Ekonom Soroti Penurunan Daya Beli Indonesia akibat Fenomena ‘Downgrade Lifestyle’

Jakarta, 18 Oktober 2026 – Fenomena downgrade lifestyle atau penurunan gaya hidup yang dilakukan masyarakat Indonesia menjadi sorotan ekonom. Fenomena ini dinilai sebagai sinyal nyata melemahnya daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi yang berkepanjangan.

Ekonom Universitas Indonesia, Dr. Firman Noor, menjelaskan bahwa downgrade lifestyle bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan cerminan dari keterpaksaan ekonomi. Masyarakat mulai beralih ke produk yang lebih murah, mengurangi frekuensi makan di luar, hingga menunda pembelian barang-barang non-esensial.

“Ini adalah alarm bagi kita semua. Ketika masyarakat mulai menurunkan standar hidupnya secara sistematis, itu artinya daya beli riil mereka memang tergerus,” ujar Firman dalam diskusi publik di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).

Tiga Faktor Pemicu

Firman menyoroti tiga faktor utama yang memicu fenomena ini. Pertama, inflasi pangan yang tidak terkendali. Harga kebutuhan pokok yang terus naik tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan.

Kedua, stagnasi upah. Menurutnya, upah minimum dan gaji pekerja di sektor formal tidak tumbuh secepat inflasi. Akibatnya, nilai riil pendapatan masyarakat menurun.

Ketiga, beban utang konsumtif. Banyak rumah tangga yang terpaksa berutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika pendapatan tidak cukup, mereka harus memangkas pengeluaran lain.

Dampak pada Ekonomi

Firman menjelaskan bahwa downgrade lifestyle berdampak langsung pada konsumsi rumah tangga, yang merupakan komponen terbesar PDB Indonesia. Jika konsumsi melemah, pertumbuhan ekonomi juga akan terhambat.

“Konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50 persen PDB kita. Kalau masyarakat mengurangi belanja, efeknya akan terasa ke seluruh sektor ekonomi,” tegasnya.

Ia juga menyoroti dampak pada sektor ritel dan jasa. Pusat perbelanjaan yang sepi, restoran yang tutup, dan penurunan penjualan barang-barang non-esensial menjadi indikator nyata melemahnya daya beli.

Perubahan Pola Konsumsi

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menambahkan bahwa downgrade lifestyle tercermin dari perubahan pola konsumsi masyarakat. Masyarakat mulai beralih dari produk premium ke produk ekonomis, dari restoran ke warung, hingga dari belanja offline ke online demi mencari harga lebih murah.

“Ada pergeseran yang jelas. Masyarakat bukan tidak mau belanja, tapi mereka mencari cara agar pengeluaran tetap terkendali,” ujarnya.

Ia mencontohkan fenomena “makan tabungan” hingga “makan utang” yang terjadi di masyarakat. Menurutnya, ini adalah fase yang berbahaya jika tidak segera diatasi.

Rekomendasi Kebijakan

Firman mendorong pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret. Pertama, mengendalikan inflasi pangan melalui operasi pasar dan stabilisasi pasokan. Kedua, meningkatkan upah dan menciptakan lapangan kerja baru. Ketiga, memperkuat jaring pengaman sosial bagi kelompok rentan.

“Jangan hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi di atas kertas. Yang lebih penting adalah bagaimana manfaatnya dirasakan langsung oleh rakyat,” tegasnya.

Ia juga mendorong pemerintah untuk memperkuat sektor riil dan UMKM, yang menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja. Dengan begitu, daya beli masyarakat dapat pulih secara bertahap.

Harapan ke Depan

Firman berharap fenomena downgrade lifestyle ini tidak berlangsung lama. Menurutnya, dengan kebijakan yang tepat dan kolaborasi semua pihak, daya beli masyarakat dapat kembali menguat.

“Kita tidak boleh menyerah. Ini adalah ujian bagi kita semua. Kalau kita bekerja keras dan bersatu, Indonesia bisa bangkit,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terkait

Terbaru