Jakarta, 9 Oktober 2026 – Iklan produk kental manis dinilai berhasil melekat kuat di ingatan masyarakat Indonesia. Hal ini tidak lepas dari strategi pemasaran yang konsisten, pendekatan emosional, serta penetrasi pasar yang masif selama puluhan tahun.
Pengamat komunikasi pemasaran dari Universitas Indonesia, Dr. Firman Noor, menilai bahwa iklan kental manis memiliki ciri khas yang sulit dilupakan. Mulai dari jingle yang mudah diingat, visual keluarga hangat, hingga klaim yang selalu menekankan kebersamaan.
“Iklan kental manis itu bukan sekadar jualan produk, tapi jualan memori. Banyak orang yang tumbuh besar dengan iklan itu, sehingga ada ikatan emosional yang kuat,” ujarnya, Jumat (9/10/2026).
Strategi yang Konsisten
Selama puluhan tahun, produsen kental manis menggunakan pola serupa: menampilkan keluarga bahagia, anak-anak yang ceria, dan momen kebersamaan di meja makan. Pendekatan ini terbukti efektif membangun kedekatan dengan konsumen dari generasi ke generasi.
“Mereka konsisten. Tidak ganti-ganti konsep besar. Yang berubah hanya kemasan dan bintang iklannya. Tapi pesan utamanya tetap sama: kehangatan keluarga,” tambah Firman.
Selain itu, penetrasi pasar yang masif juga menjadi kunci. Kental manis dijual hampir di seluruh warung, toko kelontong, hingga minimarket di pelosok negeri. Harganya yang terjangkau membuat produk ini mudah diakses oleh semua lapisan masyarakat.
Kritik dan Kontroversi
Meski berhasil secara pemasaran, iklan kental manis juga menuai kritik. Sejumlah pihak menilai iklan kental manis sering menyesatkan, terutama karena menggambarkan produk ini sebagai susu, padahal kandungan gulanya sangat tinggi.
“Ada masalah etika dalam pemasaran. Kental manis itu bukan susu, tapi sering diiklankan seolah-olah susu. Ini bisa membahayakan kesehatan, terutama anak-anak,” ujar seorang aktivis kesehatan.
Kementerian Kesehatan dan BPOM telah mengeluarkan aturan yang melarang kental manis dipromosikan sebagai susu. Namun, praktik di lapangan masih sulit dikendalikan.
Pelajaran bagi Pemasaran Indonesia
Terlepas dari kontroversi, iklan kental manis menjadi studi kasus menarik dalam dunia pemasaran Indonesia. Keberhasilannya melekat di ingatan masyarakat menunjukkan bahwa konsistensi, pendekatan emosional, dan penetrasi pasar yang luas adalah kombinasi yang ampuh.
“Banyak merek yang ingin meniru kesuksesan ini. Tapi tidak mudah, karena butuh waktu dan konsistensi puluhan tahun,” pungkas Firman.
Jakarta, 9 Oktober 2026
Redaksi




















