Bercita-cita menjadi menteri, Tasya Kamila ingin melanjutkan S-2 ke Amerika
Mantan penyanyi cilik, Shafa Tasya Kamila (22) rupanya ingin melanjutkan pendidikan S-2 ke Amerika Serikat demi mengejar cita-citanya untuk menjadi seorang menteri di kemudian hari. “Jadi itu dia aku terusin. Aku kan cita-citanya pengin jadi menteri,” ujar Tasya seperti dilansir Kompas.com.
Jika nantinya menjadi seorang menteri, Tasya mengaku tidak ingin menjadi seorang pejabat tinggi negara yang tidak paham bidang yang diemban. “Masa kalian mau menterinya enggak sekolah tinggi? Jadi lebih prefer sekolah di bidangnya,” jelas perempuan yang berencana mengambil studi Master Public Policy tersebut.
Penyanyi yang popular lewat lagu “Aku Anak Gembala” itu mengatakan bahwa dia telanjur jatuh cinta dengan ilmu kebijakan publik. “Karena selama ini aku jadi duta lingkungan dan konsumen. Aku juga baru mendirikan yayasan lingkungan. Kebijakan publik jadi salah satu interest aku,” ucap Tasya.
Orang Tua Tasya Berharap Lain
Meski merasa sudah mantap dengan studi yang menjadi pilihannya, Tasya justru bimbang. Alasannya, sang ayah yang juga merupakan seorang auditor sekaligus dosen akunting di Universitas Indonesia mempunyai harapan yang berbeda. “Papa kan seorang auditor. Dia bilang, ‘Kenapa enggak akunting aja sih S-2-nya?’ Sekarang dilema deh,” kata Tasya.
Selain itu, keinginannya untuk melanjutkan studi S-2 ke Amerika Serikat ternyata bertolak belakang dengan harapan ibundanya yang menginginkan seorang menantu. “Emm… terus Mamaku bilang, ‘Kamu jangan kelamaan (S-2-nya). Nanti kapan kawinnya?’,”
Tasya mengatakan, untuk melanjutkan pendidikan S-2 di AS, dirinya paling tidak membutuhkan waktu selama dua tahun. “Mama pengin aku di UK (Inggris). Soalnya UK satu tahun, Amerika dua tahun,” ucapnya. Namun, Tasya berbulat untuk memilih studi Kebijakan Publik di salah satu universitas di AS daripada berkuliah di Inggris. “Di sana is the best,” kata Tasya.
Selain alasan itu, ada juga pertimbangan lain yang menjadi tolok ukur Tasya. Tasya mengaku ingin belajar hidup mandiri dan mengetahui kehidupan di negara yang dikenal sebagai negara adikuasa itu. “Selama ini hanya nonton di TV. Kakak ipar aku tahun ini juga berangkat ke sana, ambil PhD, jadi ada keluarga juga di sana,” pungkasnya. (Syaifulloh Amir/DZ)

