
Jakarta, 10 Juni 2025 – Polri menggelar Panen Raya Serentak jagung di sejumlah provinsi, termasuk Lampung, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan, sekaligus melepas 3.200 ton jagung ekspor ke Singapura dan Timor Leste melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pada awal Juni 2025.
Rangkaian panen raya tersebut juga meliputi pembangunan 18 gudang penyimpanan jagung di wilayah-wilayah rawan pasokan, seperti Sumatera Selatan dan Nusa Tenggara Timur. Gudang-gudang ini menggunakan teknologi pendinginan canggih untuk mengurangi kerusakan hasil panen hingga 15 %.
Jaringan Aktivis Nusantara (JAN) menyambut baik kolaborasi antarlembaga ini. Ketua JAN, Romadhon Jasn, menilai peran Polri dalam sektor pertanian bukan hanya simbolik, melainkan wujud nyata Polri Presisi memperkuat ketahanan pangan. “Keberhasilan panen raya dan ekspor jagung menunjukkan Polri tak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan petani dan stabilitas pangan nasional,” kata Romadhon, Kamis (5/6)
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung nasional pada Januari–Juli 2025 mencapai 9,45 juta ton, naik 11,08 % dibanding periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini diikuti oleh perluasan luas panen jagung hingga 1,66 juta hektare, berkat adopsi varietas hibrida unggul dan teknologi pertanian presisi.
Romadhon Jasn mengingatkan, selain apresiasi, perlu pengawasan agar fasilitas penyimpanan dan ekspor berjalan efisien. “Dengan hadirnya 18 gudang, tantangan selanjutnya adalah transparansi manajemen setiap gudang. JAN siap berkolaborasi memastikan anggaran pembangunan dan operasional gudang dipergunakan sesuai ketentuan,” ujarnya.
Di Lampung, kehadiran aparat Polri yang turut turun langsung membantu proses panen memberikan nilai tambah. Beberapa kelompok tani melaporkan peningkatan hasil panen hingga 20 % karena bantuan teknologi sortasi biji jagung dan mesin pengering tenaga surya yang disediakan melalui koordinasi Polri–Kementan.
Romadhon Jasn menekankan bahwa teknologi dan sumber daya Polri harus diimbangi pola kemitraan yang transparan. “Integrasi teknologi dalam panen raya harus dibuka akses evaluasi kepada petani, pemerintah daerah, dan masyarakat sipil. Ini penting agar inovasi benar-benar meningkatkan produktivitas, bukan sekadar program sesaat,” tuturnya.
Pemerintah menargetkan ekspor jagung hingga 500.000 ton pada akhir 2025. Kolaborasi antara Polri, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Perdagangan diharapkan memperkuat logistik dan sertifikasi mutu. Penyiapan gudang penyimpanan sebagai buffer stok domestik menjadi kunci menjaga harga jagung di dalam negeri tetap stabil.
Romadhon Jasn mengingatkan bahwa ekspor jagung harus menyeimbangkan kebutuhan dalam negeri. “JAN mendukung upaya meningkatkan devisa melalui ekspor, namun jangan sampai petani kehilangan kepastian pasar lokal. Pemerintah perlu menetapkan kuota penjualan domestik dan ekspor secara jelas,” ujarnya.
Ke depan, JAN akan terus memantau implementasi program Panen Raya Serentak Polri dan operasional gudang baru. Romadhon mengajak semua pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat, untuk mendukung keberlanjutan program ini. “Ketahanan pangan adalah tanggung jawab bersama, dan Polri telah menunjukkan langkah nyata. Kini tugas kita menjaga agar program ini membumi dan terasa benefisiarinya bagi petani serta konsumen,” tutup Romadhon Jasn.





