Oleh : MHR. Shikka Songge
Kondisi pertumbuhan generasi di negeri ini, terselimuti oleh kabut ketidakpastian menghadapi masa depan. Nampak semakin terasa dan terlihat kasat mata fenomena mengerihkan menghadang masa depan anak-anak negeri.
Narkoba, premanisme, kriminalisme, pergaulan bebas sampai pada kejahatan seksual, pembunuhan bukan hal tabu di kalangan anak remaja yang berusia sekoah. Sungguh miris kita terhadap kondisi muram dan muncul ketidakpercayaan terhadap nasib masa depan kebangsaan kita jika begini fenomena remaja di negeri ini.
Di sisi lain islam mengajarkan bahwa anak adalah hisan yang terindah, pewaris peradaban mulia. Karenanya setiap orang tua diperintahkan oleh al-Qur’an untuk mendidik anak-anak, agar kelak ia sanggup tegak menopang kemajuan bangsanya, dan menjadi pemimpin yang amanah ketika rakyat memberikan mandat untuk memimpin.
Tetapi ketika orang tua atau lembaga rumah tangga tidak mampu mendidik maka negara mengambil alih urusan pendidian setiap anak bangsa. Tapi sayang dan sangat disayangkan, bagaimana mungkin negera bisa melaksanakan fungsi pendidikan ketika pemerintah penyelenggara negara tidak bisa menjadi guru bagi publik?
Negara tidak cukup sekedar menyiapkan fasilitas, sarana dan prasarna bagi penyelenggaraan pendidikan, tapi negara harus menjadikan dirinya sebagai pusat pembelajaran bagi anak-anak negeri. Rasanya di negeri ini tidak ada lagi ruang untuk anak bangsa untuk belajar.
Sesungguhnya hakekat pendidikan dan pembelajaran bagi anak-anakĀ bangsa dimaksudkan untuk menemukan kesejatian dan kebenaran kebangsaan itu sendiri. Adakah kesejatian dan kebenaran pada negara ketika para penguasa berwatak preman yang menyelenggarakan pemerintahan negeri ini. Saling bertikai, merebut dan mempertahankan kekuasaan denagn cara-cara yang tak berperadaban. Sehingga ketika kekuasaan dirahinya, merekapun tak tahu apa yang seharusnya dilakukan untuk mensejahterakan rakyat di negeri ini.
Bisa dibayangkan betapa kelalaian pemerintah meberikan tanggungjawab terbaik untuk rakyat. Mereka membiarkan siswa bertarung melawan maut. Realitas ini menandakan pemerintah tidak peduli dan negara tidak hadir di tengah pergumulan kemiskinan rakyat. Siswa berjalan gelantungan di jembatan darurat yang tak dipedulikan. Para siswa anak-anak masa depan ini mengabaikan keselamatan jiwa mereka sendiri demi merebut masa depan.
Ada apa di negeri ini ? Sepertinya negara diambang kehancuran. Bila kondisi carut marut yang demikian tidak dihentikan.
Apalagi pemimpin kita tak berkarakter, bertahan dengan pencitraan yang absurd membagi -bagi uang tanpa arah dan sasaran.
Para politisi berapologi dengan basa -basi yang urakan. Politisi, birokrasi, penegak hukum bertopeng konstitusi, merka mempertontonkan kelakuan buruknya di ruang publik.
Padahal sesungguhnya mereka para penguasa sedang pertontonkan kelakuan buruk, bertikai mempertahankan tahta milik rakyat. Sejatinya mereka melakukan perampokan uang rakyat dangan cara kekuasaan. Maka sesungguhnya mereka pemerintah berkarakter buruk, pembohong, preman, pengkhianat pada Proklamasi, Pancasila, UUD 1945 dan NKRI.
*Penulis Adalah pemerhati masalah sosial, sering mengisi training di forum-forum perkaderan seluruh Indonesia*

