Jakarta, IndonesiaVisioner-. Diskusi dengan mengangkat tema “Ancaman terorisme dan narkoba terhadap peradaban umat muslim indonesia”. Dilakukan oleh Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) bidang Pemberdayaan Ummat bertempat di sekretariat PB HMI dengan menghadirkan pewakilan Lembaga pegiat anti narkotika (Granat) Brigjen Simon dan Pengamat Terorisme Sidra Tahta Mukhtar.
Simon mengungkapkan, Narkoba adalah kejahatan tertinggi di indonesia yang belum selesai diatasi. Hal ini bisa dilihat dari data disetiap pergantian tahun yang menujukan adanya peningkatan pengguna dan pengedar cukup signifikan.
“Setiap hari 50 orang minggal dunia akibat penggunaan barang haram ini, Ini sudah bencana kemanusiaan” ungkap Simon
Dahulu indonesia hanya transit, sekarang sudah dijadikan tujuan, bahkan sudah memproduksi sendiri. Ini perlu kerja keras dari semua pihak untuk memberantas sampai keakar-akarnya, anggaran negara juga habis terkuras akibat dialokasikan untuk merehabilitasi pengguna barang haram ini.
“Narkoba sekarang mesti dianggap bahagian dari teroris” tegasnya.
Disisi lain Sidra Tahta Mukhtar mengatakan, teroris bukan barang baru yang hadir di muka bumi. Sehingga mengidentikkan teroris dengan agama tertentu adalah kesalahan berfikir.
Dalam konteks indonesia, Sidra mengungkapkan, 70 persen dari rancangan UU teroris adalah pesanan asing, ada setingan global yang melibatkan negara-negara berpenduduk islam untuk menyepakati penarapan UU teroris tersebut. Hal ini bisa dilihat dari bantuan asing saat awal-awal pendirian BNPT.
“Seakan-akan yang teroris adalah dunia islam, ini menjadi tanggung jawab kita semua, termasuk HMI secara kelembagaan untuk mengklarifikasinya kepada publik” tambah Sidra.
Deradikalisasi mesti harus melibatkan ormas-ormas termasuk organisasi mahasiswa seperti HMI.
“Pola deradikalisasi harus dirubah, jangan sampai kita mencegah terorisme dengan menimbulkan teroris-teroris baru”. Tutup Mantan Pengurus Besar HMI ini. (MR. Vis)

