Mengenai latarbelakang pendidikannya
Ia menempuh studi di IKIP Bandung dan kuliah di salah satu Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi swasta. Kemudian untuk program S2, ia memilih jurusan psycho neurology di Australia. Sedangkan program S3, ia merencanakan di Oxford University, Inggris, memilih jurusan politik internasional. “Saya ingin menjadi konsultan motivasi untuk sebuah negara. Bukan menjadi presiden, tetapi menjadi seperti penasihat motivasi untuk presiden. Saya ingin menjadi sosok behind the president,” tegasnya.
Tentang Kelurganya
Bertutur mengenai ibunya, ungkapnya, dikenal ahli dalam berbagai bahasa. Lain lagi dengan kakeknya Reza, yang berlatarbelakang sekolah kejuruan perdagangan. Ternyata kekeknya sukses menjadi pengusaha ternak sapi dan kambing. “Usaha ternaknya meluas, tidak hanya di Indonesia tapi juga sampai ke Singapura,” tutur ibunya. Selain bisnis ternak, kakeknya Reza itu, juga bisnis bumi. Terutama, usaha tembakau yang diekspor sampai ke Breman, Jerman. Pendeknya, sekitar tahun 1930-an kakeknya menjai eksportir tembakau.
Ingin Selalu ‘Kelihatan’
Lebih lanjut, mengomentari sikap dan karakter Reza, ibunya mengatakan anaknya yang kedua itu sejak kecil selalu ingin „kelihatan‟ dan menonjol ketimbang saudara-saudaranya. “Pada suatu ketika saya tanya kepada Reza, „ Kamu mau menjadi apa nantinya?,” ungkap ibunya saat Reza masih kelas 3 SMP. Namun, Reza belum memastikan apa yang menjadi minatnya. Singkat cerita, lulus dari SLTA, Reza berhasil diterima di sekolah Penerbangan di Curug. Sekian tahun di sana, ia lulus dengan predikat memuaskan, sebagai salah satu lulusan terbaik. Setelah lulus, Reza diminta menjadi instruktur di Curug. Selama beberapa tahun.
Selang beberapa tahun, pada tahun 1977 terjadi krisis moneter di Indonesia. Situasi tersebut menyebabkan kepincangan di berbagai sektor, termasuk dialami Reza di tempat kerjanya. “Saat itu ia sedih, karena kesulitan mengganti pesawat lama dengan yang baru. Selain itu menggunakan suku cadang yang second hand. Karena harga spare part pesawat membumbung tinggi,” urai ibunya. “Ini kan sama saja memasukan anak-anak ke peti mati,” ungkap Reza lirih. Meskipun Mundur, Ia Tetap Dipertahankan Akhirnya, Reza memutuskan untuk mundur dari jabatan instruktur di Sekolah Penerbangan Curug. Meskipun sudah mundur, Reza tetap dipertahankan pimpinannya.
“Ia diberi cuti diluar dinas selama dua tahun, dan digaji penuh. Ia juga diizinkan untuk melamar kerja ke perusahaan lain. Di antaranya ia sempat bekerja di sebuah perusahaan swasta ditempatkan di book division. Sesuai hobinya membaca buku,” papar ibunya tentang Reza. “Bahkan ia termasuk cepat sekali memahami isi buku, mengerti hal-hal penting dan utama dari buku yang ia baca,” tambah ibunya. Diluar sekolahnya, orangtua Reza juga memberi kebebasan anak-anaknya untuk memilih berbagai kegiatan. Misalnya, seni tari, ikut pengajian, pramuka, olahraga sepakbola, renang, beladiri, semua diikuti. “Bukan suatu kesalahan besar, kalau kita salah mengerjakan pekerjaan yang besar, itu biasa. Tapi yang salah, kalau kita tidak berani mengerjakan pekerjaan yang besar.” Ditengah kemesraan keluarganya, kabar duka menghampiri mereka. Tahun 1982 ayah Reza yang pensiun polisi, meninggal dunia, saat ia dan saudara-saudara kandungnya berusia belasan tahun. Sejak itulah, ibunya harus menjalani hidup sebagi single parents. Tahun berganti, kehidupan keluarga itu makin mampan. Reza dan saudara-saudara kandungnya sudah bekerja semua, sehingga mereka meminta ibunya tidak perlu mencari nafkah lagi. “Ibu tidak usah kerja lagi, uang pensiun gunakan untuk keperluan ibu saja. Kebutuhan lainnya akan kami tanggung,” demikian permintaan Reza dan saudara-saudaranya.
Bahkan Reza sempat mengajak ibunya keliling Eropa dan beberapa negara lain, menikmati liburan kantornya. Semua itu dilakukan Reza, sebagai tanda kecintaan dan kasih sayang seorang terhadap ibunya. Selang beberapa tahun, Reza memutuskan untuk berhenti di tempat kerjanya dan mendirikan perusahaan sendiri. Tujuannya, sebagai ajang pengembangan diri, mandiri dan bergerak lebih maju.
“Karena Reza pernah bilang kepada saya, ia tidak ingin menjadi anak buah terus menerus. Tapi ia ingin menjadi pimpinan perusahaan dan memberi manfaat bagi banyak orang,” jelas ibunya. Begitulah yang dilakukan Reza. Ia terus berkembang, eksis dan kini menjadi salah seorang motivator di Indonesia.
