Jakarta, Indonesia visionser-. Abdul Mu’ti Sekretaris Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah mengemukakan hukuman kebiri memiliki potensi tidak efektif memberi efek jera terhadap perilaku kekerasan seksual terhadap anak.
“Kebiri tidak menjamin kekerasan seksual berhenti dan memberi efek jera pelaku,” kata Mu’ti, di Jakarta (22/5/2016)
Mu’ti menambahkan, pelaku kekerasan yang dikebiri berpotensi melakukan kekerasan yang lebih berbahaya bagi anak-anak, termasuk kelompok rentan lainnya yaitu perempuan. Terlebih kebiri itu tidak diiringi hukuman yang berat bagi pelaku. Hukuman berat yang dimaksud adalah pelaku dapat dijatuhkan hukuman dengan dengan pasal berlapis.
Kebiri bukanlah jalan satu-satunya jika tidak ada vonis yang menjerakan, sehingga saat pelaku bebas dan dikebiri dia dapat melakukan kejahatan seksual dalam bentuk yang lain, bahkan tidak dapat dikendalikan.
“Setelah dikebiri, dia bisa melakukan kekerasan dalam bentuk lain. Kebiri menghentikan fungsi alat seksual tapi bisa saja dia mengekspresikan kekerasan seksual lainnya yang lebih berbahaya, nantinya dia paranoid,” Ucapnya
Solusi selain kebiri, ujar dia, dapat diterapkan oleh penegak hukum untuk memberi hukuman seberat-beratnya bagi pelaku yang terbukti melakukan kejahatan seksual. Hukuman kebiri juga menjadi polemik terkait sisi hak-hak asasi manusia
Soal kurang pengawasan masyarakat terhadap anak, Mu’ti berpendapat, jika tidak ada yang salah dalam keseharian lingkungan sekitar. Kesalahannya adalah tidak adanya pendampingan yang berkualitas bagi anak saat bermain.
“Ini harus jadi perhatian kita. Sikap pandangan jangan pada kasus saja tapi perhatikan juga pada persoalan lain, bagaimana pengasuhan anak oleh keluarga, perlindungan masyarakat dan aparat,” tutupnya (MR. Vis)






