Indonesia Visioner
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS
No Result
View All Result
Indonesia Visioner
No Result
View All Result

Membesarkan Partai Baru (Islam) Lebih Sulit Daripada Mendirikannya

by Aulia Rachman Siregar
November 10, 2020
in Opini
Reading Time: 3min read
Membesarkan Partai Baru (Islam) Lebih Sulit Daripada Mendirikannya
0
SHARES
33
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Igor Dirgantara*

Tidak ada korelasi yang signifikan antara tingginya ketaatan umat Islam di Indonesia dalam beribadah dengan peningkatan perolehan suara parpol yang berazas atau berbasis massa Islam di Pemilu. Jika misalnya terjadi kenaikan suara dari satu parpol Islam, itu biasanya lebih disebabkan turunnya suara partai Islam yang lain.

Islam jelas merupakan sumber pemikiran politik di Indonesia yang paling konsisten sejak masa kolonialisme sampai sekarang. Sayangnya, daya tarik Islam lebih mengarah kepada golongan ketimbang nasional. Memang ada identifikasi parpol (Party ID) yang rendah serta minimnya pemilih yang loyal terhadap satu parpol. Hal ini menyebabkan volatilitas dukungan terhadap parpol rentan berubah dari satu pemilu ke pemilu yang lain. Ini adalah peluang bagi partai baru untuk menggaet swing voters tersebut. Tetapi sebuah data menunjukkan bahwa ada 50 persen lebih masyarakat yang tidak berminat untuk memilih partai baru. Selain itu, proporsi terbesar pemilih di Indonesia itu berada di “tengah”. Yang “terlalu kiri” atau yang terlalu “kanan” tidaklah besar jumlahnya. Jadi peluang kemunculan Partai baru Masyumi Reborn yang diasumsukan bisa mengancam parpol berbasis Islam lainya yang sudah ada sekarang ini relatif kecil. Justru peluang kandasnya seperti partai baru lainnya jauh lebih terbuka.

Partai baru Masyumi Reborn bisa bertahan seperti PKS atau PKB jika punya jaringan dan logistik yang bagus untuk mempopulerkan dan mengiklankan dirinya terus menerus tanpa henti sampai 2024 nanti. Masyumi reborn harus bisa menemukan format yang pas antara politik Islam dan prinsip demokrasi modern bagi pemilih muda, misalnya soal keberagaman yang terkandung dalam pemikiran politik tokoh Masyumi, Muhammad Natsir. Jika Masyumi Reborn mentargetkan basis massa Islam tradisional di pedesaan akan kalah dengan PKB. Jika membidik pemilih muslim perkotaan, PKS jauh lebih kuat. Masyumi reborn harus bisa menarik suara pemilih muslim muda milenial yang akan mendominasi demografi pemilih di masa depan. Salah satu caranya adalah membuat terobosan baru dengan mencari tokoh muda muslim berpengaruh dan punya popularitas bagus, seperti Anies Baswedan atau Sandiaga Uno.

Salah satu tren kuat jelang lengsernya Jokowi di 2024 adalah fenomena anak ideologis tokoh nasional yang di dorong menjadi pemimpin masa depan Indonesia. Mulai dari Puan Maharani, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), sampai Gibran Rakabuming adalah contoh dari nama-nama yang saat ini akrab di pentas politik. Begitu juga nama putra sulung Amien Rais pendiri PAN dan Partai Ummat, Hanafi Rais. Berbeda dengan Masyumi Reborn, Partai Umat di dirikan ketika PAN terpecah pasca Kongres ke V di Kendari, Sulawesi Tenggara. Banyak loyalis Amien Rais di PAN bergabung ke Partai Ummat karena kecewa dengan kepemimpinan Zulkifli Hasan saat ini. Namun dalam keadaan masih baru di masa konsolidasi, sebaiknya Amien Rais yang sementara menjadi ketum Partai Ummat dulu, karena figur dan ketokohannya masih kuat di PAN. Baru setelah masa konsolidasi selesai dan Partai Ummat bisa membuktikan lolos ke Senayan dan mampu mengalahkan partai baru lainnya di Pemilu 2024, seperti Partai Gelora, maka Hanafi Rais bisa menggantikan posisi bapaknya sebagai Ketum. Berbeda dengan AHY di Demokrat, misalnya, Hanafi Rais adalah putra mahkota Amien Rais yang tidak pernah merasakan manisnya menjadi ketum PAN yang didirikan Bapaknya

