Jakarta, IndonesiaVisioner-. Selama ini, densus 88 merasa selalu melakukan tindakan intelijen, penindakan dan kontra radikalisasi yang terbaik. Nyatanya, pola aksi mereka mendapat koreksi dan bahkan punishment yang maksimal dari kapolri.
Hal ini disampaikan oleh Pengamat Kepolisian Sidra Tahta Mukhtar berkenaan dengan pemecatan dua orang anggota densus 88 akibat terbunuhnya Siyono.
Sidra menambahkan, Akuntabilitas publik atas kerja Densus88 sangat diperlukan kedepan. Hal ini penting untuk dilakukan agar setiap penindakan yang dilakukan Densus 88 mendapat dukungan publik.
“Saya yakin, kekuatan dan jaringan teror akan nyusut pasca pemecatan. Itu artinya rakyat percaya pada lembaga keamanan karena adanya akuntabilitas publik yang mereka lakukan.” tabah mantan mantan penleliti di BNPT ini.
Propaganda terorisme dimulai ketika densus 88 tak membawa terduga teroris kepembuktian pengadilan yang independen. Akibatnya, Tindakan densus 88 yang salah dapat dipropagandakan untuk meningkatkan dukungan publik atas kesalahan prosedur tersebut.
“Saya berkesimpulan, pemecatan akan membawa angin perubahan positif bagi kembalinya peran densus yang profesional” jelas Sidra melalui pesan singkatnya di Jakarta (11/5/2016) (MR. Vis)






