Jakarta, 25 Agustus 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebanyak 661 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di wilayah Kalimantan berdasarkan pemantauan satelit pada 24 Agustus 2026 pukul 00.23 WIB . Temuan ini menjadi indikasi kuat adanya kebakaran aktif di berbagai wilayah di Pulau Kalimantan.
Fluktuasi Titik Panas yang Dinamis
Kementerian Kehutanan melalui Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengingatkan bahwa fluktuasi titik panas di Kalimantan sangat dinamis dan perlu terus dipantau secara real-time. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi), jumlah titik panas di Kalimantan Selatan mengalami perubahan signifikan dari 157 titik pada 21 Agustus turun menjadi 11 titik pada Sabtu (22/8), namun kembali meningkat menjadi 44 titik pada Minggu pagi (23/8) .
“Kami telah memiliki aplikasi SiPongi yang dapat dimanfaatkan seluruh petugas gabungan memantau titik panas secara realtime. Aksi cepat melakukan pemadaman dan pembasahan bisa menekan api semakin membesar dan meluas,” ujar Raja Juli dalam keterangannya di Banjarbaru .
Kondisi Karhutla di Lima Provinsi
Berdasarkan data sebelumnya, kebakaran hutan dan lahan terjadi di seluruh provinsi di Kalimantan. Sepanjang Januari-Juni 2026, luas lahan terbakar di lima provinsi Kalimantan mencapai 57.081,33 hektare . Angka ini sudah melampaui total lahan terbakar sepanjang tahun 2025 yang mencapai 55.717,27 hektare.
Titik panas terbanyak terpantau di Kalimantan Barat dengan 3.705 titik, disusul Kalimantan Tengah (3.081), Kalimantan Timur (978), Kalimantan Selatan (776), dan Kalimantan Utara (98) . Presiden Prabowo Subianto telah melakukan kunjungan langsung ke Kalimantan untuk meninjau kondisi karhutla dan memimpin rapat penanganan di Pontianak pada 22 Agustus .
Upaya Penanganan dan Pemantauan
Pemerintah terus mengerahkan upaya penanganan karhutla di seluruh provinsi Kalimantan. Menteri Kehutanan menekankan pentingnya pemantauan fluktuasi titik panas secara terus-menerus agar petugas dapat segera menuju lokasi dengan kemungkinan kebakaran aktif terjadi .
BMKG sebelumnya juga memproyeksikan musim hujan baru akan mulai pada pertengahan Oktober, sehingga upaya pencegahan karhutla perlu terus diperkuat . Selain itu, fenomena El Nino yang berada pada intensitas sangat kuat disertai IOD positif turut berkontribusi pada berkurangnya curah hujan dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan .






