
Jakarta,- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk memasuki babak baru di tahun 2025 dengan ujian yang tidak ringan. Di tengah derasnya arus digitalisasi global, perusahaan pelat merah ini dihadapkan pada restrukturisasi besar-besaran yang berpotensi memengaruhi hingga 5.000 karyawan. Persaingan ketat industri digital, ancaman keamanan siber yang kian kompleks, serta tuntutan pelanggan untuk layanan yang lebih cepat dan personal, menjadi rangkaian tantangan yang tak bisa dihindari.
Meski menimbulkan kekhawatiran publik, manajemen Telkom menegaskan bahwa restrukturisasi bukan sekadar pemangkasan, melainkan upaya optimalisasi sumber daya untuk mempercepat transformasi digital. Data internal menunjukkan bahwa kontribusi pendapatan non-seluler Telkom meningkat signifikan, dari 44% pada 2022 menjadi hampir 50% di awal 2025. Perubahan ini menjadi sinyal kuat bahwa arah bisnis tengah bergeser ke sektor digital dan data center yang lebih menjanjikan.
Restrukturisasi juga menjadi jawaban atas tekanan bisnis yang datang dari dua arah: kompetitor swasta yang agresif dan perubahan perilaku konsumen yang semakin mengandalkan layanan digital real-time. Telkom menyiapkan roadmap transformasi jangka panjang yang mencakup investasi jaringan 5G senilai Rp 13 triliun, serta perluasan kapasitas pusat data hingga 75 MW pada 2027.
Pemerhati Kebijakan Publik, Romadhon Jasn, menilai langkah ini sebagai manuver strategis yang berani. “Restrukturisasi Telkom harus dibaca sebagai adaptasi untuk masa depan, bukan sekadar efisiensi jangka pendek. Transparansi dan komunikasi yang konsisten kepada publik akan mengubah kekhawatiran menjadi dukungan,” ujar Romadhon Jasn di Jakarta, Jumat (15/9/2025).
Ancaman keamanan siber menjadi salah satu fokus utama. Sepanjang 2024, Indonesia mencatat lebih dari 1,6 miliar upaya serangan siber, menurut data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Sebagai penyedia infrastruktur digital nasional, Telkom meningkatkan anggaran keamanan informasi hingga 25% tahun ini, memperkuat sistem deteksi dini dan kerja sama dengan lembaga internasional.
“Di era konektivitas tanpa batas, keamanan siber adalah pondasi. Jika pondasinya rapuh, seluruh bangunan digital akan runtuh. Telkom punya tanggung jawab strategis untuk memastikan perlindungan data berjalan setara dengan kecepatan inovasi,” tegas Romadhon.
Pelayanan pelanggan juga menjadi sorotan. Survei independen menunjukkan kepuasan pelanggan Telkom meningkat tipis dari 78,4% pada 2023 menjadi 80,1% di kuartal I 2025, berkat digitalisasi layanan pengaduan dan penambahan fitur self-service. Namun, kecepatan respon di beberapa wilayah masih perlu perbaikan.
“Pelanggan kini tidak hanya membeli layanan, tetapi juga pengalaman. Telkom harus hadir dengan sentuhan personal yang berbasis data agar bisa menciptakan loyalitas jangka panjang,” kata Romadhon.
Kolaborasi lintas sektor juga digenjot. Telkom menggandeng lebih dari 200 startup lokal melalui program Indigo, dan memperluas kerja sama internasional untuk kabel laut Bifrost yang menghubungkan Indonesia dengan Asia-Pasifik. Infrastruktur ini diproyeksikan mampu mengalirkan data hingga 150 Tbps, memperkuat posisi Indonesia di peta ekonomi digital global.
“Transformasi Telkom tidak hanya soal teknologi, tetapi juga membangun ekosistem yang memberi manfaat luas bagi masyarakat dan negara. Dukungan publik akan menjadi energi yang mempercepat langkah menuju posisi sebagai pilar utama ekonomi digital Indonesia,” tutup Romadhon Jasn.