Partai baru berazas dan berbasis massa Islam seyogyanya juga jangan terlalu mengandalkan popularitas dai-dai kondang seperti Uztad Abdul Somad atau Habib Rizieg untuk tujuan Pemilu. Lihatlah redupnya Partai Bintang Reformasi yang didirikan oleh “dai sejuta umat” almarhum KH. Zainuddin MZ. Atau kurang populer apa Rhoma Irama itu di mata publik. Konsernya tak pernah sepi. Tapi bang haji akhirnya tenggelam bersama Partai Idaman yang dia dirikan. Saat ini, Rhoma Irama tetaplah legend musik dangdut dengan jumlah penonton yang fantastis, tetapi itu bukan jumlah pemilihnya di bilik suara walaupun sudah begadang.

*Igor Dirgantara, Dosen Fisip Universitas Jayabaya, Director Survey & Polling Indonesia (SPIN)

Tags: #Igor DirgantaraPartai IslamPengamat politik
Previous Post

Pidato Obon Tabroni Menyebut Bekasi Punya Potensi Sangat Luar Biasa

Next Post

Karang Taruna Kecamatan Tanete Riaja Kab. Barru Resmi Dilantik

Related Posts

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?
Artikel

Mengapa Polri Butuh Lebih dari Sekadar Seremoni Hoegeng Awards?

April 6, 2026
Default

Menjaga Marwah Bhayangkara: Mengapa Independensi Polri Adalah Harga Mati

Januari 30, 2026
Opini

Menagih Janji di Balik Sepatu Bot Pramono: Mengapa Jakarta 2026 Masih Menjadi Kolam Raksasa?

Januari 24, 2026
Opini

Lumbung Pangan di Balik Jeruji: Saat Penjara Menyuplai Piring Rakyat

Januari 19, 2026
Opini

Mengakhiri Demokrasi Biaya Tinggi:
Pilkada Langsung Itu Gagal: Kenapa Kita Masih Takut Balik ke DPRD?

Januari 5, 2026
Opini

The Enforcer: Mengapa Publik Semakin Menaruh Kepercayaan pada Langkah Taktis Dasco?

Januari 1, 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERKINI

Eks PB HMI Silaturahmi ke Dandim, Apresiasi Peran Kodim Kawal Koperasi Desa Merah Putih

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

TERPOPULER

Eks PB HMI Silaturahmi ke Dandim, Apresiasi Peran Kodim Kawal Koperasi Desa Merah Putih

Menjaga Marwah Ibadah: Pemuda Muslimin Jakarta Utara mendukung usulan Kemenimipas Percepatan Satgas Haji Non-Prosedural

Antusiasme Publik Tinggi, Satgas Haji Polri Diminta Tanpa Ampun Sikat Travel Nakal dan Visa Palsu

Optimisme Pengelolaan Sampah: JAMMA Dukung Transformasi Hilirisasi Gubernur Pramono

Merajut Kembali Persaudaraan Bangsa: Mengapa Dialog Lebih Utama dalam Kasus Jusuf Kalla?

Musyawarah Pimpinan Kecamatan Golkar Purwoharjo Perkuat Konsolidasi dan Arah Strategi Pemenangan

  • About
  • Redaksi
  • Marketing & Advertising
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Email
  • Login
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • POLHUM
  • EKONOMI
  • VIDEO
  • ENTERTAINMENT
  • LUAR NEGERI
  • LIPUTAN DISKUSI
  • LIFESTYLE
  • RESENSI
  • SPORT
  • OPINI
  • INDEKS

Indonesia Visioner - All Rights Reserved