat menjadi contoh bagi kepala daerah lain.
“Kepemimpinan yang lucu bukan berarti tidak tegas. Justru dengan gaya seperti itu, komunikasi dengan rakyat jadi lebih hidup, lebih jujur, dan lebih menenangkan,” ujarnya.
Di akhir komentarnya, Edi menutup dengan kalimat yang mencerminkan semangat positif:
“Kalau gubernurnya lucu dan rakyatnya bahagia, mungkin itu memang resep rahasia kenapa Jakarta bisa jadi kota global. Karena di balik kemajuan, kota ini tetap punya rasa dan rasa itu bernama tawa.”





