Jakarta, IndonesiaVisioner-. Pengamat Hubungan Internasional Sidra Tahta Mukhtar mengemukakan, sesuai prinsip konstusi yang menegaskan “melindungi segenap bangsa Indonesia, dan seterusnya,” maka memang tugas negara adalah melakukan upaya perlindungan yang terbaik bagi keslamatan warga. Oleh karena itu, langkah pembebasan sandera dengan cara tebusan dana, merupakan satu langkah yang dapat memastikan agar sandera dapat dibebaskan.
“Pada masa SBY juga pola pemberian tebusan pernah berhasil dilakukan saat membebaskan Sandera di Afrika, dan juga penebusan TKW agar tak jadi dihukum mati” Kata Sidra.
Sidra menambahkan, Dukungan rakyat indonesia dalam pola perlindungan warga negara seperti itu sangat tinggi. “Kalau pak menkopolkam akan memilih opsi itu, berarti pemerintah meniru succes story SBY dimasa lalu”, Meski ada kelemahannya, pembebasan sandera dengan opsi tebusan dana, apalagi dalam jumlah besar, karena akan memperkuat pendanaan terorisme MILF (Moro Islamic Liberation Front) dan Abu Sayyaf Group.
Mengapa pihak Filipina menolak opsi tebusan dana, karena akan mempekuat pihak penyandera, dengan dana dari Indonesia bisa mereka gunakan untuk membangun kekuatan, jaringan internasional, bahkan pembelian senjata utk menghadapi pasukan tempur filipina.
Pengamatan saya, pihak Tentara kita kurang percaya dengan kemampuan pasukan khusus filipina dalam operasi pembebasan sandera, karena kemampuan mereka masih jauh dibawah kekuatan pasukan TNI dengan berbagai reputasi internasional.
Saya juga menilai, pernyataan menkopolkam tentang kemungkinan pilih opsi damai dengan menerima pemberian dana tebusan, menunjukkan pemerintah ingin pilih jalur perlindungan warga yang disandera dengan efektif, pasti dan selamat bagi warga yang disandera.
“Apalagi indonesia sangat siap memilih opsi damai, dalam kondisi ekonomi nasioanl yang relatif baik saat ini” sambung Dosen Politik Kepolisian Ini.
Tetapi dimasa depan, tambah Sidra, pemerintah perlu mengantisipasi agar negara atau pihak asing dengan mudah menyandera warga negara kita, serta memastikan penggunaan kekuatan militer secara maksimal melalui kerjasama keamanan. Mekanisme kerjasama sudah baik di ASEAN maupun ditingkat global.
“Kenapa kok Filipina seperti menutup diri, pada jaman Pak Harto dan presiden Soekarno terlihat kemampuan supremasi pertahanan Indonesia dikawasan Ini, dimana Indonesia sebagai “super power” di ASEAN” tambahnya
Oleh karena itu, untuk mengantisipasi kesulitan kerjasama menghadapi sandera, terorisme dan lainnya, perlu meningkatkan diplomasi dan pelatihan bersama. Sebagai contoh ketika nama TNI harum di Kamboja, karena menjadi pelatih utama Pasukan pengawalan presiden Kamboja.
“Kalau dana penebusan sandera itu dipakai untuk peningkatan kerjasama pertahanan Indonesia Filipina, maka saya yakin filipina akan membuka diri terhadap Indonesia” Kata Sidra melalui pesan singkatnya (21/4/2016) (MR. Vis)






