Saat keluar membeli rokok diwarung tadi, para satpam dan petugas kebersihan dipintu gerbang masuk sedang berdebat ramai tentang pilkada DKI jakarta. Inti perdebatan yang saya tangkap, mereka sedang menakar siapa figur yang layak menggantikan posisi Ahok saat ini. Itulah ahok, popularitasnya mampu mengajak hampir semua kalangan sibuk mencari penggantinya. Sama halnya dengan pejabat publik yang lain, Pandangan orang terhadap Ahok tentu tidak seragam. Dari gaya komunikasinya yang meledak-ledak, bahasa sampah yang tidak perlu didengar anak bawah umur, sampai komitmennya menghilangkan banjir jakarta, sering menuai kontrofersi. Apapun itu Ahok saat ini menjelma bagai hantu yang ditakuti politisi dan hampir sebahagian besar partai. Manuver, Konsolidasi dan deklarasipun dilakukan secepatnya untuk merebut kekusaan dari tangan Ahok dengan cara yang halal.
Akhir-akhir ini, tagline berita-berita di media sosial bermunculan. Yang cukup menarik perhatian adalah niatan Partai Kebangkitan Bangsa mengajukan Musisi Ahmad Dhani sebagai kontestan, atau bakal calon penatang Ahok pada Pemilukada DKI 2017 nanti. Ini sebenarnya “filem” usang yang sengaja dimodivikasi sesuai konteksnya. Tetapi judulnnya tetap sama ” sandiwara politik ala PKB”.
Masih segar dalam ingatan publik, bagimana manuver Muhaimin mendompleng popularitas tokoh-tokoh nasional untuk popularitas partainya. Dari sanalah menjadi salah satu asbab si ” Raja Dangdut” mendeklarasikan partai Idaman di tugu proklamasi. Rhoma yang dulunya sempat mengubah nama PKB sambil menununggang kuda jantan menjadi ” Partai Kesatria Bergitar” merasa dikhianati hingga mecari jalan baru untuk Nyapres. Kasihan si Rhoma, sang presiden soneta.
Nah.. kalau dulu gonjang-ganjingnya adalah manuver untuk mengusung “Raja Dangdut”, menjadi calon presiden, saat ini adalah pencalonan “Raja Band” yang bergelar “Dewa 19”, maju di pilkada DKI jakarta. Apakah ini adalah suatu keseriusn atau sandiwara politik? Ataukah ini hanya sekedar Upaya untuk mendongkrak reputasi dan elektabilitas partai dengan sensasi politik? Hanya muhaimin yang tau.
Melawan ahok saat ini bukan menjadi perkara yang mudah. Disamping figur yang disiapkan memiliki popularitas, dia juga harus mampu mengimbangi secara konsep dan gagasan membangun ibu kota. Sebab mengelola negara atau daerah tidak segampang memetik gitar lalu menyanyi berarami-rami.
Tentu kita juga tau Ahmad Dani bukanlah musisi yang “bodoh-bodoh” amat soal politik. Pilpres kemarin bisa menjadi rujukan bahwa suami Wulan Jamila ini adalah pemain lama pada dunia ini. Semoga tidak ada lagi partai baru akibat Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta.
Kita juga berharap, pada suatu masa nanti ada Suatu tradisi politik yang mengedepankan perebutan pengaruh dan gagasan secara ideologi ketimbang sekadar populisme sesaat. Karena sesungguhnya itu yang diajarkan pendahulu-pendahulu bangsa ini.
Oleh: Oumo Abdul Syukur

