Refleksi Kebangsaan 98 Tahun Sumpah Pemuda: Dasco Ajak Bangsa Jadikan Persatuan Kekuatan Nyata

JAKARTA — Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad membuka peringatan 98 Tahun Sumpah Pemuda di Kompleks Parlemen, Senayan, dengan pesan menggugah. Persatuan, katanya, kekuatan besar yang harus dirawat lewat tindakan nyata. Di hadapan wakil rakyat, beliau menegaskan semangat Sumpah Pemuda bukan kenangan, melainkan energi yang mengalir dalam setiap keputusan berpihak pada rakyat.

Refleksi itu lahir saat dunia terus berubah. Ketegangan global, persaingan teknologi, dan tantangan alam jadi panggung bagi Indonesia menunjukkan ketangguhannya. Pak Dasco meyakini, dengan kebersamaan kokoh, negeri ini tetap sanggup melewati setiap ujian.

Ketua Jaringan Aktivis Nusantara (JAN), Romadhon Jasn, menangkap pesan itu sebagai ajakan membangkitkan semangat. Baginya, itu bukan retorika. “Yang menarik dari Pak Dasco, beliau tidak hanya berbicara soal kebersamaan, tetapi mengajak kita membuktikannya lewat keputusan adil dan cepat. Kesatuan sejati adalah kesatuan yang manfaatnya dirasakan rakyat. Itu standar yang bisa kita pegang bersama,” ujar Romadhon, Kamis (29/10/2026).

Beliau tidak berbicara sebagai pejabat menggurui. Ia mengajak semua pihak belajar dari pemuda 1928. Mereka datang dari latar berbeda, tak selalu sepakat, tetapi bersatu untuk hal lebih besar: tanah air satu, bangsa satu, bahasa satu.

“Keberanian politik generasi 1928 adalah menempatkan cita-cita bangsa di atas batas kelompok. Dan keberanian semacam itu kembali dituntut dari kita hari ini,” ujarnya penuh keyakinan.

Dasco juga menyentuh ruang sensitif: politik. Ia mengingatkan, asal partai atau fraksi tak boleh jadi penghalang berdiri bersama ketika konstitusi dan keselamatan negeri menuntutnya. “Partai adalah jalan pengabdian, fraksi sarana memperjuangkan aspirasi, tetapi Indonesia amanah kita bersama,” tegasnya. DPR RI telah menuntaskan tiga undang-undang sebagai wujud solidaritas yang bekerja.

Romadhon menambahkan, solidaritas pemuda berarti keberanian menyempurnakan dengan cara membangun, bukan kesepakatan membisu. “Pemuda 1928 bersatu bukan karena semuanya setuju, tetapi ada hal lebih besar dari perbedaan mereka. Semangat itu masih hidup dalam pesan Pak Dasco: bersatu tanpa kehilangan daya kritis, tetap positif membangun bangsa,” katanya.

Kepada generasi muda, Dasco menitipkan watak yang tak boleh luntur: berani tanpa gegabah, terbuka tanpa tunduk, bersatu tanpa kehilangan nalar. Ia tak meminta anak muda untuk diam, melainkan tetap bertanya sembari menjaga keutuhan. “Kita tak dapat mengendalikan seluruh guncangan dunia. Yang dapat kita tentukan adalah watak Indonesia saat menghadapinya,” katanya optimistis.

Romadhon menutup dengan keyakinan menguatkan. Baginya, pesan itu pengingat bahwa kebersamaan bukan tujuan akhir, melainkan cara kerja bangsa. “Kalau persatuan hanya berhenti di pidato, ia rapuh. Tapi kalau hadir dalam setiap keputusan adil dan cepat, ia menjadi kekuatan tak tergoyahkan. Saya percaya Pimpinan DPR RI memahami itu, dan saya berharap seluruh elemen bangsa juga,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terkait

Terbaru