Jakarta,IndonesiaVisioner., Bermula dari kegelisahannya melihat para sarjana yang sulit mendapatkan pekerjaan. A. Reza M. Syarief yang kini menjadi Chairman Reza Leadership Center (RLC), ia terus mencari tahu apa yang menjadi penyebab kenyataan miris tersebut. “Padahal intelektual para sarjana terbilang tinggi. Dari hasil pengamatannya saya ke sebagian besar kampus, mereka justru banyak menganggur setelah lulus. Saya lantas menyelidiki, hingga pada suatu kemungkinan, yaitu kurang,” kilah pria kelahiran Jakarta, 31 Maret 1969.
Seiring dengan berputarnya waktu, ia sering mengikuti pelatihan mengenai motivasi dan kepemimpinan, termasuk rajin membaca berbagai literatur mengenai bidang tersebut dan banyak berdiskusi, berbagai dengan para pakar motivasi. Hasilnya, memang mengagumkan. Ia meleset begitu cepat. Namanya menjadi populer, konsepnya mengenai motivasi dan kepemimpinan „ didengar‟ serta dijalankan oleh banyak orang, terutama oleh para profesional dan ekskutif. Bagaimana perjalanan karier dan hidupnya yang membawanya menjadi seperti sekarang? Ikuti kisah dibalik sukses motivator handal ini.
Berbagi Pelatihan Motivasi dan Kepemimpinan
Sebelum menjadi pakar motivator seperti sekarang, ia pernah menjadi profesional di salah satu perusahaan go public multi nasional sebagai National Sales Manager dengan prestasi pertumbuhan bisnin ( Business Growth )300 persen dalam satu tahun. Ia juga aktif menjadi inspirator dan HR-Marketing Consultant di berbagai perusahaan dan instansi seperti Adhi Karya, Agung Podomoro, Bank Indonesia, Bank Mandiri, BNI, Citibank, Jamsostek, Jasa Raharja, Allianz Insurance, ndonesia Power, Telkom, Telkomsel, Indosat, Mercure Convention Center Hotel, Garuda Indonesia, Hermina Hospital, Schering Indonesia, Unilever Indonesia, Total FinaElf, Komisi Pemberantasan Korupsi, dan lain-lain Kendati demikian ia merasakan hasil yang diperolehnya belum maksimal dan belum sesuai dengan apa yang diharapkan. Situasi kondisi tak begitu kondusif tersebut, ia hadapi dengan pikiran positif, dengan mengikuti berbagai pelatihan motivasi dan kepemimpinan. “Tujuannya untuk mendorong kinerja saya dalam menjalankan profesi,” jelas Reza bersemangat Lama kelamaan, Reza justeru tertarik dengan dunia pelatihan yang di ikutinya itu. Karena merasa penasaran, ia kemudian mangikuti kursus yang diperuntukkan bagi pelatihan motivasi dan kepemimpinan. Sejak itulah ia mulai menggeluti dunia barunya.
Menggeluti Dunia Motivasi
Selanjutnya, dengan idealismenya yang tinggi, ia menggeluti dunia motivasi. Ia pun masuk ke fakultas sebuah perguruan tinggi terkemuka di indonesia Di fakultas tersebut ia merupakan Leadership Development Program (LDP) yang pesertanya selalu meningkat. Berkat informasi yang tersiar dari mulut ke mulut, program yang di kembangkan Reza itu diketahui oleh IKIP, sehingga program serupa dilaksanakn di kampus yang sekarang bernama Universitas Negeri Jakarta, dengan peserta yang meningkat hingga 80 orang. “Tetapi, pada saat bersamaan saya masih meniti karier di sebuah perusahaan,” imbuhnya.
Meski pada akhirnya Reza memutuskan untuk keluar dari perusahaannya, karena merasa modal untuk menjadi motivator sudah ada.
“Dengan kompetensi, ilmu psikologi, pengalaman dan reputasi selama berkarier di perusahaan itu, saya rasa sudah cukup, “ ungkapnya
“Sebelum saya memutuskan menjadi seorang motivator, ada kejadian yang tak terlupakan. Suatu ketika di bulan Ramadhan, saya mendapat bisikan batin„ Itulah jalan hidup kamu, menjadi seorang motivator‟. Nampaknya, saya dipercaya untuk memicu semangat orang lain. Pengalaman itu merupakan pencerahan buat saya,” tuturnya. Sebagai seorang muslim yang taat, setiap kali ia memberikan ceramah motivasi, ia senantiasa memasukan nilai-nilai keagamaan. Hal ini diyakini Reza sebagai kiat suksesnya menjadi seorang motivator.
“Tujuannya, untuk membuka pikiran,” cetusnya. Perpaduan konsepnya dengan unsur spritual atau nilai-nilai keagamaan inilah yang membuat metodenya lebih unggul. Selain itu ia memegang teguh prinsip „ Jangan Pernah Takut Salah Dalam Melakukan Sesuatu‟. Menurutnya, “Bukan suatu kesalahan besar, kalau salah mengerjakan pekerjaan yang besar, itu biasa. Tapi yang salah, kalau kita tidak berani mengerjakan pekerjaan yang besar.”

