Jakarta, 28 Agustus 2026 – Menteri Agama Nasaruddin Umar memastikan dirinya tidak akan mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU di Jombang. Ia menyatakan akan fokus menjalankan amanah sebagai Menteri Agama di Kabinet Merah Putih.
“Tidak maju. Saya fokus menjadi Menteri Agama,” ujar Nasaruddin di sela-sela Muktamar NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026).
Pernyataan ini sekaligus mengakhiri spekulasi yang berkembang bahwa Nasaruddin akan menjadi salah satu kandidat kuat dalam pemilihan Ketua Umum PBNU. Nasaruddin sendiri mengaku sudah mendapat dukungan dari sejumlah kiai dan tokoh NU, namun ia memilih untuk tetap mengabdi di pemerintahan.
Dukungan Gus Yahya
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyatakan bahwa keputusan Nasaruddin untuk tidak maju adalah pilihan pribadi yang harus dihormati. Gus Yahya juga mengapresiasi peran Nasaruddin sebagai Menteri Agama yang dianggap baik oleh para kiai.
“Beliau mendapat dukungan dari kalangan pesantren, tapi karena terikat dengan posisinya, mungkin beliau tidak ingin memperlihatkan hal yang kurang pas di mata publik. Dan saya kira itu adalah keputusan yang baik,” ujar Gus Yahya.
Kiai Sahal Mahfudz Jadi Kandidat Unggulan
Dengan tidak majunya Nasaruddin, bursa calon Ketua Umum PBNU tetap ramai. Nama Kiai Sahal Mahfudz dari Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, muncul sebagai salah satu kandidat kuat. Sahal dikenal sebagai tokoh NU yang dekat dengan kalangan pesantren dan memiliki kapasitas intelektual yang diakui.
Selain Sahal, sejumlah nama lain juga disebut-sebut akan bertarung dalam pemilihan ketua umum yang akan digelar pada 31 Agustus 2026, termasuk Gus Yahya yang berpeluang kembali maju untuk periode kedua.
NU dan Perebutan Kekuasaan
Muktamar NU kali ini dinilai penting karena akan menentukan arah organisasi dalam menghadapi tantangan ke depan, termasuk pemilihan presiden 2029. NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia sering menjadi perebutan kekuasaan dan pengaruh politik.
Keputusan Nasaruddin untuk tidak maju menjadi sinyal bahwa ia lebih memilih jalur pemerintahan daripada bersaing di internal NU. Hal ini juga menjadi pengingat bahwa NU tetap menjadi organisasi yang independen dan tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis.






