
Jakarta,- PT Agrinas Jaladri Nusantara (Persero), BUMN yang bergerak di sektor perikanan dan jasa konsultansi konstruksi, resmi menjalin kerja sama strategis dengan Universitas Padjadjaran (Unpad) pada Agustus 2025. Nota Kesepahaman ditandatangani oleh Rektor Unpad, Prof. Arief S. Kartasasmita, dan Direktur Utama PT Agrinas Jaladri Nusantara, Kharisma Febriansyah, di Ruang Rapat Bersama Livin, Gedung Rektorat Unpad Jatinangor, disaksikan jajaran pimpinan universitas dan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK).
Kerja sama ini meliputi riset bersama, pengembangan teknologi budidaya perikanan, pelatihan nelayan, dan peningkatan kapasitas SDM sektor perikanan. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2024 menunjukkan produksi perikanan budidaya Indonesia mencapai 18,6 juta ton, namun potensi besar ini belum sepenuhnya dimanfaatkan akibat keterbatasan teknologi, rantai pasok, dan pengelolaan berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Rektor Prof. Arief menyebut kerja sama ini sebagai wujud nyata implementasi ilmu pengetahuan untuk mendukung pemerintah dalam memberdayakan kekayaan maritim Indonesia. “Kami ingin apa yang ada di Unpad betul-betul dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kami tidak bisa melakukannya sendiri, sehingga kemitraan ini menjadi salah satu cara mewujudkan visi kami,” ujarnya.
Pemerhati Kebijakan publik, Romadhon Jasn, menilai kemitraan BUMN dan universitas ini bukan sekadar seremoni. “Kolaborasi ini akan membentuk ekosistem perikanan yang berbasis data dan riset lapangan, sehingga keputusan yang diambil tidak hanya cepat, tapi juga tepat sasaran dan berpihak pada keberlanjutan dan publik sangat apresiatif,” ujarnya di Jakarta, Jumat (15/8/2025)
Direktur Utama PT Agrinas Jaladri Nusantara, Kharisma Febriansyah, menyebut langkah ini sebagai awal pengembangan perikanan Indonesia yang efisien dan ramah lingkungan. Ia berharap kerja sama tidak hanya terjalin dengan FPIK Unpad, tetapi juga fakultas lain, serta membuka peluang magang dan pengabdian masyarakat bagi mahasiswa. Menurutnya, dukungan riset, fasilitas laboratorium, dan SDM yang terlatih sangat penting bagi pertumbuhan perusahaan.
“Ilmu yang ada di kampus harus dibawa ke laut dan kolam, bukan hanya berhenti di laboratorium. Dengan sinergi ini, hasil riset bisa langsung diadopsi masyarakat dan memberikan dampak nyata pada kesejahteraan nelayan,” kata Romadhon Jasn.
Selain inovasi teknologi budidaya seperti sistem bioflok dan resirkulasi air (RAS), program ini memprioritaskan pelatihan manajemen usaha, pasca-panen, dan pemasaran digital untuk nelayan tradisional. KKP mencatat 60% nelayan di Indonesia masih memakai metode konvensional yang membatasi produktivitas dan daya saing di pasar global.
“Transformasi nelayan dari sekadar pencari ikan menjadi pengelola usaha adalah kunci. Pelatihan berbasis komunitas akan membuat perubahan lebih cepat diterima dan diadaptasi,” tutur Romadhon.
Agrinas juga berencana mengembangkan cold storage dan pusat pengolahan hasil di wilayah pesisir strategis untuk menekan kehilangan pasca-panen yang mencapai 25–30% secara nasional. Dengan kualitas produk terjaga, nilai tambah bisa naik hingga 40% di pasar domestik maupun ekspor.
“Kerja sama ini memberi pesan bahwa keberlanjutan laut tidak hanya soal konservasi, tapi juga kesejahteraan masyarakat pesisir. Jika riset, teknologi, dan pasar berjalan seimbang, maka laut kita akan tetap kaya dan nelayan kita akan tetap sejahtera,” pungkas Romadhon Jasn.





