Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

Menjadi Akademisi: Tuntutan Atau Tantangan?

by Visioner Indonesia
September 17, 2019
in Opini
Reading Time: 2min read
0
SHARES
53
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Menjadi Akademisi: Tuntutan Atau Tantangan?

Oleh : Rofi’atul Windariana

Akademisi merupakan orang yang berpendidikan tinggi. Termasuk di dalamnya, mahasiswa, sarjana, doktor, profesor, dan orang-orang yang bergelut dalam bidang pendidikan atau pegiat pendidikan. Menjadi seorang akademisi seolah dilema, antara posisinya sebagai sebuah tuntutan atau posisinya sebagai tantangan. Sebenarnya, dua hal tersebut tidak selalu saling beroposisi biner. Akan tetapi dapat saling dikompromikan dan terkadang terjalin saling berkelindan satu sama lain.

Dalam konteks pendidikan yang lebih luas. Dunia menjadikan tingkat pendidikan sebagai indikator dalam menentukan kemajuan suatu bangsa. Sehingga, setiap negara berlomba lomba meningkatkan kualitas warga negaranya. Menghadapi keberlangsungan siklus globalisasi dan ketatnya arus industri menuntut ketahanan suatu bangsa agar mampu bersaing dengan bangsa lain. Tentu, ketahanan itu harus saling bersinergi dengan inteligensi sumber daya manusianya. Tuntutan tadi, melahirkan istilah-istilah praktisi dan akademisi. Apabila praktisi, cenderung didominasi praktik dan sebagai pelaku indudtri, maka seorang akademisi adalah orang-orang yang bergelut di bidang akademik. Di satu sisi, setiap orang diberi kebebasan menentukan arah hidupnya. Namun di sisi lain. Ia dihadapakan pada seleksi globalisasi yang menuntut setiap orang harus memiliki skill agar mampu bertahan.

Dalam menentukan posisinya sebagai tuntutan atau tantangan, atau relasi keduanya dapat dilihat dari kondisi global Indonesia. Penting diketahui bahwa Badan Pusat Statistik mencatat akan ada 2,6 juta jenis pekerjaan dalam 5 tahun ke depan yang akan tergantikan fungsinya oleh mesin dengan sistem otomasi. Serta sebanyak 50,17% tenaga kerja lulusan sekolah menengah banyak yang tidak terserap dalam pasar kerja. Melihat kondisi ini, tidak dapat dielakkan bahwa menjadi akademisi adalah tuntutan agar ia mampu bersaing di pasar kerja, terutama di ranah akademik

Globalisasi dan revolusi industri adalah fenomena yang menuntut seseorang memiliki keahlian di bidangmya, sehingga orang orang yang tidak memiliki riwayat pendidikan tinggi akan tersisihkan. Hanya orang-orang dengan keahlian tertentu dan skill tertentu yang nantinya akan bertahan dalam persaingan global. Meskipun, indikator seorang dapat disebut akademisi hanya berdasarkan riwayat pendidikan dan seberapa bergelut ia dalam bidang pendidikan. Bukan berarti jalan untuk sukses akan selalu mulus. Karena mau tidak mau, ia akan bersaing dengan akademisi-akademisi lain di ranah akademik yang sangat selektif.

Sederhananya, akademisi menjadi tuntutan bagi setiap orang agar dapat bertahan di tengah globalisasi serta dampak-dampaknya. Salah satunya adalah persaingan dalam segala aspek baik industri, pendidikan, dan lain sebagainya yang sudah semakin sengit. Tidak hanya sesama akademisi, tetapi dengan praktisi-praktisi yang lebih kompeten dan terlatih. Di bidang akademik sendiri, tiap tahunnya melahirkan sarjana-sarjana, doktor, dan profesor-profesor baru yang memiliki spesifikasi keimuwan. Sehingga hal itu menjadi tantangan bagi akademisi-akademisi baru yang belum jelas orientasi akademiknya atau tidak jelas spesifiksi keilmuwannya. Setidaknya, skill akademik dapat menjadi bekal agar bisa lolos dari pengangguran.

Selain pertimbangan dalam prospek kerja di atas. Seorang akademisi dituntut dapat meminimalisir dampak digitalisasi semisal hoax, ujaran kebencian dan matinya kepakaran yang sedang melanda negara-negara lain akibat minimnya literasi. Karena gelar akademisi membawa tanggung jawab moral dan sosial bagi masyarakat di sekitarnya.

Apalagi fenomena yang akan terjadi di tahun 2045, yang disebut bonus demografi, yaitu pelonjakan populasi penduduk produktif. Apabila tidak diimbangi dengan skill akademik justru akan menjadi ancaman. Dalam ranah akademik, akan meningkatkan resiko pengangguran terdidik. Maka dari itu, sosok akademisi adalah tuntutan agar dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan keilmuwan dan dapat bersaing di ranah akademik. Di sisi lain, itu merupakan tantangan untuk tetap selalu progresif dan tidak stagnan, seorang akademisi harus lebih berorientasi ke depan. Karena digitalisasi, revolusi industri 4.0, dan segala dampaknya akan selalu dinamis.

Penulis adalah kader HMI Komisariat IAIN Madura

Tags: FKI HMI IAIN MaduraHMI IAIN MaduraMenjadi akademisiTuntutan atau tantangan?
Previous Post

Perkuat Jaringan, Pelajar NU Ini Rutin Turba

Next Post

Liverpool Tumbang di Kandang Napoli dengan Skor 0-2

Related Posts

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?
Artikel

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?

April 6, 2026
Default

Menjaga Marwah Bhayangkara: Mengapa Independensi Polri Adalah Harga Mati

Januari 30, 2026
Opini

Menagih Janji di Balik Sepatu Bot Pramono: Mengapa Jakarta 2026 Masih Menjadi Kolam Raksasa?

Januari 24, 2026
Opini

Lumbung Pangan di Balik Jeruji: Saat Penjara Menyuplai Piring Rakyat

Januari 19, 2026
Opini

Mengakhiri Demokrasi Biaya Tinggi:
Pilkada Langsung Itu Gagal: Kenapa Kita Masih Takut Balik ke DPRD?

Januari 5, 2026
Opini

The Enforcer: Mengapa Publik Semakin Menaruh Kepercayaan pada Langkah Taktis Dasco?

Januari 1, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Singojuruh Perkuat Konsolidasi dan Semangat Kader Golkar

TERPOPULER

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Singojuruh Perkuat Konsolidasi dan Semangat Kader Golkar

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved