
Oleh: Yamin
(Peserta LK III BADKO HMI JABODETABEK-BANTEN)
Perubahan sosial yang terus terjadi seiring dengan perkembangan peradaban umat dan bangsa Indonesia, tentu saja memiliki implikasi bagi tumbuh kembangnya HMI di dunia pergerakan pemuda dan mahasiswa. Terlebih lagi bagi HMI yang sudah mencapai titik jenuhnya dalam berorganisasi selama masa orde baru, HMI berada dalam comfort zone di lingkungan elite dan kekuasaan. Padahal peran pergerakan pemuda dan mahasiswa yang utama adalah untuk melakukan perubahan, pembaharuan dan pembangunan di dalam masyarakat. Dan HMI dalam hal ini telah kehilangan sentuhan tradisinya untuk melakukan hal tersebut karena kegiatan perkaderan organisasi telah kehilangan ruh kekritisan dan progressifitasnya, dan berubah menjadi kegiatan rutin belaka.
Oleh karena itu, kemampuan organisasi untuk beradaptasi dan membaca arus zaman harus menjadi ujung tombak metodologi gerakan agar dapat terus menjaga eksistensi sistem perkaderan dan pencapaian misinya. Bila pedoman-pedoman organisasi, nilai-nilai dasar perjuangan, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga sekadar dimaknai sebagai dokumen tanpa makna dan tafsir sebagai ruh untuk mencapai tujuan besar organisasi, maka telah sampailah organisasi pergerakan tersebut kepada titik nadir ruh perjuangannya. Oleh karena itu, cerita soal kebesaran masa lalu dan sistem senioritas menjadi hukum tidak tertulis namun telah menjadi panduan baku bagi kader dan seolah menjadi dogma yang merasuki dan menghantui tiap kader, sehingga kreatifitas kader untuk melakukan perubahan, pembaharuan dan pembangunan terbelenggu oleh beban sejarah.
HMI melandaskan diri pada sistem nilai dalam pergerakannya, yaitu landasan nilai yang sifatnya politis, landasan nilai yang sifatnya ideologis dan landasan nilai yang sifatnya sosiologis. Landasan nilai politis HMI sesuai dengan apa yang tercantum pada tujuan organisasi, namun dalam ini landasan nilai politis tidak berarti kekuasaan, tetapi ini adalah politik HMI untuk menyumbangkan segala daya dan usaha aktifitas organisasi untuk menciptakan peradaban yang lebih baik bagi Indonesia dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Landasan nilai ideologis HMI sudah tentu adalah yang tercantum pada Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang merupakan usaha dari HMI dalam merangkum dan merumuskan nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Quran untuk dijadikan pedoman mereka untuk mewujudkan misi dan tujuan organisasi. Bila landasan nilai politis dan landasan nilai ideologis itu tercantum secara formal di dalam konstitusi HMI, maka landasan ketiga yaitu landasan nilai sosiologis, yang lahir dari situasi budaya dan aktifitas HMI dalam mewujudkan misinya. Kultur di dalam HMI ini membentuk nilai-nilai fundamental yang berfungsi membentuk karakter kader-kader HMI, dan juga menjadi solidarity value dari keberagaman yang ada di HMI. Nilai-nilai fundamental yang dimiliki oleh HMI tersebut yaitu kebenaran, kebebasan intelektual, inklusifitas, pluralisme, idea of progress, academic excelent (rasional, objeltif, kritis, ilmiah, dan professional), intregitas kader (mandiri, bertanggungjawab, jujur dan adil), persaudaraan dan kemanusiaan, keberpihakan kepada mustadafin (pihak yang tertindas) dan independent.
Ketiga landasan perjuangan di atas (red: politis, ideologis, dan sosiologis) harus diderivasikan menjadi strategi organisasi ketika menghadapi realitas di dalam masyarakat. Strategi tersebut harus berhubungan dengan tiga ranah aktifitas HMI yaitu ranah organisasi, ranah intelektual, dan ranah kebangsaan. Paradigma baru strategi implementasi misi HMI yang bergerak di ranah intelektual dan keumatan berupa gerakan pengilmuan Islam, diranah keorganisasian berupa penerapan manajemen strategis, dan di ranah kebangsaan berupa wacana nasionalisme progressif.
Sudah menjadi fitrah bagi HMI untuk terus melahirkan generasi manusia-manusia Indonesia yang memiliki kualitas dan kompetensi untuk memimpin bangsanya dari masa ke masa. Oleh karena itu HMI harus mampu selalu memberikan gagasan, ide, serta konsep untuk melakukan perubahan, pembaharuan dan pembangunan untuk menciptakan peradaban Indonesia yang lebih baik. Diperlukan strategi yang tepat serta kemampuan dalam menangkap semangat zaman sebagai modal utama HMI dalam mempertahankan posisi dan peran strategisnya pada kehidupan kebangsaan dan keumatan. Inilah tugas kita sebagai generasi yang sedang memangku amanah di setiap level organisasi HMI untuk berjuang memikirkan strategi guna mengimplementasi misi organisasi yang compatible dengan zamannya
