
Oleh Hasanuddin
Kalangan arif berkata: “kehidupan dunia, terdiri atas tiga hari. Hari lemarin, hari ini dan hari esok”. Hari kemarin telah berlalu dan tidak mungkin lagi diharapkan untuk kembali, hari esok belum tentu kita dapati, karena bisa jadi hari ini kita meninggal. Dan oleh sebab itu, kesempatan yang tersedia hanya hari ini.
Rumus memahami waktu itu sekiranya dipahami dengan baik, maka tentu setiap orang akan berbuat maksimal apa dapat mereka lakukan hari ini. Tidak lagi berpikir bagaimana mengembalikan masa lalu, dan atau berhalusinasi perihal apa yang akan mereka raih di masa depan yang belum pasti.
Memperhatikan wacana para politisi tanah air, nampaknya tidak sedikit yang berpikir untuk kembali ke masa lalu, dengan mengungkit-ungkit era kekuasaan Sukarno. Tentang bagaimana Sukarno mengeluarkan Dekrit kembali kepada UUD 1945. Juga tidak sedikit yang berhalusinasi tentang masa depan yang belum pasti, misalnya mengatakan akan menjadi IKN sebagai tempat penyelenggaraan Olimpiade tahun 2036.
Demokrasi itu bukan halusinasi. Bukan tentang masa lalu, dan bukan tentang masa mendatang. Demokrasi adalah tentang realitas hari ini.
Halusinasi itu berbeda dengan refleksi, pun berbeda dengan prediksi. Refleksi dilakukan berpijak pada realitas hari ini, untuk melakukan apa yang bisa dilakukan pada hari ini. Demikian pula halnya dengan prediksi. Prediksi dilakukan berdasarkan data-data yang tersedia hari ini, untuk kemudian melakukan apa yang mesti dilakukan hari ini. Dengan mengetahui kedua keadaan tersebut lalu dikalkulasi dan menghasilkan sebuah proyeksi.
Halusinasi adalah pekerjaan iblis, yang jauh dari kebenaran. Karena jauh dari kebenaran sehingga di sebut “syathata” (artinya sangat jauh) atau al-syaithon artinya “yang sempurna kejauhannya” (dari kebenaran).
Politik demokrasi sebab itu bukan poltik halusinasi, bukan tentang sesuatu yang tidak pasti. Bukan tentang sesuatu yang jauh dari kebenaran.
Betapa pun situasi demokrasi yang sedang berlangsung hari ini, ditemukan berbagai kekurangan-kekurangan dalam pelaksanaannya, bukan alasan untuk membawa kita berhalusinasi. Kita tetap mesti berpikir mengambil solusi berdasarkan realitas hari ini.
Data yang mesti kita miliki, adalah data aktual yang tersedia hari ini, saat ini. Itulah yang paling mendekati kebenaran. Dikatakan “mendekati” kebenaran karena mustahil mengumpulkan semua data hari ini. Sebab itu, sedekat-dekatnya dengan realitas kebenaran, ditentukan seberapa banyak data yang terkumpul untuk dianalisis, di telaah, di rangkai untuk mendukung pengambilan keputusan. Keputusan di ambil oleh akal dengan mempertimbangkan ketersediaan data-data. Lalu akal berkonsultasi kepada hati, karena nurani atau kata hati mampu mengetahui keadaan data yang telah disajikan oleh akal. Hati memberikan kemantapan atau ketidakmantapan atas sebuh data.
Dan orang yang beriman, tidak akan melangkah mengambil tindakan sebelum yakin bahwa niatnya telah benar.
Meningkatkan kualitas berdemokrasi dengan demikian memerlukan manusia yang berakal, serta memiliki hati nurani. Hati dikatakan hidup jika diterangi cahaya kebenaran. Maka disebut “nurani” (Nur atau Cahaya). Hati nurani dengan demikian adalah hati yang bercahaya. Hati yang tidak bercahaya, adalah hati yang mati. Hati yang mati tidak bisa diharapkan bekerja. Dan oleh karena itu demokrasi mestilah dijalankan oleh para pelaku demokrasi yang memiliki hati nurani. Di tangan merekalah, kualitas demokrasi itu akan meningkat, dan sebaliknya kualitas demokrasi mengalami penurunan, karena di jalankan oleh manusia yang hatinya sudah mati. Tidak bisa membedakan baik dan buruk, benar dan salah, etis atau tidak etis. Mereka berjalan seperti sombie dalam kegelapan hati yang tidak lagi bercahaya.
Semoga bangsa Indonesia diterangi oleh semakin banyaknya politisi yang hatinya masih hidup. Dan dijauhkan dari para politisi sombie yang mengajak kepada kegelapan.

